Sowan ke Rumah Mbak Alissa: Mumpung Masih Muda, Benerin Polanya

Minggu lalu aku sempat pulang ke rumah di Temanggung. Di hari pertama aku di kampung halaman, tetiba terpikir untuk sowan ke rumah Mbak Alissa Wahid, putri dari Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4. Akhirnya aku coba kirim WhatsApp dan bertanya apakah beliau sedang berada di rumahnya yang di Jogja. Voila! WhatsAppku dibalas dan kita janjian ketemu di hari Minggu malam. Mbak Alissa Wahid memang salah satu sosok sumber pembelajaranku. Beberapa tahun lalu sempat juga berkunjung ke Sekolah yang didirikan beliau di Jogja, kemudian bertemu beberapa kali dalam berbagai kesempatan. Beruntung sekali aku, karena dalam kesibukan yang luar biasa, Mbak Alissa masih tetap membalas setiap WA-ku dan meluangkan waktu untuk ngobrol dengan remukan rempeyek kacang semacam diriku.

Nah, aku sampai di rumah Mbak Alissa pukul 8 malam. Beberapa perbincangan awal menceritaka aktivitas masing-masing setelah beberapa lama kita tidak bertemu dan berbincang. Banyak hal menarik yang aku tangkap dari cerita Mbak Alissa, mulai dari aktivitas beliau bersama komunitas Gusdurian yang tersebar di seantero-jagad hingga kesibukan beliau dalam Pengurus Besar NU dan program-program edukasi terkait ‘family resilience’ bersama Kementerian Agama. Dari dulu memang Mbak Alissa cukup konsisten di isu-isu yang digemari dan menjadi perhatiannya, paling tidak yang paling terasa adalah kebhinnekaan (keberagaman / diversity / religious pluralism) dan psychology keluarga (dan anak).

Kekonsistenan Mbak Alissa merebut perhatian saya malam itu. Maksudnya, saya yakin Mbak Alissa dapat banyak sekali tawaran untuk kerjain project A,B,Z – atau ikut di ajang politik sebagai pejabat A,B,Z. Pertanyaan saya di malam itu salah satunya: dari sekian banyak kesempatan itu, bagaimana Mbak Alissa memilih A dan B kemudian menolak C dan D? Apa yang menjadi parameter atau indikator sebuah kesempatan layak kita ‘jajal’ atau kita hindari?

Mbak Alissa bercerita bagaimana beliau tiap tahun membuat peta diri (self map), persis yang selama ini saya sudah coba lakukan juga. Beliau menunjukkan beberapa peta diri yang dibuat tahun lalu, untuk kemudian dapat memetakan peran dan prioritas untuk tahun berjalan. Prioritas tahun berjalan ini selalu harus harmoni dengan tujuan jangka panjang serta tujuan besar dalam perjalanan hidup. Penentuan tujuan-tujuan ini harus menjadi sebuah pola, agar kita secara sadar dapat mengelola diri untuk melangkah pada titik-titik yang penting dan perlu.

Selanjutnya, Mbak Alissa menerangkan bagaimana observasi beliau pada 2 tipe orang yang berbeda: principal based dan power based. Orang-orang yang menganut ‘principal based’, maka apapun yang dia kerjakan (termasuk menerima tawaran / kesempatan) akan menjadi kepuasan aktualisasi diri karena sesuai dengan prinsip-prinsip hidupnya, dalam hal ini sejalan dengan prinsip universal: kebaikan dan harmoni. Sebaliknya, mereka yang dalam jalur ‘power based’ akan melakukan apa saja (termasuk menerima atau mengusahakan tawaran / kesempatan) supaya dia menjadi ‘center of power’ dalam system di mana dia berada. Orang-orang dengan jalur ‘power based’ ini banyak sekali kita lihat dalam pemberitaan, self-centric dan mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri tanpa mengindahkan hukum.

Aku pamit pulang saat jam menunjukkan hampir pukul 10 malam. Menjadi perenunganku secara pribadi ketika perjalanan pulang dari rumah Mbak Alissa: seberapa jauh aku sudah mengenal diriku, mengelola prioritas dan mengatur waktu, membangun prinsip-prinsip hidup yang memberi dampak positif untuk orang di sekitarku, serta selalu berusaha memberikan nilai tambah untuk system di mana aku berada. Obrolan ini cukup mengingatkanku untuk kembali menilik pola; baik pola pikir dan pola hidup. Pola yang baik akan menghasilkan kepribadian dan karakter yang baik, sehingga kita mampu menjadi manusia bermanfaat, bukan malah menjadi batu sandungan.

