An Old Q: Is Any Job Better than No Job?

‘Normal’ discussion topics among last-year undergraduate or graduate students would be ‘have you applied to jobs?’ and/or ‘have you been accepted for a job?’. I assume that those who got a job before finishing their study would be having certain higher level of pride than those who still look for, or even don’t have any plan yet. To reach this kind of pride, I suppose, many graduates might consider to take any job they were offered. Although some reasons would also determine this decision, such as a financial condition as he/she might have to earn some money for living or for supporting his/her family. But, this old question remains: is any job better than no job?

Last week, I attended a discussion from Work and Equality Institute in Manchester, entitled “Work, Health, and Stress: Some Observations”. Prof. Tarani Chandola, a professor of medical sociology from the University of Manchester shared some perspectives of his research and thoughts on how job and stress can relate each other. It is interesting to know that based on medical data that he collected (in civil service): the lower the grade of the job, the higher its job mortality. It’s indeed because of several factors such as financial, relationship stress (with bureaucracy), etc. Yet, that data actually shows ‘the myth of executive stress’. It is argued that stress of the executives is only being perceived, but not ‘as bad as’ it is on medical data.

Good Job or Bad Job?

Another finding from the session was that people with ‘bad jobs’ increase their happiness some years before retirement; but those in ‘good job’ remain no significant differences. However, it is actually contradicting with an argument that ‘retirement is beneficial, but only for those in the top / good grades (jobs)’. Those with bad jobs might face another ‘episode’ of stress after that short-term happiness, as the might not have an enough pension/fund for living and since they would be ‘unemployed’ again.

Somebody said that, ‘the worst work status for health is unemployment’. But, is it true that any job is better than no job? Well, from the medical measurement as what Prof. Tarani did above, it might not be entirely true. Some people might be ‘healthier’ with no job rather than doing ‘bad job’. The term bad job here could be assumed as job with under/minimum pay, job with bad relations with managers, etc; and I guess you might have some definitions on what good or bad jobs for you based on your interest, skills, passion, and other dimensions.

It is important then, for me and my fellow graduate students, to really think about jobs to do after finishing our study. Again, some factors might determine or even push us to some decisions in taking a job; but whatever the decision is – make sure that we’re being mindful and consciously know the consequences. Some organisations or companies might try to help its employees to reduce stress at work by assigning a Chief Happiness Officer or some ‘fun internal events’; but it might be useless if we have a ‘bad job’ (structurally or emotionally). Good luck for (y)our career journey!

@yosea_kurnianto

Advertisements

Giliranmu Pakai Hastag #MyCheveningJourney: Daftar Sebelum 7 November 2017!

Ah akhirnya sempat nulis lagi! Beberapa waktu terakhir rekan-rekan mengirim WA, FB message, DM Instagram dan Linkedin untuk tanya-tanya soal proses beasiswa Chevening. Beasiswa Chevening ini setahun ke depan sponsori aku untuk kuliah S2 di Manchester Business School – The University of Manchester ambil jurusan MSc Human Resources Management and Industrial Relations. Selain prestigious, beasiswa Chevening ini menawarkan jaringan alumni tingkat global yang isinya memang orang-orang yang menarik.

Oya, aku ketemu banyak orang Indonesia yang beruntung ga perlu ini itu buat dapat beasiswa, karena kondisi finansial keluarga yang memungkinkan. Buat yang memang membutuhkan beasiswa, terus semangat berusaha yah, semoga tulisan ini kasih sedikit gambaran proses dari beasiswa the Chevening Awards!

Receiving the certificate of #ChosenForChevening in UK Embassy Jakarta

Dulu banget aku ga berani daftar beasiswa Chevening karena kupikir ini untuk orang-orang yang memang punya profil beken dan keren, tapi akhirnya aku coba beranikan diri. Syarat paling utama sebenarnya adalah udah lulus S1 dan punya pengalaman kerja minimal 2 tahun. Nah berhenti di sini dulu. Soalnya ada pengalaman udah cerita panjang lebar, tapi lawan bicaraku tanya: Beasiswa Chevening itu apa sih? Dhuaar. Hehehe..

Beasiswa Chevening atau biasa disebut ‘The Chevening Awards’ ini adalah beasiswa S2 dari pemerintah Inggris Raya (UK) yang ditujukan untuk mengembangkan global leaders. Beasiswa ini ada sejak tahun 1983, dibiayai oleh Foreign and Commonwealth Office (FCO) dan beberapa organisasi partnernya. Jadi kamu bisa kuliah S2 selama 1 tahun di universitas mana saja yang kamu mau (dan diterima :p) di Inggris Raya. Pengalaman 1 tahun ini diharapkan kasih kamu kesempatan untuk mengembangkan diri secara akademik dan professional, memperluas jejaring, dan mengalami sendiri budaya di Inggris Raya. Monggo kalau mau dibaca lebih seksama di laman INI.

