Sowan ke Rumah Mbak Alissa: Mumpung Masih Muda, Benerin Polanya

Minggu lalu aku sempat pulang ke rumah di Temanggung. Di hari pertama aku di kampung halaman, tetiba terpikir untuk sowan ke rumah Mbak Alissa Wahid, putri dari Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4. Akhirnya aku coba kirim WhatsApp dan bertanya apakah beliau sedang berada di rumahnya yang di Jogja. Voila! WhatsAppku dibalas dan kita janjian ketemu di hari Minggu malam. Mbak Alissa Wahid memang salah satu sosok sumber pembelajaranku. Beberapa tahun lalu sempat juga berkunjung ke Sekolah yang didirikan beliau di Jogja, kemudian bertemu beberapa kali dalam berbagai kesempatan. Beruntung sekali aku, karena dalam kesibukan yang luar biasa, Mbak Alissa masih tetap membalas setiap WA-ku dan meluangkan waktu untuk ngobrol dengan remukan rempeyek kacang semacam diriku.

Nah, aku sampai di rumah Mbak Alissa pukul 8 malam. Beberapa perbincangan awal menceritaka aktivitas masing-masing setelah beberapa lama kita tidak bertemu dan berbincang. Banyak hal menarik yang aku tangkap dari cerita Mbak Alissa, mulai dari aktivitas beliau bersama komunitas Gusdurian yang tersebar di seantero-jagad hingga kesibukan beliau dalam Pengurus Besar NU dan program-program edukasi terkait ‘family resilience’ bersama Kementerian Agama. Dari dulu memang Mbak Alissa cukup konsisten di isu-isu yang digemari dan menjadi perhatiannya, paling tidak yang paling terasa adalah kebhinnekaan (keberagaman / diversity / religious pluralism) dan psychology keluarga (dan anak).

Kekonsistenan Mbak Alissa merebut perhatian saya malam itu. Maksudnya, saya yakin Mbak Alissa dapat banyak sekali tawaran untuk kerjain project A,B,Z – atau ikut di ajang politik sebagai pejabat A,B,Z. Pertanyaan saya di malam itu salah satunya: dari sekian banyak kesempatan itu, bagaimana Mbak Alissa memilih A dan B kemudian menolak C dan D? Apa yang menjadi parameter atau indikator sebuah kesempatan layak kita ‘jajal’ atau kita hindari?

Mbak Alissa bercerita bagaimana beliau tiap tahun membuat peta diri (self map), persis yang selama ini saya sudah coba lakukan juga. Beliau menunjukkan beberapa peta diri yang dibuat tahun lalu, untuk kemudian dapat memetakan peran dan prioritas untuk tahun berjalan. Prioritas tahun berjalan ini selalu harus harmoni dengan tujuan jangka panjang serta tujuan besar dalam perjalanan hidup. Penentuan tujuan-tujuan ini harus menjadi sebuah pola, agar kita secara sadar dapat mengelola diri untuk melangkah pada titik-titik yang penting dan perlu.

Selanjutnya, Mbak Alissa menerangkan bagaimana observasi beliau pada 2 tipe orang yang berbeda: principal based dan power based. Orang-orang yang menganut ‘principal based’, maka apapun yang dia kerjakan (termasuk menerima tawaran / kesempatan) akan menjadi kepuasan aktualisasi diri karena sesuai dengan prinsip-prinsip hidupnya, dalam hal ini sejalan dengan prinsip universal: kebaikan dan harmoni. Sebaliknya, mereka yang dalam jalur ‘power based’ akan melakukan apa saja (termasuk menerima atau mengusahakan tawaran / kesempatan) supaya dia menjadi ‘center of power’ dalam system di mana dia berada. Orang-orang dengan jalur ‘power based’ ini banyak sekali kita lihat dalam pemberitaan, self-centric dan mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri tanpa mengindahkan hukum.

Aku pamit pulang saat jam menunjukkan hampir pukul 10 malam. Menjadi perenunganku secara pribadi ketika perjalanan pulang dari rumah Mbak Alissa: seberapa jauh aku sudah mengenal diriku, mengelola prioritas dan mengatur waktu, membangun prinsip-prinsip hidup yang memberi dampak positif untuk orang di sekitarku, serta selalu berusaha memberikan nilai tambah untuk system di mana aku berada. Obrolan ini cukup mengingatkanku untuk kembali menilik pola; baik pola pikir dan pola hidup. Pola yang baik akan menghasilkan kepribadian dan karakter yang baik, sehingga kita mampu menjadi manusia bermanfaat, bukan malah menjadi batu sandungan.

Have a nice weekend!

@yosea_kurnianto

Advertisements

Problem kaum Millenials: Sabar dulu bro!