Have a nice weekend!

@yosea_kurnianto

Advertisements

Dalam Perjalanan Karir: Jujur Sama Diri Sendiri

Sabtu siang ini kembai ke daerah Tebet. Sebuah lokasi yang dulu sering saya kunjungi untuk membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar mencari dan mengeksplorasi informasi di dunia maya. Saya meneruskan membaca sebuah buku lama terbitan tahun 2005, berjudul Winning, tulisan Jack Welch (ex-CEO GE) yang dipinjami salah satu leader saya (yang semestinya harus saya kembalikan sejak lama, maaf ya Pak :D). Saya membacanya secara acak, berdasarkan beberapa judul sub-bab yang saya pilih saja. Menariknya, secara tak sengaja, bab-bab ini menjadi saling terkait (meski tak berurutan) dan menjadi sangat relevan dengan nasihat-nasihat yang saya tangkap di hari-hari belakangan.

winning-jack-welch

pict: usatoday30.usatoday.com

Saya akan buka rangkaian paragraf ini dengan cuplikan tulisan Jack yang ia masukkan dalam bab ’Candor – the Biggest Dirty Little Secret in Business’. Menurutnya, banyak orang (dan bisnis/organisasi yang dijalankan) akhirnya tidak berkembang karena lack of candor. Ia membahas lack of candor sebagai:

Now, when I say ‘lack of candor’ here, I am not talking about malevolent dishonesty. I am talking about how too many people – too often – instinctively don’t express themselves with frankness. They don’t communicate straighforwardly or put forth ideas looking to stimulate real debate. They just don’t open up. Instead they withhold comments or criticism. They keep their mouths shut in order to make people feel better or to avoid conflict, and they sugarcoat bad news in order to maintain appearances. They keep things, hoarding information. That’s all lack of candor; and it’s absolutely damaging.

Yang saya tangkap secara sederhana (tentu karena kapasitas otak saya juga sederhana :D), Jack percaya bahwa bersikap jujur / mengatakan yang sebenarnya, akan sangat membantu orang/organisasi/bisnis untuk mampu melakukan pembenahan berkelanjutan. Namun, memang banyak orang takut memberi atau enggan menerima feedback; atau lebih suka feedback yang menentramkan. Padahal, tujuan feedback semestinya adalah untuk proses pembelajaran dan pembenahan baik individu maupun organisasi.

Saya tidak akan membahas mengenai kejujuran dalam kaitan dengan (performance) feedback seperti yang Jack bahas. Saya lebih ingin membahas konteks candor ini dengan proses membangun karir yang dilakukan individu. Saya menarik konteks candor ini ke isu membangun karir, karena memang beberapa waktu terakhir saya sedang cukup instensif meminta dan mendengar nasihat dari banyak leaders mengenai hal ini.

Beberapa orang memang bilang, saya berada pada usia yang istilah mainstream-nya menyebut ‘quarter life crisis’ yang sering ‘questioning life-goals’; tapi beberapa leaders lain juga menyebut bahwa ‘quarter life crisis’ itu cuma ‘b*llsh*t’ karena crisis akan banyak dialami dalam perjalanan hidup manusia. Anyway, beranjak dari itu (malah curhat banget :D), saya menarik benang merah dari semua nasihat dan masukan dari leaders yang saya terima di bawah ini:

Awal mulanya, saya meminta waktu untuk kenalan, ngobrol, dan mentoring dari seorang HR Head dari sebuah perusahaan multinasional. Kita bertemu di bilangan Jakarta Selatan. Pertanyaan saya seputar pandangan-pandangan beliau mengenai bagaimana generasi saat ini dalam dunia industri; yang akhirnya berlanjut pada banyak obrolan pribadi. Mengakhiri sesi tersebut, yang saya tangkap juga dari berbalas pesan paska pertemuan, perkataan beliau cukup tertancap, ‘you have to be honest to yourself’.

Sore lainnya saya bertemu dan mendapat sesi mentoring dari seorang CEO perusahaan multinasional juga. Leader yang satu ini cukup unik; setelah lulus dia bekerja di sebuah perusahaan lokal, pernah punya usaha sambil dia kuliah S2, hingga kemudian direkrut dan melakukan perjalanan hidupnya di perusahaan tempat ia memimpin sekarang. Panjang lebar diskusi, saya pulang dengan salah satu pesan yang terngiang di kepala, ‘Find something that really shows who you are, be honest; decisions somehow need to be done and face the trade-off/consequences’.