Nah, lanjut yah. Proses pendaftaran Chevening dilakukan secara online dimulai dari laman INI. Super duper gampang, tinggal isi dan klik (plus mikir juga jangan lupa :p).

Apa sih yang biasanya jadi kegundahan saat daftar? Mungkin beberapa list di bawah ini membantu:

  1. Pilih jurusan dan kampus

Beberapa pertanyaan terkait pilih jurusan dan kampus untuk beasiswa Chevening mewarnai percakapanku belakangan waktu. Memang kita boleh belajar S2 apapun yang kita suka untuk daftar beasiswa ini, tapi akan jauh lebih meyakinkan kalau jurusan yang diambil ada kaitannya dengan pekerjaan saat ini atau aspirasi pencapaian di masa yang akan datang.

Jangan sampai kita ambil jurusan dan kampus yang hanya terdengar keren, tapi ga ada hubungannya dengan ‘diri kita’. Coba cek juga fokus kerjasama pemerintah Inggris dengan Indonesia di tahun berjalan saat kamu mendaftar beasiswa Chevening di laman ini. Saat mendaftar, kamu diminta untuk masukkan 3 pilihan jurusan dan kampus berdasarkan prioritas. Jangan khawatir juga, kalau nanti masuk interview, akan dikonfirmasi lagi apakah pilihan jurusan dan kampus masih sama dengan awal daftar atau mau diganti urutan (atau bahkan ganti jurusan dan kampus). Kalau saat mendaftar (atau periode sebelum pengumuman) kamu udah dapat Letter of Acceptance (LoA) dari kampus, kamu bisa upload di profil pendaftaranmu. LoA ini wajib diterima secretariat Chevening saat konfirmasi akhir kalau kamu dinyatakan berhak menerima beasiswa.

  1. Pengalaman Kerja

Soal pengalaman kerja, syarat yang ditulis adalah 2 tahun. Tapi saat mengisi nanti biasanya kamu juga bisa hitung jam volunteer atau magang. Akan sangat baik kalau setiap apa yang kamu kerjakan sejalan dengan jurusan yang kamu ambil. Meski tak jarang juga beberapa teman bisa meyakinkan bahwa jurusan yang diambil tidak (sepenuhnya) senada dengan pekerjaan, tapi lebih sesuai dengan aspirasi ke depan. Kasus semacam ini mungkin jarang, tapi bukan tidak mungkin terjadi. Tugasmu nanti meyakinkan panel saat interview.

  1. Menjawab Beberapa Pertanyaan (Penulisan Essay)

Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab untuk menyelesaikan pendaftaran beasiswa Chevening ini. Pertanyaan biasanya seputar pengalaman pekerjaan dan leadership serta aspirasi (karir) masa depan dan kaitannya dengan jurusan yang diambil (detail pertanyaan silakan dilihat di aplikasi, bisa jadi ada perubahan). Ada rekan mengirimkan WhatsApp dan bertanya apakah harus menggunakan seluruh ‘jatah’ huruf untuk menulis jawaban pertanyaan (sekitar 300 kata). Sederhananya, menurutku kalau kita bisa maksimalkan, lebih baik maksimalkan, agar pesan yang kita sampaikan dapat tergambar dengan jelas. Tapi kalau cukup percaya diri dengan sedikit kata-kata, tidak masalah juga J Jawaban ini perlu ditulis dengan jujur karena akan banyak dikonfirmasi saat interview nanti apabila lolos tahap administrasi.

  1. Proses Menunggu 1

Kalau udah klik submit application, kita akan menunggu sekitar 4 bulan untuk mendapatkan konfirmasi/undangan untuk interview. Bagi yang lolos untuk interview, nanti akan mendapatkan email undangan dan link untuk memilih jam interview (biasanya tersedia beberapa slot). Penting untuk segera memilih slot interview sesuai jam yang diinginkan, kalau tidak, nanti sudah diambil yang lain dan kita ga punya banyak pilihan.