Sebuah video talkshow mengenai ‘Problems with Millenials’ dari Simon Sinek  tersebar cukup viral di akhir tahun kemarin-awal tahun ini. Beberapa rekan mengirimkan video tersebut kepadaku karena mereka tahu aku berkecimpung di area HR dan People Development yang tentunya membahas millennials. Meski kadang aku sendiri merasa topik tersebut cukup ‘overrated’ dan kadang digeneralisasi begitu saja. Seperti yang juga banyak orang lakukan setelah melihat video Simon Sinek ini (coba googling yah); orang-orang menulis kritik karena video ini dianggap cukup men-generalisasi suatu kelompok millenials. Anyway, aku menonton video tersebut dan dari banyak bahasan, aku paling tertarik dengan sudut pandang Simon yang menurutku (sebagai bagian dari millennials) ada benarnya juga: Simon membahas bahwa salah satu problem atau challenge generasi millennial adalah soal ‘patient / impatience’ atau kesabaran, terutama kesabaran terkait proses. Oya, kalau mau baca transkrip videonya bisa dari web INI.

Di era perubahan yang begitu cepat, dengan sokongan teknologi informasi dan kecanggihan masa kini, generasi kita sering terlenakan yang membuat sumbu kesabaran memendek. Di salah satu FGD misalnya, aku menangkap harapan millennials soal dunia kerja: beberapa tahun jadi pimpinan dan/atau dapat project dengan tanggung jawab besar. Ditambah dengan model didikan orang tua jaman sekarang yang bermuatan ‘You can be everything you want (if you believe to yourself, etc), patience dan persistence jadi hal yang langka karena adanya gap antara harapan dan ekspektasi (ga semua sistem di mana kita ada sudah mengakomodasi kesabaran super pendek yang dimiliki generasi millennials). Ga heran kalau banyak millennials yang ingin segera jadi pimpinan dan/atau dapat tanggung jawab besar itu pindah dari satu company ke company lain, atau bikin start-up dan bubar segera untuk kemudian bikin start up yang lainnya.

Well, ga bisa dipungkiri, aku juga sering merasa ga sabar dengan beberapa sistem yang ada. Tapi untungnya ada beberapa moment yang membuatku lakukan refleksi/kontemplasi dan berusaha untuk menguasai diri. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses (walau sering gemes dengan proses-proses yang sebenarnya bisa disimplifikasi atau dihilangkan) dan menyadari bahwa kita cuma ‘seucrit’ komponen dari sistem dan semesta yang begitu luas, bisa membantu kita untuk menguasai diri.

Belakangan aku merasa ga sabar dan susah untuk menunggu. Perasaan ini muncul gara-gara aku baru bisa lakukan langkah selanjutnya, kalau langkah yang aku tunggu prosesnya ini beres. Tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ga bisa kita kontrol dimana kita kurang bisa lakukan apa-apa. Akhirnya waktu yang ada aku gunakan untuk mempersiapkan beberapa langkah ke depan seandainya proses ini selesai.

Sabar bro. Ada waktunya 🙂

Nah, kadang proses menunggu ini bikin kita stress, ga produktif, bahkan akhirnya ambil langkah lain yang justru bisa memperburuk situasi. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk belajar menguasai diri saat kita mulai ga sabar, ini pendapat pribadi yah:

  1. Menurutku lagi-lagi kunci penguasaan diri juga ada dalam pikiran. Kalau bisa menguasai pikiran, kita hampir bisa menguasai diri (selain juga harus menguasai hati dan perasaan #eeaa). Makanya kalau pas mulai ga sabar, kadang kita perlu alihrkan pikiran ke hal lain: hobby, project, pekerjaan, usaha, aktivitas social, dll.
  2. Latih diri untuk sadar (conscious dan mindful) kalau hampir semua hal butuh proses, dan salah satu komponen utama dari proses adalah waktu. Sebagai bagian dari proses, kita perlu menghormati komponen lain yang mungkin belum sejalan dengan keinginan atau harapan kita.
  3. Terkait poin nomor 1, penting banget buat millennials yang punya energi lebih untuk menyalurkannya dengan tepat; jangan sampai cuma kuliah-pulang atau kerja-pulang dan bengong cuma nungguin satu hal. Usahakan pikiran dan energy kita ter-occupied dengan hal-hal lain selain ‘yang kita tunggu’ itu.
  4. Punya teman, coach, dan mentor buat sharing dan menyampaikan keluh kesah juga cukup penting untuk mengelola kesabaran kita. Masukan dari teman atau nasihat dari mentor akan membantu kita mengatur pola pikir dan kegundahan saat menunggu.

Bahwa dalam perjalanan hidup kita tetap punya pilihan lain untuk cari jalan yang lebih cepat dan sesuai keinginan kita, boleh jadi ga semua dari kita punya kesempatan untuk menikmati pilihan itu. Kadang-kadang kita dalam posisi yang memang cuma ada sedikit pilihan (antara ya dan tidak, maju atau diam, ambil atau tinggalkan) dan harus menunggu beberapa saat untuk melihat lebih jelas. Kita perlu dengan bijak mengelola diri untuk hal ini. Jadilah millennials yang tetap berambisi dengan idealism dan energy, tapi mampu menguasai diri untuk bersabar dalam proses.