Beberapa leaders lain juga saya temui. Hingga akhirnya, beberapa minggu lalu saya mendengarkan sesi dari seorang Menteri Koordinator yang menjabat saat ini. Saya diundang untuk menjadi salah seorang fasilitator untuk sebuah sesi program leadership yang diadakan oleh sebuah multinational business consulting firm. Sesi setelahnya adalah sesi dari MenKo ini, sehingga saya tinggal sebentar untuk mendengarkan beliau. Ia bercerita mengenai perjalanan karirnya sebelum menjadi MenKo. Terlepas dari lingkaran-lingkaran politik yang ia juga miliki, saya melihat bagaimana sosok MenKo ini memang berprestasi dan termasuk salah seorang ‘winner’ di areanya. Mengejutkan, di akhir sesinya, Ia juga memberikan pesan ‘Jujurlah dengan dirimu sendiri; mana yang kamu mampu – mana yang tidak, mana yang harus lebih giat belajar, mana yang memang bukan talenta kamu, tapi kamu perlu berusaha sampai batas maksimal.’

Sepulang dari sesi tersebut, saya baru sadar bahwa beberapa bulan terakhir, saya menjumpai cukup banyak orang berpengaruh yang memberikan nasihat yang sama: jujur sama dirimu sendiri.

candor 2

Jujur sama diri sendiri merupakan sebuah proses 🙂 (pict: http://www.yatzer.com)

Dalam perjalanan karir, akan ada beberapa pekerjaan yang bisa kita kerjakan. Saya setuju dengan tulisan om Rene dalam bukunya ‘your job is not your career’; sebuah karir bisa saja terdiri dari beberapa pekerjaan yang berbeda-beda. Nah, dalam rangkaian pekerjaan-pekerjaan inilah saya kemudian diingatkan untuk jujur.

Ada beberapa pekerjaan yang menarik dan asyik, tapi kita menyadari bahwa kompetensi kita mentok dan tidak mampu berkontribusi dengan baik. Ada juga beberapa pekerjaan yang mungkin kompetensinya ada dalam diri kita, tapi merasa tidak nyaman dengan visi perusahaan, sistem organisasi, atau mungkin kolega kerja. Ada beberapa kompetensi yang kita punya dan bisa berkontribusi, tapi perlu ditingkatkan. Ada keinginan atas sebuah pekerjaan, tapi seberapa kuat kita berlatih meningkatkan kompetensi, kita tetap tidak bisa sesuai. Ada pekerjaan yang kita sukai, tapi belum mampu memberikan penghidupan yang cukup untuk mendukung finansial keluarga. Ada pekerjaan yang nyaman secara finansial, tapi tidak sesuai dengan kepercayaan dan nilai kehidupan kita. Nah, Kita perlu jujur dan akhirnya memilih, untuk kebaikan diri sendiri, organisasi, atau mungkin keluarga.

Perlu diingat, meski kita sudah berusaha sejujur-jujurnya; semua ada trade-off nya, sangat sedikit sekali pekerjaan yang mungkin perfect dengan apa yang kita ingin dapatkan. Tapi paling tidak kita punya batasan-batasan atau nilai yang bisa kita atur untuk pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Salah satu contoh batasan atau nilai yang juga menjadi batasan atau nilai saya, saya ambil dari buku Jack ini, dalam sub-bab: ‘The Right Job – Find It and You’ll Never Really Work Again’:

Any new job should feel like a stretch, not a layup. Why? Because stretching, growing, learning – all these activities, keep you engaged and energized. They have the effect of making work more interesting, and they keep your head in the game.

Saya sedang dalam masa berusaha untuk belajar jujur dengan diri sendiri. Meski beberapa hari lalu saya baca sebuah artikel (tapi saya lupa darimana :D) yang mengutip bahwa: selalu jujur bisa saja membuat dirimu jadi ga happy (yang konteksnya beda, tapi mungkin ada benarnya juga – tidak akan saya bahas di sini).

Candor

Jujur sama diri sendiri kadang menyakitkan, tapi perlu untuk berbenah 🙂 (pict: lifeonbright.wordpress.com)

Perjalanan karir saya masih panjang, mungkin saja ada beberapa pekerjaan yang akan saya lakukan dan belum terpikirkan sebelumnya. Selama proses tersebut, saya akan jujur mengenai kompetensi saya, prioritas dan ekspektasi saya, dan juga bagaimana saya melihat kondisi di sekeliling saya. Saya juga dengan rendah hati akan meminta komponen/orang yang ada di sekeliling saya juga untuk jujur/candor mengenai saya dan saling membantu untuk bertumbuh.