  1. Interview

Woah, ini nih yang bikin jantung dagdigdug 😀 – seingatku kemarin aku bener-bener persiapan untuk interview Chevening. Mulai dari tanya-tanya alumni, ngopi bareng Chevener tahun sebelumnya untuk dapat insight dan gambaran pertanyaan, bikin list ‘possible questions’ plus coba jawab sendiri, baca-baca berita soal UK dan Indonesia (terutama yang berkaitan dengan jurusan yang aku tuju), dan banyak doa. Hahaha. Sempat dengar kalau saat interview, biasanya untuk 1 issue/jurusan hanya 2-3 orang yang diundang – jadi kalau bukan aku yang terima beasiswa, maka orang sebelum atau setelahku yang dapat. Bukankah rasanya lebih perih kalau ternyata persentase terima/gagalnya lebih besar? Hueheu.

Proses interview biasanya cuma 30 menitan. Datang ke lokasi 15-30 menit sebelum jadwal akan sangat membantu, selain karena ada proses screening dari tim security, perlu juga waktu untuk menenangkan diri dan ngeringin keringat :p

Beberapa pertanyaan interview akan terkait essay yang kita tulis. Untuk detil model pertanyaannya bisa japri nanti kalau sudah dapat undangan interview yah 😀

  1. Proses Menunggu 2

Jangan sedih, abis interview ada proses menunggu lagi kira-kira 3 bulan. Di minggu ke-2 atau ke-3 Juni (timeline bisa saja berubah) akan dapat email kalau dapat beasiswa Chevening. Di proses ini, kamu akan dapat beberapa list dokumen yang harus disubmit untuk mendapatkan Final Award Letter (FAL) yang membuktikan bahwa kamu ‘sah’ mendapatkan beasiswa. Ada beberapa rekan yang kurang beruntung dan akhirnya tidak bisa mendapatkan, biasanya karena IELTS, LoA kampus, atau dokumen kesehatan (scan TBC).

  1. Proses Administrasi Final dan Menunggu 3

Semua dokumen yang dibutuhkan harus disubmit sebelum deadline. Menurutku pribadi dokumen yang dibutuhkan ga ribet. Yang perlu dicatat adalah, beberapa orang ‘ga mau rugi’ untuk test IELTS sebelumnya, jadi pas disuruh ngumpulin baru test. Kadang test center IELTS penuh di tanggal-tanggal itu jadi harus keluar kota (atau keluar negeri), atau akhirnya hasilnya kurang bagus dang a ada waktu buat ngulang test. Meski test IELTS ga harus disubmit saat pendaftaran dokumen di awal (bisa disusul saat dapat konfirmasi tahap akhir), lebih baik mulai test IELTS segera, itung-itung sebagai investasi karena cukup berguna untuk beberapa kebutuhan lainnya juga.

Proses menunggu untuk tiap tahap, Final Award Letter, Visa, dan tiket pesawat biasanya cukup membuat gundah. Penting banget di awal ini untuk paham bahwa kita harus bersabar dan percaya dengan tim Chevening dan Kedutaan Inggris di Jakarta, semuanya akan baik-baik saja.

Pendaftaran Beasiswa The Chevening Awards untuk tahun 2018/2019 sudah dibuka dan akan tutup tanggal 7 November 2017. Pendaftar tahun lalu se Indonesia ada sekitar 4400an (secara global ada 50.000an orang) dan dari Indonesia yang dapat ada sekitar 63 orang.

Starting #MyCheveningJourney in the University of Manchester

Alhasil, selamat untuk nanti yang dapat kesempatan menggunakaxn hastag #MyCheveningJourney di tahun depan. Buat yang belum dapat kesempatan, bisa jadi tahun depan atau mungkin bisa coba beasiswa/kesempatan lainnya. Selamat berusaha!

@yosea_kurnianto

Problem kaum Millenials: Sabar dulu bro!

Sebuah video talkshow mengenai ‘Problems with Millenials’ dari Simon Sinek  tersebar cukup viral di akhir tahun kemarin-awal tahun ini. Beberapa rekan mengirimkan video tersebut kepadaku karena mereka tahu aku berkecimpung di area HR dan People Development yang tentunya membahas millennials. Meski kadang aku sendiri merasa topik tersebut cukup ‘overrated’ dan kadang digeneralisasi begitu saja. Seperti yang juga banyak orang lakukan setelah melihat video Simon Sinek ini (coba googling yah); orang-orang menulis kritik karena video ini dianggap cukup men-generalisasi suatu kelompok millenials. Anyway, aku menonton video tersebut dan dari banyak bahasan, aku paling tertarik dengan sudut pandang Simon yang menurutku (sebagai bagian dari millennials) ada benarnya juga: Simon membahas bahwa salah satu problem atau challenge generasi millennial adalah soal ‘patient / impatience’ atau kesabaran, terutama kesabaran terkait proses. Oya, kalau mau baca transkrip videonya bisa dari web INI.