@yosea_kurnianto

Dalam Perjalanan Karir: Jujur Sama Diri Sendiri

Sabtu siang ini kembai ke daerah Tebet. Sebuah lokasi yang dulu sering saya kunjungi untuk membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar mencari dan mengeksplorasi informasi di dunia maya. Saya meneruskan membaca sebuah buku lama terbitan tahun 2005, berjudul Winning, tulisan Jack Welch (ex-CEO GE) yang dipinjami salah satu leader saya (yang semestinya harus saya kembalikan sejak lama, maaf ya Pak :D). Saya membacanya secara acak, berdasarkan beberapa judul sub-bab yang saya pilih saja. Menariknya, secara tak sengaja, bab-bab ini menjadi saling terkait (meski tak berurutan) dan menjadi sangat relevan dengan nasihat-nasihat yang saya tangkap di hari-hari belakangan.

winning-jack-welch

pict: usatoday30.usatoday.com

Saya akan buka rangkaian paragraf ini dengan cuplikan tulisan Jack yang ia masukkan dalam bab ’Candor – the Biggest Dirty Little Secret in Business’. Menurutnya, banyak orang (dan bisnis/organisasi yang dijalankan) akhirnya tidak berkembang karena lack of candor. Ia membahas lack of candor sebagai:

Now, when I say ‘lack of candor’ here, I am not talking about malevolent dishonesty. I am talking about how too many people – too often – instinctively don’t express themselves with frankness. They don’t communicate straighforwardly or put forth ideas looking to stimulate real debate. They just don’t open up. Instead they withhold comments or criticism. They keep their mouths shut in order to make people feel better or to avoid conflict, and they sugarcoat bad news in order to maintain appearances. They keep things, hoarding information. That’s all lack of candor; and it’s absolutely damaging.

Yang saya tangkap secara sederhana (tentu karena kapasitas otak saya juga sederhana :D), Jack percaya bahwa bersikap jujur / mengatakan yang sebenarnya, akan sangat membantu orang/organisasi/bisnis untuk mampu melakukan pembenahan berkelanjutan. Namun, memang banyak orang takut memberi atau enggan menerima feedback; atau lebih suka feedback yang menentramkan. Padahal, tujuan feedback semestinya adalah untuk proses pembelajaran dan pembenahan baik individu maupun organisasi.

Saya tidak akan membahas mengenai kejujuran dalam kaitan dengan (performance) feedback seperti yang Jack bahas. Saya lebih ingin membahas konteks candor ini dengan proses membangun karir yang dilakukan individu. Saya menarik konteks candor ini ke isu membangun karir, karena memang beberapa waktu terakhir saya sedang cukup instensif meminta dan mendengar nasihat dari banyak leaders mengenai hal ini.

Beberapa orang memang bilang, saya berada pada usia yang istilah mainstream-nya menyebut ‘quarter life crisis’ yang sering ‘questioning life-goals’; tapi beberapa leaders lain juga menyebut bahwa ‘quarter life crisis’ itu cuma ‘b*llsh*t’ karena crisis akan banyak dialami dalam perjalanan hidup manusia. Anyway, beranjak dari itu (malah curhat banget :D), saya menarik benang merah dari semua nasihat dan masukan dari leaders yang saya terima di bawah ini:

Awal mulanya, saya meminta waktu untuk kenalan, ngobrol, dan mentoring dari seorang HR Head dari sebuah perusahaan multinasional. Kita bertemu di bilangan Jakarta Selatan. Pertanyaan saya seputar pandangan-pandangan beliau mengenai bagaimana generasi saat ini dalam dunia industri; yang akhirnya berlanjut pada banyak obrolan pribadi. Mengakhiri sesi tersebut, yang saya tangkap juga dari berbalas pesan paska pertemuan, perkataan beliau cukup tertancap, ‘you have to be honest to yourself’.

Sore lainnya saya bertemu dan mendapat sesi mentoring dari seorang CEO perusahaan multinasional juga. Leader yang satu ini cukup unik; setelah lulus dia bekerja di sebuah perusahaan lokal, pernah punya usaha sambil dia kuliah S2, hingga kemudian direkrut dan melakukan perjalanan hidupnya di perusahaan tempat ia memimpin sekarang. Panjang lebar diskusi, saya pulang dengan salah satu pesan yang terngiang di kepala, ‘Find something that really shows who you are, be honest; decisions somehow need to be done and face the trade-off/consequences’.

Beberapa leaders lain juga saya temui. Hingga akhirnya, beberapa minggu lalu saya mendengarkan sesi dari seorang Menteri Koordinator yang menjabat saat ini. Saya diundang untuk menjadi salah seorang fasilitator untuk sebuah sesi program leadership yang diadakan oleh sebuah multinational business consulting firm. Sesi setelahnya adalah sesi dari MenKo ini, sehingga saya tinggal sebentar untuk mendengarkan beliau. Ia bercerita mengenai perjalanan karirnya sebelum menjadi MenKo. Terlepas dari lingkaran-lingkaran politik yang ia juga miliki, saya melihat bagaimana sosok MenKo ini memang berprestasi dan termasuk salah seorang ‘winner’ di areanya. Mengejutkan, di akhir sesinya, Ia juga memberikan pesan ‘Jujurlah dengan dirimu sendiri; mana yang kamu mampu – mana yang tidak, mana yang harus lebih giat belajar, mana yang memang bukan talenta kamu, tapi kamu perlu berusaha sampai batas maksimal.’