@yosea_kurnianto

Mati Rasa dengan Ketidakpastian

Judul tulisan ini terlalu dramatis ya. Memang layaknya sebuah drama, setiap kita punya peranan masing-masing. Seringkali memang saat kita bermain drama, kita diberi script dan urutan adegan yang sudah dirangkai sedemikian rupa oleh sutradara. Buat sebagian kita yang pernah bermain peran dalam sebuah pentas, mungkin pernah mengalami hal-hal yang diluar dugaan dan akhirnya harus melakukan improvisasi. Lupa teks, listrik padam, properti rusak, rekan main keliru adegan, dan banyak hal lainnya mungkin saja terjadi. Sebagai bagian dari peranan, kita pasti tidak akan tinggal diam. Kita akan berusaha melakukan improvisasi di luar script yang disiapkan untuk membantu pentas tersebut selesai dengan baik.

Dalam kehidupan nyata, kita juga punya semacam script atau rencana hidup yang ingin kita jalani. Rencana hidup tersebut kadang kita buat sendiri atau juga dibangun atas saran-saran beberapa orang di sekitar kita, layaknya sutradara. Saya kira akan ada banyak orang sepakat bahwa nyatanya rencana hidup kita tidak akan selalu sesuai script awal. Beberapa orang cepat kesal dengan perubahan script hidup, beberapa yang lain terus maju dengan terseok, sisanya sudah terbiasa dengan perubahan. Saya sedang terus belajar untuk berkawan dengan perubahan, bahkan mati rasa dengan ketidakpastian.

Satu-satunya yang pasti dalam kehidupan adalah ketidakpastian, begitu kata orang-orang. Saya pun mengamininya. Tidak pernah saya tahu bagaimana masa depan saya, bahkan apa yang akan terjadi beberapa detik lagi. Memang saya bisa membuat rencana dan berusaha melakukannya dengan baik. Tapi segala sesuatu yang akhirnya terjadi, lebih banyak di luar kendali saya.

Uncertainty-of-Life1

Uncertainty of Life (pict: http://www.armetra.com)

Berkawan dengan ketidakpastian memang rasanya tidak nyaman. Kita harus selalu siap dengan informasi, kemampuan, bahkan sumber daya yang mumpuni untuk menghadapi setiap perubahan.

Apa yang bisa saya lakukan untuk mampu menghadapi ketidakpastian dan mematikan rasa kesal atau khawatir yang mengikutinya? Paling tidak 4 hal ini saya terus coba lakukan:

  1. Menanamkan pemahaman bahwa kehidupan merupakan ketidakpastian. Ini membuat saya tidak akan banyak menuntut segala sesuatu harus berjalan seperti rencana dan akhirnya selalu bersiap untuk melakukan improvisasi atau sigap dalam perubahan rencana.
  2. Menambah informasi dasar tentang banyak hal dan membuka pikira secara luas. Kondisi ini akan memampukan kita untuk melihat segala sesuatu secara menyeluruh (komprehensif) dan sistemik. Sehingga kita mampu mengatasi perubahan mulai dari akarnya. Pikiran yang luas membuat kita mampu untuk lebih fleksibel dalam menghadapi banyak tantangan ketidakpastian.
  3. Menambah teman dan jaringan. Perubahan yang selalu terjadi akan memaksa kita untuk punya banyak teman dan jaringan dari berbagai perspektif. Kemampuan kita yang terbatas akan sangat membutuhkan masukan, nasihat, sudut pandang, bahkan sumber daya yang mungkin saya kita peroleh dari teman dan jaringan tersebut.
  4. Membentuk sikap hati dan menguasai diri untuk menjadi manusia yang berkepribadian dan berkarakter positif. Ada banyak buku dan artikel yang menyarankan kita untuk memiliki sikap (attitude) yang positif, karena attitude merupakan kunci. Lebih dalam lagi, menurut saya, sikap perlu dibentuk dari pemikiran yang positif dan juga hati yang lapang. Seringkali perubahan yang terjadi membuat kita semacam rugi atau kehilangan beberapa hal; tapi jika sikap hati kita baik, kita bisa melihat sisi positif dan belajar darinya.