Di era perubahan yang begitu cepat, dengan sokongan teknologi informasi dan kecanggihan masa kini, generasi kita sering terlenakan yang membuat sumbu kesabaran memendek. Di salah satu FGD misalnya, aku menangkap harapan millennials soal dunia kerja: beberapa tahun jadi pimpinan dan/atau dapat project dengan tanggung jawab besar. Ditambah dengan model didikan orang tua jaman sekarang yang bermuatan ‘You can be everything you want (if you believe to yourself, etc), patience dan persistence jadi hal yang langka karena adanya gap antara harapan dan ekspektasi (ga semua sistem di mana kita ada sudah mengakomodasi kesabaran super pendek yang dimiliki generasi millennials). Ga heran kalau banyak millennials yang ingin segera jadi pimpinan dan/atau dapat tanggung jawab besar itu pindah dari satu company ke company lain, atau bikin start-up dan bubar segera untuk kemudian bikin start up yang lainnya.

Well, ga bisa dipungkiri, aku juga sering merasa ga sabar dengan beberapa sistem yang ada. Tapi untungnya ada beberapa moment yang membuatku lakukan refleksi/kontemplasi dan berusaha untuk menguasai diri. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses (walau sering gemes dengan proses-proses yang sebenarnya bisa disimplifikasi atau dihilangkan) dan menyadari bahwa kita cuma ‘seucrit’ komponen dari sistem dan semesta yang begitu luas, bisa membantu kita untuk menguasai diri.

Belakangan aku merasa ga sabar dan susah untuk menunggu. Perasaan ini muncul gara-gara aku baru bisa lakukan langkah selanjutnya, kalau langkah yang aku tunggu prosesnya ini beres. Tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ga bisa kita kontrol dimana kita kurang bisa lakukan apa-apa. Akhirnya waktu yang ada aku gunakan untuk mempersiapkan beberapa langkah ke depan seandainya proses ini selesai.

Sabar bro. Ada waktunya 🙂

Nah, kadang proses menunggu ini bikin kita stress, ga produktif, bahkan akhirnya ambil langkah lain yang justru bisa memperburuk situasi. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk belajar menguasai diri saat kita mulai ga sabar, ini pendapat pribadi yah:

  1. Menurutku lagi-lagi kunci penguasaan diri juga ada dalam pikiran. Kalau bisa menguasai pikiran, kita hampir bisa menguasai diri (selain juga harus menguasai hati dan perasaan #eeaa). Makanya kalau pas mulai ga sabar, kadang kita perlu alihrkan pikiran ke hal lain: hobby, project, pekerjaan, usaha, aktivitas social, dll.
  2. Latih diri untuk sadar (conscious dan mindful) kalau hampir semua hal butuh proses, dan salah satu komponen utama dari proses adalah waktu. Sebagai bagian dari proses, kita perlu menghormati komponen lain yang mungkin belum sejalan dengan keinginan atau harapan kita.
  3. Terkait poin nomor 1, penting banget buat millennials yang punya energi lebih untuk menyalurkannya dengan tepat; jangan sampai cuma kuliah-pulang atau kerja-pulang dan bengong cuma nungguin satu hal. Usahakan pikiran dan energy kita ter-occupied dengan hal-hal lain selain ‘yang kita tunggu’ itu.
  4. Punya teman, coach, dan mentor buat sharing dan menyampaikan keluh kesah juga cukup penting untuk mengelola kesabaran kita. Masukan dari teman atau nasihat dari mentor akan membantu kita mengatur pola pikir dan kegundahan saat menunggu.

Bahwa dalam perjalanan hidup kita tetap punya pilihan lain untuk cari jalan yang lebih cepat dan sesuai keinginan kita, boleh jadi ga semua dari kita punya kesempatan untuk menikmati pilihan itu. Kadang-kadang kita dalam posisi yang memang cuma ada sedikit pilihan (antara ya dan tidak, maju atau diam, ambil atau tinggalkan) dan harus menunggu beberapa saat untuk melihat lebih jelas. Kita perlu dengan bijak mengelola diri untuk hal ini. Jadilah millennials yang tetap berambisi dengan idealism dan energy, tapi mampu menguasai diri untuk bersabar dalam proses.