Sepulang dari sesi tersebut, saya baru sadar bahwa beberapa bulan terakhir, saya menjumpai cukup banyak orang berpengaruh yang memberikan nasihat yang sama: jujur sama dirimu sendiri.

candor 2

Jujur sama diri sendiri merupakan sebuah proses 🙂 (pict: http://www.yatzer.com)

Dalam perjalanan karir, akan ada beberapa pekerjaan yang bisa kita kerjakan. Saya setuju dengan tulisan om Rene dalam bukunya ‘your job is not your career’; sebuah karir bisa saja terdiri dari beberapa pekerjaan yang berbeda-beda. Nah, dalam rangkaian pekerjaan-pekerjaan inilah saya kemudian diingatkan untuk jujur.

Ada beberapa pekerjaan yang menarik dan asyik, tapi kita menyadari bahwa kompetensi kita mentok dan tidak mampu berkontribusi dengan baik. Ada juga beberapa pekerjaan yang mungkin kompetensinya ada dalam diri kita, tapi merasa tidak nyaman dengan visi perusahaan, sistem organisasi, atau mungkin kolega kerja. Ada beberapa kompetensi yang kita punya dan bisa berkontribusi, tapi perlu ditingkatkan. Ada keinginan atas sebuah pekerjaan, tapi seberapa kuat kita berlatih meningkatkan kompetensi, kita tetap tidak bisa sesuai. Ada pekerjaan yang kita sukai, tapi belum mampu memberikan penghidupan yang cukup untuk mendukung finansial keluarga. Ada pekerjaan yang nyaman secara finansial, tapi tidak sesuai dengan kepercayaan dan nilai kehidupan kita. Nah, Kita perlu jujur dan akhirnya memilih, untuk kebaikan diri sendiri, organisasi, atau mungkin keluarga.

Perlu diingat, meski kita sudah berusaha sejujur-jujurnya; semua ada trade-off nya, sangat sedikit sekali pekerjaan yang mungkin perfect dengan apa yang kita ingin dapatkan. Tapi paling tidak kita punya batasan-batasan atau nilai yang bisa kita atur untuk pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Salah satu contoh batasan atau nilai yang juga menjadi batasan atau nilai saya, saya ambil dari buku Jack ini, dalam sub-bab: ‘The Right Job – Find It and You’ll Never Really Work Again’:

Any new job should feel like a stretch, not a layup. Why? Because stretching, growing, learning – all these activities, keep you engaged and energized. They have the effect of making work more interesting, and they keep your head in the game.

Saya sedang dalam masa berusaha untuk belajar jujur dengan diri sendiri. Meski beberapa hari lalu saya baca sebuah artikel (tapi saya lupa darimana :D) yang mengutip bahwa: selalu jujur bisa saja membuat dirimu jadi ga happy (yang konteksnya beda, tapi mungkin ada benarnya juga – tidak akan saya bahas di sini).

Candor

Jujur sama diri sendiri kadang menyakitkan, tapi perlu untuk berbenah 🙂 (pict: lifeonbright.wordpress.com)

Perjalanan karir saya masih panjang, mungkin saja ada beberapa pekerjaan yang akan saya lakukan dan belum terpikirkan sebelumnya. Selama proses tersebut, saya akan jujur mengenai kompetensi saya, prioritas dan ekspektasi saya, dan juga bagaimana saya melihat kondisi di sekeliling saya. Saya juga dengan rendah hati akan meminta komponen/orang yang ada di sekeliling saya juga untuk jujur/candor mengenai saya dan saling membantu untuk bertumbuh.

@yosea_kurnianto

Bekerja untuk (si)Apa?

Wow! Jadi sejak tahun 2016 baru kali ini nulis blog lagi 😀

Kalau kata Nyai Ontosoroh dan Minke di sebuah percakapan dalam salah satu tetralogi karya Pram: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Jadi saya kemarin sempat cuti beberapa bulan dari pekerjaan untuk keabadian ini #halah.

Anyway, tiba-tiba ingin nulis malam ini karena tadi waktu ibadah Paskah, ada petugas mimbar yang berdoa kira-kira begini: … supaya berkatMu menjadi nyata juga melalui pekerjaan kami. Saat di perjalanan pulang langsung kepikiran ‘Apakah memang selama ini apa yang saya kerjakan sudah menjadi berkat buat perusahaan dan orang-orang disekeliling, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat banyak?’ – Jadi galau. Kemudian tanya lagi dalam pikiran, ‘Sebenarnya kerja buat (si)apa?’. – Makin galau.

Setiap kita tentu punya alasan sendiri dalam melakukan pekerjaan yang kita miliki saat ini. Beberapa orang ada yang merasa punya ‘panggilan’ di area tersebut, beberapa karena ‘kondisi’ yang membuat pilihan makin tipis, beberapa lain mungkin karena ‘harus’ mengerjakan pekerjaan itu. Dalam semuanya itu, orang memiliki dan mencoba membangun makna dari pekerjaannya masing-masing, bagaimanapun bunyi kalimatnya. Bukan ingin membahas makna bekerja secara umum, tapi saat tadi perjalanan pulang saya teringat sebuah percakapan:

Beberapa waktu lalu, seorang Recruiter perusahaan multinasional menghubungi dan mengajak ‘ngobrol’ melalui telepon tersebut. Suara laki-laki yang nampaknya berumur beberapa tahun lebih banyak dari saya memang mengatakan sedang mencari kandidat untuk mengisi beberapa posisi, salah satunya HR. Betul, sejak awal saya bekerja, saya memang berkecimpung di HR. Baru akhir 2015 lalu saya beralihbagian kerja di area Brand Management dan Community Development. Dalam perbincangan tersebut, ada 1 pertanyaan menarik yang menggelitik saya – yang juga ditanyakan kebanyakan orang.