4 hal di atas mungkin juga tampak dramatis. Bukan yang mudah untuk dilakukan, terutama untuk mereka yang sudah merasa pintar dan berpengalaman. Maka dari itu, kita perlu membawa diri untuk menjadi seorang pembelajar. Ketidakpastian yang ada perlu kita sikapi dengan semangat belajar. Dengan demikian, semakin kita senang karena banyak belajar hal baru atas ketidakpastian yang terjadi, semakin kita akan mati rasa dengan ketidakpastian tersebut dan akan dengan enjoy dan fun menghadapinya. Selamat mencoba mati rasa dengan ketidakpastian! J

@yosea_kurnianto

Ini 2 Cara kalau Mau Menang dalam Hal Apapun

Banyak di antara kita yang sedari kecil didorong untuk menjadi pemenang; mulai dari ranking di kelas, makan kerupuk di agustusan dan perlombaan lain, serta dalam kehidupan ini. Bagi beberapa orang menjadi pemenang adalah menjadi juara 1 atau sebutan “Terbaik”. Juara 2 dan seterusnya atau sebutan lainnya bukanlah dianggap sebagai pemenang. Beberapa yang lain menjadi pemenang adalah saat mereka berani mencoba, meski akhirnya gagal; mengalahkan rasa takut, atau hal unik lainnya. Mungkin Anda juga perlu mendefinisikan bagaimana dan apa itu menjadi seorang pemenang.

Bagi saya menjadi pemenang dapat berarti beberapa hal. Saya bukanlah seorang yang kompetitif. Namun, jika memang saya perlu menghadapi kompetisi, saya akan berusaha lakukan dengan sebaik mungkin. Selebihnya, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dari diri saya, baik dalam suasana kompetisi maupun tidak. Ahaha, tentu ini adalah hal ideal yang saya percayai. Keseharian saya mungkin berbeda, bahkan saya menyediakan waktu untuk bermalas-malasan. Hanya saja, saya merasa ‘menang’ jika saya merasa bahagia dan belajar banyak atas apa yang telah saya lakukan; atas peringkat/sebutan apapun yang diberikan pada saya.

Anyway, adalah lebih baik jika kita menganggap setiap proses kehidupan adalah pembelajaran. Jika demikian, kita dapat memastikan bahwa kita tidak pernah kalah. Yang kita miliki adalah menang atau belajar banyak hal. Lagi-lagi ini ungkapan ideal. Setiap kita tentu ingin jadi pemenang; bahkan ada istilah lebih dari pemenang 😀

Gimana caranya biar kita bisa menang? Saya bagikan 2 kunci sederhana jadi pemenang yang selama ini saya percayai. Ini baru belakangan tahun saya pegang; refleksi atas kegelisahan selama ini karena kondisi-kondisi yang saya juga baru-baru alami.

indecisive 2 ways

2 ways – pict: capuccino-com-fe.blogspot.com

  1. Jadi Lebih Baik dari yang Lain

Hampir semua kompetisi yang ada di dunia ini memaksa kita untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Kita melakukan hal-hal yang mungkin tidak kita sukai untuk mampu unggul. Saat sekolah misalnya, Anda berusaha untuk bangun lebih pagi atau tidur lebih larut untuk belajar karena ingin mendapat nilai lebih baik dari teman lainnya.

Beberapa orang akhirnya mati-matian untuk menjadi lebih baik dari yang lain; terlebih saat mereka mendapat tekanan dari orang tua, teman-teman, atau pihak tertentu. Tak jarang mereka akhirnya melakukan apa saja untuk meraih hal itu; dari yang baik maupun yang akhirnya mencoreng nama mereka.

  1. Jadi Beda

Beberapa kompetisi mengijinkan kita untuk menjadi beda. Kita dapat mencari celah dari yang mungkin tidak dipikirkan orang kebanyakan atau malas dikerjakan oleh sebagian besar orang. Seperti membangun bisnis misalnya; beberapa orang membuat sesuatu yang unik dan akhirnya menarik perhatian banyak orang. Atau dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang dengan keanehan/keunikan/potensi yang berbeda dengan kebanyakan akan lebih mudah diingat.

Ada sebagian orang yang dikaruniai pikiran dan kemampuan, serta kepercayaan diri untuk menjadi beda. Ah tidak sebagian orang; sebenarnya semua orang. Hanya saja, jumlah manusia yang begitu banyak dan tidak menggali kemampuan dan kepercayaan diri untuk menjadi beda ini akhirnya membuat orang-orang yang berbeda menjadi tampak.

—-

Kita perlu peka terhadap konteks kompetisi yang sedang kita hadapi. Apabila memang kondisi mengijinkan kita untuk menjadi berbeda; jangan takut dan lakukanlah yang terbaik. Namun jika memang kita harus berusaha untuk menjadi lebih baik dari yang lain, teruslah berjuang.