@yosea_kurnianto

Gelisah Penelusuran Tujuan Hidup

Ada beberapa anak muda yang masih dengan gigih berusaha menemukan passionnya. Beberapa yang lain menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup. Dua kelompok anak muda tersebut memiliki tujuan: menemukan passion (kehidupan) dan mempertahakan hidup (penghidupan). Keduanya memiliki dinamika masing-masing yang memiliki kelebihan dan kekurangan di berbagai sisi. Tidak perlu orang menilai orang lain atas apa yang mereka ingin kerjakan dalam kehidupannya. Tetapi manusia, sering tak dapat menahan dirinya untuk menghakimi satu sama lainnya.

Di akhir bulan Mei lalu, aku kembali mendapat undangan untuk sharing di sebuah kampus di Jakarta. Kali ini topik yang diminta adalah mengenai menggali potensi untuk membangun masa depan diri yang lebih baik. Sejujurnya, aku tidak dapat memberikan batasan-batasan yang tegas mengenai apa yang perlu dilakukan anak-anak muda ini untuk membuka peti potensinya; tentu karena setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Namun, paling tidak ada 1 hal esensi yang perlu kita perhatikan untuk mampu menikmati kehidupan ini dengan baik: menemukan tujuan hidup.

Kembali ke pembahasan di awal tadi, soal tujuan hidup. Dalam sebuah jaringan profesional, saya mendapat sebuah figur yang saya sangat setuju, mengenai hubungan passion dan tujuan hidup. Dalam figur tersebut disarankan bahwa menemukan tujuan hidup perlu menjadi pencarian utama dalam perjalanan kehidupan. Passion adalah bagian kecil dari kehidupan yang membuat kehidupan manusia senang dalam kesehariannya. Tetapi tujuan hidup adalah sesuatu yang akan membuat orang merasa dirinya lebih berarti. Semestinya, menemukan passion tidak dijadikan sebuah tujuan hidup; melainkan pelengkap untuk mencapai tujuan tersebut.

Figure

Potensi dalam diri kita bisa dikembangkan sesuai dengan tujuan hidup kita. Orang yang punya tujuan hidup tertentu akan mampu memperlengkapi dirinya dengan kemampuan untuk mencapainya. Proses memperlengkapi diri inilah yang membuat potensi muncul dan berkembang.

Soal tujuan hidup ini, beberapa orang menemukannya dengan mudah karena seperti ditaruh dalam kehidupannya. Beberapa orang lain terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Bebeberapa yang lain, tidak begitu memahami bahwa hidupnya perlu memiliki sebuah tujuan.

Perubahan tujuan hidup menjadi mungkin buat sebagian orang yang terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Ruang dan waktu, serta konteks di mana ia bertumbuh kan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi orang tersebut kemudian mengganti tujuan hidupnya. Mungkin saja tidak akan ada orang yang tahu secara pasti.

Aku sebenarnya merasa bahwa saat ini sedang dalam tahap perjalanan menggali kembali tujuan hidup. Ada beberapa shifting yang cukup significant sehingga aku berpikir bahwa mungkin saja saat ini aku perlu menambahkan perlengkapan-perlengkapan kehidupan lainnya untuk terus menjadi relevan.

2 minggu lalu aku membuka kembali folder lamaku, dan menemukan film berjudul Hugo. Semacam bisikan yang berhembus di telingaku, film ini salah satu scene-nya juga membahas tentang tujuan hidup. Hugo yang masih remaja itu bilang “Setelah ayahku meninggal, aku berpikir dunia ini seperti sebuah mesin yang besar. Kalau kamu tahu, dalam mesin yang kamu buat/beli, tidak akan ada perangkat cadangan. Setiap perangkat yang dipasang memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Begitu pula denganku, aku perlu menemukan fungsi dan tujuan kenapa aku ada di dunia ini”.

Aku setiap hari berpikir, bertanya, dan berusaha menggali kembali tujuan hidupku di masa ini. Aku takut jika ini terlalu lama berjalan, aku hanya akan menjadi seorang manusia dengan fungsi dan tujuan cadangan yang sebenarnya belum perlu ada di dunia ini. Tetapi Hugo dalam film itu mengingatkanku, bahwa cepat atau lambat aku akan menemukan tujuan itu. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik dari apa yang perlu kulakukan saat ini dan menghasilkan yang terbaik dari setiap hal yang diberikan kepadaku.