“Mas Yosea” – begitu Kak Recruiter menyapa saya. “Kalau boleh tahu, Mas Yosea ini career goalnya seperti apa ya? Kok kemarin di HR sekarang malah di Maketing (Brand). Kalau saya, contohnya Mas, pengen jadi professional HR dan recruiter, makanya mulai sekarang saya ambil recruiter dan sekitar HR terus.” kira-kira seperti itu pertanyaannya.

5DM36431

Bukan gambar saya yg penting: tapi tulisan di belakangnya 😀 – Try also to love things you never know before.

Jawaban saya sederhana tapi agak njlimet. Sederhana dalam pandangan saya, tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima, jadi perlu mencari bahasa yang nyaman ditangkap orang lain. “Saya mungkin tidak seperti kebanyakan orang yang Mas kenal” kalimat tersebut terlontar untuk memulai penjelasan saya. Memang betul, saya pikir tidak semua orang mau berpindah area pekerjaan karena khawatir akan beberapa hal. “Saya punya tujuan, saya punya minat pada area tertentu (yakni di seputar people & community/organization development), tapi rasa-rasanya yang membuat saya agak berbeda dengan rekan lain adalah saya enggan untuk set dalam x tahun mendatang saya akan bekerja di perusahaan x dan posisi x mengerjakan hal x”. saya lanjutkan ‘pembelaan’ ini.

“Yang saya pegang adalah values dan core principals (beliefs). Mengenai means of implementation dari semuanya itu saya tidak set secara detil. Jadi, apapun yang saya kerjakan, sejauh tidak bertentangan dengan values atau beliefs saya, saya akan belajar banyak dan menikmati pekerjaan saya.” kusampaikan kepada Mas Recruiter mengenai pemikiranku ini. Nah, cerita tentang telepon itu sampai sini saja 😀

Setelah percakapan itu, memang beberapa kali saya berpikir dan menelaah mengapa pertanyaan itu bisa muncul (meski memang akhirnya memaklumi). Paling tidak 3 hal ini yang menjadi pertimbangan saya, bahwa untuk saat-saat ini saya bersedia belajar dalam berbagai area pekerjaan yang masih dalam koridor core values yang saya percayai:

1. Di usia saya, saya merasa perlu belajar banyak hal untuk memahami lebih banyak hal. Tentu tidak semua hal saya bisa pahami. Namun menghadapi dunia yang makin kompleks dan cepat berubah ini, mengetahui dan dapat mengerjakan banyak hal akan sangat membantu saya untuk dapat membantu orang lain. Jadi saya saat ini bekerja sekaligus belajar. Bekerja bukan saja untuk masa ini, tapi untuk masa yang akan datang juga.

2. Banyak nasihat dari mentor yang saya terima, bahwa mungkin saja beberapa pekerjaan yang saat ini ada akan tidak relevan di masa yang akan datang. Demikian juga akan banyak pekerjaan baru yang nantinya ada, tapi sekarang belum tampak. Melihat beberapa area pekerjaan di kala saya masih punya waktu seperti saat ini, tentu akan membantu saya lebih peka terhadap pergeseran-pergeseran area kerja seiring perkembangan jaman. Bukan saja untuk diri saya sendiri, tapi sesuai minat saya dalam people dan community/organization development; apa yang saya amati, alami, dan pelajari bisa saja membantu lebih banyak orang untuk mentransformasi diri untuk terus survive dan berkembang.

3. Saya sadar, tidak semua orang seusia saya punya kesempatan seperti saya. Mungkin hanya beberapa saja yang ‘ditantang’ untuk bereksplorasi di area pekerjaan lain. Hal ini mungkin dianggap beresiko untuk organisasi/perusahaan. Karena kesempatan yang langka ini, maka saya tidak ingin menyia-nyiakan. Belajar di beberapa area pekerjaan lain setahun dua tahun saya rasa tidak akan serta merta merusak tujuan akhir kita. Kalau Om Rene nulis di bukunya, ‘Your Job is not Your Career’. Pekerjaan kita saat ini (atau saat tertentu) tidak (serta merta) menunjukkan bagaimana karir kita ke depan.

Saya mengambil keputusan untuk belajar di area-area pekerjaan lain juga memerlukan untuk mendengar nasihat dari para mentor saya. Sebagai orang awam dan baru bekerja, tentu banyak kekhawatiran, terlebih saya punya semacam tanggungan untuk keluarga saya di kampung halaman. Jangan sampai keputusan saya justru membuat saya ‘tidak bernilai’. Namun sejauh ini, saya menikmati pembelajaran yang ‘mahal’ ini. Banyak hal yang sebelumnya saya tidak begitu paham, saya mulai mengerti dan bisa mengikuti. Siapa tahu, di masa yang akan datang saya mendapat beberapa kepercayaan yang juga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang saya pelajari sekarang; atau gabungan dari apa-apa yang pernah saya jalani.