Memang pada akhirnya apa yang kita perjuangkan akan menjadi kesia-siaan buat diri kita. Toh kita akan menutup usia pada suatu hari nanti. Tetapi setiap detik yang kita nikmati saat ini, pergunakanlah itu dengan semaksimal mungkin.

Lagi-lagi saya ingin mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah bukunya, “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran (kompetisi,-red), dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran (kompetisi,-red) mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran(kompetisi,-red) apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”. Mau tidak mau, kita akan terus hadapi kompetisi dalam hidup ini; dalam bentuk apa-pun; dan kita mungkin terus ingin jadi pemenang. Ada masa kita lelah dan takut melangkah, tapi jangan berhenti berjuang. Berusahalah jadi lebih baik, atau jadi beda 🙂

Pada saatnya nanti kita akan selesai berkompetisi, semoga kita dapat mengucapkan apa yang Nyai Ontosoroh ucapkan pada Minke di akhir buku Bumi Manusia, karya Pram, “kita telah melawan (berjuang, -red) Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

@yosea_kurnianto

Belajar dari Pemimpin yang Akui Kesalahan dan Meminta Maaf

Beberapa di antara kita takut mendapatkan kemarahan besar dari orang tua atau guru ketika kita melakukan kesalahan saat kita masih kecil. Alih-alih ditanya mengapa atau bagaimana bisa kita melakukan kesalahan tersebut, mereka menyiapkan tongkat atau penggaris untuk menghajar kita. Alhasil, beberapa di antara kita terbiasa menyembunyikan kesalahan dan tidak mau mengakuinya, karena kemarahan dan perasaan malu akan menyerang kalau orang lain tahu kesalahan kita.

Hari demi hari kulewati, memang akhirnya aku tersadar bahwa aku juga sering berusaha tidak mengakui kesalahan dan hanya diam. Hingga akhirnya aku memahami bagaimana orang bisa belajar dari kesalahan yang ia buat. Ya, orang bisa banyak belajar bahkan mampu hidup lebih baik saat ia mau belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah ia buat. Bagaimana caranya?

Tentu pertama kali yang perlu dilakukan untuk belajar dari kesalahan adalah bahwa kita sadar telah melakukan kesalahan tersebut. Banyak orang melakukan hal yang kurang/tidak tepat, tapi tidak merasa dirinya salah. Kesadaran akan konteks tingkah langkah kita menjadi kunci bagaimana kita bisa banyak belajar dari kehidupan, terutama dari kesalahan yang kita buat. Langkah selanjutnya setelah menyadari kesalahan kita adalah mengakuinya dan meminta maaf kepada pihak-pihak yang mungkin dirugikan atas kesalahan kita. Baru akhirnya kita tahu dimana kesalahan kita dan bagaimana kita belajar darinya.

Mengakui kesalahan dan meminta maaf akan menunjukkan bagaimana lemahnya kita sebagai manusia, tetapi di sisi lain, menunjukkan bagaimana kita kuat menjalani kehidupan. Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup mereka; tapi mungkin ada beberapa orang yg tidak pernah mengakui kesalahan mereka dalam sebagian besar hidupnya. Bukan karena ia memang benar, tapi ia merasa yang paling benar.

Di organisasi dimana aku sekarang belajar dan bertumbuh, sudah sering aku mendengar ucapan maaf dari atasan dan bahkan top leaders untuk hal-hal kecil yang mungkin secara tak sengaja mereka lakukan. Aku juga menjumpai pemimpin banyak organisasi lainnya yang tak segan meminta maaf, meski banyak juga yang tidak. Lantas, apa yang membuat beberapa leaders tersebut mau dengan rendah hati meminta maaf, meski kepada orang yang jauh lebih muda dari mereka?

Berikut ini berkiraan yang aku buat, beberapa hal di bawah ini mungkin menjadi bagian dari kehidupan mereka, yang akhirnya secara rendah hati mau mengakui kesalahan dan meminta maaf:

1. Kesadaran bahwa mereka perlu terus belajar dalam kehidupan.

Mereka sadar bahwa hidup adalah proses pembelajaran yang belum selesai. Orang akan semakin cepat belajar kalau mereka merasa bahwa mereka belum sepenuhnya tahu benar tentang apa dan bagaimana menjalani kehidupan yang kompleks dan penuh ketidakpastian.