Aku bersyukur, tujuan hidupku yang dulu membawaku pada kondisi ini, tapi aku selalu challenge, apakah tujuan hidupku sekarang masih relevan dan perlu untuk dicapai. Kiranya ruang dan waktu yang tepat akan segera menyingkapnya, atas kehendak Yang Maha Kuasa.

@yosea_kurnianto

Lembaran Koran Berbalut Harapan

Tepat pada hari pendidikan nasional kemarin, aku duduk di kereta yang membawaku menuju ibukota Jawa Tengah. Dalam perjalanan ini, aku diingatkan sebuah masa dalam hidupku yang cukup unik dan membuatku mengenangnya beberapa saat. Cerita ini berawal ketika seorang petugas kereta membagikan koran nasional secara gratis untuk penumpang di gerbong itu.

“Obat ngantuk, geratis. Silakan ini, obat ngantuk geratis” kata petugas yang memakai seragam sama dengan petugas kebersihan di kereta itu. Aku terima koran tersebut, namun tidak langsung membacanya. Aku masih menikmati musik yang kuputar dari handphoneku sembari menunggu kereta melaju lebih kencang.

Setelah kereta melaju beberapa saat, aku mulai membuka lembaran koran tersebut. Aku membaca halaman pertama, kedua, dan beberapa lembar lainnya. Suasana membuka lembar demi lembar koran tersebut membawaku pada sebuah memori saat aku di tahun terakhir masa SMA-ku. Kala itu aku hampir setiap hari ke perpustakaan sekolah untuk membuka lembaran koran macam ini. Hingga setelah ujian nasional usai, aku setiap pagi terus mengunjungi perpustakaan daerah dimana aku tinggal.

Tidak. Bukan saja karena aku ingin mengetahui informasi-informasi paling baru yang ada di bumi Indonesia atau belahan dunia lainnya, tapi ada hal lain yang mendorongku untuk menelusuri lembaran koran tersebut.

Tahun terakhir di SMA merupakan masa-masa kritis yang membawaku pada titik ini. Pertanyaan dari setiap rekan yang kutemui antara lain, dan ini yang paling kutakuti untuk kujawab, “mau lanjut sekolah di mana?”. Kesibukan teman-teman yang membeli formulir pendaftaran perguruan tinggi, mengikuti les untuk tes masuk perguruan tinggi, hingga bepergian keluar kota untuk mengikuti seleksi, cukup mengintimidasiku. Pernah aku minta uang pada Ibuku untuk membeli formulir sebuah universitas negeri yang cukup murah; Ibuku sampaikan bahwa ada prioritas lain yang perlu dilakukan dengan uang itu. Salah satunya tentu untuk makan sehari-hari. Kondisi itu membuatku berusaha untuk mencari jalan, kemana aku harus pergi setelah lulus SMA nanti.

Membuka lembaran koran setiap hari memberiku harapan akan jalan yang mungkin bisa kutempuh itu. Ada banyak informasi lowongan pekerjaan, program pelatihan, maupun beasiswa yang aku harapkan muncul dalam lembaran koran-koran tersebut. Suasana penuh harap itu menjadi semangat tersendiri untuk aku menjalani hari-hari.

Meski akhirnya aku mendapatkan informasi beasiswa hingga akhirnya mendapatkan kesempatan belajar di Ibukota Indonesia tanpa biaya bukan dari koran, pengalaman itu tak akan terlupakan.

Harapan yang kutenun tiap hari untuk dapat belajar lebih banyak di institusi pendidikan yang lebih tinggi sejauh ini menurutku membuahkan hasil yang baik. Setelah aku mulai belajar di institusi pendidikan tinggi,  pembelajaran dan kesempatan mengalami perubahan kehidupan dari satu titik ke titik lainnya aku dapatkan lebih banyak. Dan aku yakin akan terus berlanjut dan makin besar.

Sejalan dengan hari pendidikan nasional, aku sendiri menjadi saksi bagaimana pendidikan yang baik dapat mengubah kehidupan orang. Proses pendidikan yang kudapatkan juga sebenarnya tidak saja didapat dari sekolah formal, justru beberapa titik penting lain dalam transformasi kehidupan yang aku alami hingga kini, aku dapatkan dari proses pembelajaran di luar gedung sekolah atau kampus.

Selamat hari pendidikan. Mari kita terus menjadi pembelajar seumur hidup. Terus menenun harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik; dan akhirnya mampu untuk menebarkan harapan untuk orang-orang di sekitar kita melalui karya yang kita ciptakan, dalam bentuk apapun.

Harapan itu ada, dan masa depan kita tidak akan pernah hilang.

@yosea_kurnianto