Ada banyak jalan yang bisa kita pilih untuk bekerja, berkarya, dan berkarir. Tapi dalam semua prosesnya, belajar juga menjadi hal yang esensi. Saya bekerja bukan sekedar untuk kemajuan perusahaan saya, tapi juga untuk kemajuan pribadi saya. Saya bekerja bukan sekedar untuk masa ini, tapi juga untuk masa yang akan datang. Dalam kesibukanmu bekerja, pastikan juga dirimu belajar. Apalagi kamu yang merasa masih muda 🙂

@yosea_kurnianto

Ini 2 Cara kalau Mau Menang dalam Hal Apapun

Banyak di antara kita yang sedari kecil didorong untuk menjadi pemenang; mulai dari ranking di kelas, makan kerupuk di agustusan dan perlombaan lain, serta dalam kehidupan ini. Bagi beberapa orang menjadi pemenang adalah menjadi juara 1 atau sebutan “Terbaik”. Juara 2 dan seterusnya atau sebutan lainnya bukanlah dianggap sebagai pemenang. Beberapa yang lain menjadi pemenang adalah saat mereka berani mencoba, meski akhirnya gagal; mengalahkan rasa takut, atau hal unik lainnya. Mungkin Anda juga perlu mendefinisikan bagaimana dan apa itu menjadi seorang pemenang.

Bagi saya menjadi pemenang dapat berarti beberapa hal. Saya bukanlah seorang yang kompetitif. Namun, jika memang saya perlu menghadapi kompetisi, saya akan berusaha lakukan dengan sebaik mungkin. Selebihnya, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dari diri saya, baik dalam suasana kompetisi maupun tidak. Ahaha, tentu ini adalah hal ideal yang saya percayai. Keseharian saya mungkin berbeda, bahkan saya menyediakan waktu untuk bermalas-malasan. Hanya saja, saya merasa ‘menang’ jika saya merasa bahagia dan belajar banyak atas apa yang telah saya lakukan; atas peringkat/sebutan apapun yang diberikan pada saya.

Anyway, adalah lebih baik jika kita menganggap setiap proses kehidupan adalah pembelajaran. Jika demikian, kita dapat memastikan bahwa kita tidak pernah kalah. Yang kita miliki adalah menang atau belajar banyak hal. Lagi-lagi ini ungkapan ideal. Setiap kita tentu ingin jadi pemenang; bahkan ada istilah lebih dari pemenang 😀

Gimana caranya biar kita bisa menang? Saya bagikan 2 kunci sederhana jadi pemenang yang selama ini saya percayai. Ini baru belakangan tahun saya pegang; refleksi atas kegelisahan selama ini karena kondisi-kondisi yang saya juga baru-baru alami.

indecisive 2 ways

2 ways – pict: capuccino-com-fe.blogspot.com

  1. Jadi Lebih Baik dari yang Lain

Hampir semua kompetisi yang ada di dunia ini memaksa kita untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Kita melakukan hal-hal yang mungkin tidak kita sukai untuk mampu unggul. Saat sekolah misalnya, Anda berusaha untuk bangun lebih pagi atau tidur lebih larut untuk belajar karena ingin mendapat nilai lebih baik dari teman lainnya.

Beberapa orang akhirnya mati-matian untuk menjadi lebih baik dari yang lain; terlebih saat mereka mendapat tekanan dari orang tua, teman-teman, atau pihak tertentu. Tak jarang mereka akhirnya melakukan apa saja untuk meraih hal itu; dari yang baik maupun yang akhirnya mencoreng nama mereka.

  1. Jadi Beda

Beberapa kompetisi mengijinkan kita untuk menjadi beda. Kita dapat mencari celah dari yang mungkin tidak dipikirkan orang kebanyakan atau malas dikerjakan oleh sebagian besar orang. Seperti membangun bisnis misalnya; beberapa orang membuat sesuatu yang unik dan akhirnya menarik perhatian banyak orang. Atau dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang dengan keanehan/keunikan/potensi yang berbeda dengan kebanyakan akan lebih mudah diingat.

Ada sebagian orang yang dikaruniai pikiran dan kemampuan, serta kepercayaan diri untuk menjadi beda. Ah tidak sebagian orang; sebenarnya semua orang. Hanya saja, jumlah manusia yang begitu banyak dan tidak menggali kemampuan dan kepercayaan diri untuk menjadi beda ini akhirnya membuat orang-orang yang berbeda menjadi tampak.

—-

Kita perlu peka terhadap konteks kompetisi yang sedang kita hadapi. Apabila memang kondisi mengijinkan kita untuk menjadi berbeda; jangan takut dan lakukanlah yang terbaik. Namun jika memang kita harus berusaha untuk menjadi lebih baik dari yang lain, teruslah berjuang.