2. Kesadaran bahwa sumber belajar berasal dari banyak hal, terutama kesalahan dirinya.

Baik itu kesalahan terhadap atasan, bawahan, atau orang lainnya; kesalahan tetaplah kesalahan dalam konteksnya. Manusia hidup dalam multikonteks. Dalam setiap konteks, kita dapat belajar banyak hal baik dari kontribusi kita ke dalam konteks tersebut, atau bahkan kesalahan yang kita buat dalam konteks tersebut.

3. Pengalaman mendapat permintaan maaf dari pendahulunya.

Aku percaya setiap leaders memiliki sosok yang ia kagumi atau anut, paling tidak mungkin atasannya yang dulu. Manusia menangkap apa yang terjadi di sekelilingnya, terutama yang terjadi pada dirinya. Apabila mereka tumbuh dan belajar dari orang tua atau pimpinan sebelumnya yang juga tidak segan meminta maaf, mereka dapat meniru apa yang terjadi padanya.

4. Kesadaran bahwa mereka sadar.

Kalimat ini terdengar aneh. Tapi tampaknya ini yang menjadi pemikiran aku hari-hari belakangan. Aku mengamati ada beberapa leaders yang benar-benar sadar keberadaannya akan mempengaruhi kehidupan orang lain, ada beberapa yang tidak. Mereka yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf aku rasa memiliki kesadaran yang cukup tinggi tentang kesadaran mereka. Entah apakah kata ‘MINDFULNESS’ atau mungkin high degree of ‘Consciousness’ dapat menggambarkan kondisi ini, tapi menurut aku, kesadaran tiap orang memang berbeda-beda.

Empat poin di atas sangat tidak ilmiah dan terlalu teoritis atau kualitatif. Tapi paling tidak aku sedikit berefleksi atas bagaimana orang-orang yang aku hormati dan kagumi berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Hal ini tentu akan banyak mempengaruhi hidupku ke depan. Aku akan semakin banyak belajar mengakui kesalahanku dan meminta maaf.

Aku bersyukur berada dalam sistem/organisasi yang tidak membuatku takut untuk mengakui kesalahan. Bukan karena hukuman atau tidaknya, tetapi kesadaran akan adanya kesempatan belajar dari setiap yang terjadi. Aku tahu, aku bisa berusaha meminimalisir resiko dari setiap kesalahan yang aku mungkin buat; tetapi aku harus tetap menghadapi setiap konsekuensi dari setiap hal yang berhubungan dengan diriku. Konsekuensi utama dari setiap itu adalah bahwa aku harus terus belajar dari setiap proses yang terjadi, baik itu kontribusiku atau kesalahanku.

@yosea_kurnianto

Gelisah Penelusuran Tujuan Hidup

Ada beberapa anak muda yang masih dengan gigih berusaha menemukan passionnya. Beberapa yang lain menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup. Dua kelompok anak muda tersebut memiliki tujuan: menemukan passion (kehidupan) dan mempertahakan hidup (penghidupan). Keduanya memiliki dinamika masing-masing yang memiliki kelebihan dan kekurangan di berbagai sisi. Tidak perlu orang menilai orang lain atas apa yang mereka ingin kerjakan dalam kehidupannya. Tetapi manusia, sering tak dapat menahan dirinya untuk menghakimi satu sama lainnya.

Di akhir bulan Mei lalu, aku kembali mendapat undangan untuk sharing di sebuah kampus di Jakarta. Kali ini topik yang diminta adalah mengenai menggali potensi untuk membangun masa depan diri yang lebih baik. Sejujurnya, aku tidak dapat memberikan batasan-batasan yang tegas mengenai apa yang perlu dilakukan anak-anak muda ini untuk membuka peti potensinya; tentu karena setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Namun, paling tidak ada 1 hal esensi yang perlu kita perhatikan untuk mampu menikmati kehidupan ini dengan baik: menemukan tujuan hidup.

Kembali ke pembahasan di awal tadi, soal tujuan hidup. Dalam sebuah jaringan profesional, saya mendapat sebuah figur yang saya sangat setuju, mengenai hubungan passion dan tujuan hidup. Dalam figur tersebut disarankan bahwa menemukan tujuan hidup perlu menjadi pencarian utama dalam perjalanan kehidupan. Passion adalah bagian kecil dari kehidupan yang membuat kehidupan manusia senang dalam kesehariannya. Tetapi tujuan hidup adalah sesuatu yang akan membuat orang merasa dirinya lebih berarti. Semestinya, menemukan passion tidak dijadikan sebuah tujuan hidup; melainkan pelengkap untuk mencapai tujuan tersebut.