Memang pada akhirnya apa yang kita perjuangkan akan menjadi kesia-siaan buat diri kita. Toh kita akan menutup usia pada suatu hari nanti. Tetapi setiap detik yang kita nikmati saat ini, pergunakanlah itu dengan semaksimal mungkin.

Lagi-lagi saya ingin mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah bukunya, “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran (kompetisi,-red), dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran (kompetisi,-red) mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran(kompetisi,-red) apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”. Mau tidak mau, kita akan terus hadapi kompetisi dalam hidup ini; dalam bentuk apa-pun; dan kita mungkin terus ingin jadi pemenang. Ada masa kita lelah dan takut melangkah, tapi jangan berhenti berjuang. Berusahalah jadi lebih baik, atau jadi beda 🙂

Pada saatnya nanti kita akan selesai berkompetisi, semoga kita dapat mengucapkan apa yang Nyai Ontosoroh ucapkan pada Minke di akhir buku Bumi Manusia, karya Pram, “kita telah melawan (berjuang, -red) Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

@yosea_kurnianto

Cara Mudah Membangun Realita tentang Diri Anda atau Siapa Saja dengan Menarik

Siapa sangka bahwa membangun sebuah realita sebenarnya hanya memerlukan kemampuan yang sebenarnya setiap orang miliki. Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan sampaikan dulu apa yang sebenarnya disebut realita dalam tulisan ini.

Rangkaian tulisan ini merupakan opini semata (hehehe, hampir semua isi blog ini memang tidak ilmiah :D). Tapi dalam hal ini, saya ingin share beberapa pandangan soal realita; terutama mungkin bagi usia muda yang merasa masih punya harapan hidup yang panjang :p

Anyway, saya memaknai realita bukan saja sekedar apa yang benar terjadi dalam ruang dan waktu, serta konteks tertentu. Fakta dan realita bagi saya tidak bisa disamakan begitu saja. Sebuah fakta tentang seseorang dapat juga menjadi realita seseorang, tapi bisa juga tidak. Bagaimana bisa?

Setiap hari kita beraktivitas dalam ruang, waktu, dan konteks yang tidak dialami oleh orang lain. Tentu karena Anda sebagai object yang hanya ada satu di dunia. Fakta tentang Anda, hanya ada 1, dan Anda akan sangat tahu fakta tentang Anda, karena Anda yang membuatnya.

Berbeda dengan realita. Fakta yang anda pikirkan, katakan, atau tuliskan tentang Anda akan menjadi realita hidup Anda. Sesuatu tentang Anda yang dipikirkan, dikatakan, atau dituliskan oleh orang lain dan disampaikan kepada orang lainnya, akan menjadi realita Anda untuk orang lain yang disampaikan bukan oleh Anda. Sehingga, orang-orang lain akan memiliki pemahaman tentang Anda berdasarkan realita yang disampaikan kepadanya.

Anda mungkin memiliki fakta yang sangat menarik dalam kehidupan Anda. Tapi mungkin realita yang dimiliki oleh orang lain tentang Anda tidak semenarik fakta yang Anda alami. Atau sebaliknya, realita yang Anda percayai tentang diri Anda, tidak semenakjubkan fakta yang sebenarnya terjadi. Bagaimana ini bisa terjadi?

Opini saya, realita adalah fakta yang disampaikan dalam sebuah bahasa melalui kata-kata. Apabila Anda ingin membuat realita yang menarik tentang diri Anda, asah kemampuan berbahasa dan berkata-kata Anda baik melalui pikiran, perkataan, atau tulisan. Orang-orang terdekat Anda, mungkin akan memiliki realita tentang Anda yang mendekati fakta, karena mereka melihat atau mengalami sendiri tentang Anda. Tetapi saya percaya, di masa ini, Anda punya kepentingan untuk membangun realita tentang diri Anda bukan hanya kepada orang-orang terdekat saat ini.

reality-illusion

Pict: beyondthedream.co.uk

Media Sosial, perbincangan antar rekan, dan segala bentuk dokumentasi tentang Anda akan membantu membangun realita Anda untuk orang lain. Beberapa di antara kita mungkin kemudian berpikir bahwa kita bisa memanipulasi fakta untuk membangun realita tentang diri kita melalui bahasa dan kata-kata tertentu. Ya, tentu bisa. Namun memang cepat atau lambat, orang-orang yang mungkin awalnya bukan merupaka orang terdekat, akan menjadi orang dekat yang mengetahui fakta tentang Anda.

Orang-orang dengan kemampuan berbahasa atau merangkai kata (words smart) mungkin akan mampu membangun realita tentang dirinya untuk orang lain lebih sesuai dengan keinginannya. Oleh sebab itu, buat Anda yang mungkin punya keinginan untuk membangun sebuah realita tentang diri Anda lebih baik di mata orang lain, lebih banyaklah berkawan dengan bahasa dan kata-kata yang sesuai dengan tujuan anda.

Pencitraan memang adalah sebuah usaha membangun realita tentang diri Anda di mata orang lain. Namun demikian, integritas Anda akan selalu diuji saat Anda menyampaikan realita Anda kepada orang lain. Apabila itu terlalu jauh dari fakta hidup Anda, maka usaha membangun realita positif yang Anda lakukan mungkin akan berbalik arah.

Lakukanlah dengan ketulusan dan rendah hati. Orang akan semakin menyukai realita tentang Anda yang tidak melebih-lebihkan, tidak juga terlalu merendahkan. Memang akhirnya menjadi diri Anda sendiri, sesuai apa yang Anda lakukan dan katakan, Akan membawa fakta dan realita yang menarik tentang diri Anda. Simply karena Anda adalah manusia satu-satunya di dunia yang seperti Anda J

@yosea_kurnianto

Gelisah Penelusuran Tujuan Hidup

Ada beberapa anak muda yang masih dengan gigih berusaha menemukan passionnya. Beberapa yang lain menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup. Dua kelompok anak muda tersebut memiliki tujuan: menemukan passion (kehidupan) dan mempertahakan hidup (penghidupan). Keduanya memiliki dinamika masing-masing yang memiliki kelebihan dan kekurangan di berbagai sisi. Tidak perlu orang menilai orang lain atas apa yang mereka ingin kerjakan dalam kehidupannya. Tetapi manusia, sering tak dapat menahan dirinya untuk menghakimi satu sama lainnya.

Di akhir bulan Mei lalu, aku kembali mendapat undangan untuk sharing di sebuah kampus di Jakarta. Kali ini topik yang diminta adalah mengenai menggali potensi untuk membangun masa depan diri yang lebih baik. Sejujurnya, aku tidak dapat memberikan batasan-batasan yang tegas mengenai apa yang perlu dilakukan anak-anak muda ini untuk membuka peti potensinya; tentu karena setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Namun, paling tidak ada 1 hal esensi yang perlu kita perhatikan untuk mampu menikmati kehidupan ini dengan baik: menemukan tujuan hidup.

Kembali ke pembahasan di awal tadi, soal tujuan hidup. Dalam sebuah jaringan profesional, saya mendapat sebuah figur yang saya sangat setuju, mengenai hubungan passion dan tujuan hidup. Dalam figur tersebut disarankan bahwa menemukan tujuan hidup perlu menjadi pencarian utama dalam perjalanan kehidupan. Passion adalah bagian kecil dari kehidupan yang membuat kehidupan manusia senang dalam kesehariannya. Tetapi tujuan hidup adalah sesuatu yang akan membuat orang merasa dirinya lebih berarti. Semestinya, menemukan passion tidak dijadikan sebuah tujuan hidup; melainkan pelengkap untuk mencapai tujuan tersebut.

Figure

Potensi dalam diri kita bisa dikembangkan sesuai dengan tujuan hidup kita. Orang yang punya tujuan hidup tertentu akan mampu memperlengkapi dirinya dengan kemampuan untuk mencapainya. Proses memperlengkapi diri inilah yang membuat potensi muncul dan berkembang.

Soal tujuan hidup ini, beberapa orang menemukannya dengan mudah karena seperti ditaruh dalam kehidupannya. Beberapa orang lain terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Bebeberapa yang lain, tidak begitu memahami bahwa hidupnya perlu memiliki sebuah tujuan.

Perubahan tujuan hidup menjadi mungkin buat sebagian orang yang terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Ruang dan waktu, serta konteks di mana ia bertumbuh kan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi orang tersebut kemudian mengganti tujuan hidupnya. Mungkin saja tidak akan ada orang yang tahu secara pasti.

Aku sebenarnya merasa bahwa saat ini sedang dalam tahap perjalanan menggali kembali tujuan hidup. Ada beberapa shifting yang cukup significant sehingga aku berpikir bahwa mungkin saja saat ini aku perlu menambahkan perlengkapan-perlengkapan kehidupan lainnya untuk terus menjadi relevan.

2 minggu lalu aku membuka kembali folder lamaku, dan menemukan film berjudul Hugo. Semacam bisikan yang berhembus di telingaku, film ini salah satu scene-nya juga membahas tentang tujuan hidup. Hugo yang masih remaja itu bilang “Setelah ayahku meninggal, aku berpikir dunia ini seperti sebuah mesin yang besar. Kalau kamu tahu, dalam mesin yang kamu buat/beli, tidak akan ada perangkat cadangan. Setiap perangkat yang dipasang memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Begitu pula denganku, aku perlu menemukan fungsi dan tujuan kenapa aku ada di dunia ini”.

Aku setiap hari berpikir, bertanya, dan berusaha menggali kembali tujuan hidupku di masa ini. Aku takut jika ini terlalu lama berjalan, aku hanya akan menjadi seorang manusia dengan fungsi dan tujuan cadangan yang sebenarnya belum perlu ada di dunia ini. Tetapi Hugo dalam film itu mengingatkanku, bahwa cepat atau lambat aku akan menemukan tujuan itu. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik dari apa yang perlu kulakukan saat ini dan menghasilkan yang terbaik dari setiap hal yang diberikan kepadaku.

Aku bersyukur, tujuan hidupku yang dulu membawaku pada kondisi ini, tapi aku selalu challenge, apakah tujuan hidupku sekarang masih relevan dan perlu untuk dicapai. Kiranya ruang dan waktu yang tepat akan segera menyingkapnya, atas kehendak Yang Maha Kuasa.

@yosea_kurnianto