Figure

Potensi dalam diri kita bisa dikembangkan sesuai dengan tujuan hidup kita. Orang yang punya tujuan hidup tertentu akan mampu memperlengkapi dirinya dengan kemampuan untuk mencapainya. Proses memperlengkapi diri inilah yang membuat potensi muncul dan berkembang.

Soal tujuan hidup ini, beberapa orang menemukannya dengan mudah karena seperti ditaruh dalam kehidupannya. Beberapa orang lain terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Bebeberapa yang lain, tidak begitu memahami bahwa hidupnya perlu memiliki sebuah tujuan.

Perubahan tujuan hidup menjadi mungkin buat sebagian orang yang terus berusaha dengan sadar menggali dan berusaha menemukannya. Ruang dan waktu, serta konteks di mana ia bertumbuh kan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi orang tersebut kemudian mengganti tujuan hidupnya. Mungkin saja tidak akan ada orang yang tahu secara pasti.

Aku sebenarnya merasa bahwa saat ini sedang dalam tahap perjalanan menggali kembali tujuan hidup. Ada beberapa shifting yang cukup significant sehingga aku berpikir bahwa mungkin saja saat ini aku perlu menambahkan perlengkapan-perlengkapan kehidupan lainnya untuk terus menjadi relevan.

2 minggu lalu aku membuka kembali folder lamaku, dan menemukan film berjudul Hugo. Semacam bisikan yang berhembus di telingaku, film ini salah satu scene-nya juga membahas tentang tujuan hidup. Hugo yang masih remaja itu bilang “Setelah ayahku meninggal, aku berpikir dunia ini seperti sebuah mesin yang besar. Kalau kamu tahu, dalam mesin yang kamu buat/beli, tidak akan ada perangkat cadangan. Setiap perangkat yang dipasang memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Begitu pula denganku, aku perlu menemukan fungsi dan tujuan kenapa aku ada di dunia ini”.

Aku setiap hari berpikir, bertanya, dan berusaha menggali kembali tujuan hidupku di masa ini. Aku takut jika ini terlalu lama berjalan, aku hanya akan menjadi seorang manusia dengan fungsi dan tujuan cadangan yang sebenarnya belum perlu ada di dunia ini. Tetapi Hugo dalam film itu mengingatkanku, bahwa cepat atau lambat aku akan menemukan tujuan itu. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik dari apa yang perlu kulakukan saat ini dan menghasilkan yang terbaik dari setiap hal yang diberikan kepadaku.

Aku bersyukur, tujuan hidupku yang dulu membawaku pada kondisi ini, tapi aku selalu challenge, apakah tujuan hidupku sekarang masih relevan dan perlu untuk dicapai. Kiranya ruang dan waktu yang tepat akan segera menyingkapnya, atas kehendak Yang Maha Kuasa.

@yosea_kurnianto

Nggak Mau Dipimpin Perempuan

Selamat hari perempuan internasional! Ada banyak perempuan-perempuan yang menakjubkan yang telah saya temui, tentu salah satunya Ibu saya 🙂 Tapi tulisan ini bukan soal Ibu saya sih. Hihihi..

Ya, sampai sejauh ini saya masih  memilih menggunakan kata perempuan ketimbang wanita. Entah memang begitu adanya atau tidak, wanita yang disebut-sebut ‘wani ditata’ (berani/mau diatur) menurut saya kurang menarik. Justru banyak hal keren yang saya temui dari para perempuan, sehingga malah mereka bukan ditata; tapi menata. Saya menyukai kata perempuan karena per-empu-an nya. Saat  belajar sejarah di SD (atau SMP ya?), orang-orang sakti jaman dahulu dan jago perkerisan disebut empu.

Anyway, bukan mau obrolin soal kata apa sih. Hahaha.. Mau cerita sedikit soal pertanyaan menarik yang saya dapet dari anak SMA beberapa waktu lalu soal perempuan dan leadership.

Beberapa waktu lalu saya dapet kesempatan untuk ke sebuah sekolah di Sumatera. Saya beruntung diundang untuk sharing dengan murid dan guru-gurunya. Setelah sharing tersebut, ada sesi khusus dengan siswa-siswa yang aktif dan memegang peranan di organisasi siswanya. Tanya jawab soal mengelola organisasi kesiswaan berjalan cukup seru. Hingga akhirnya sesi selesai dan saya perlu segera ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Namun saat saya bersiap, ada satu siswi yang menghampiriku dan ajukan 2 pertanyaan. Salah satunya begini:

“Kak, saya dapet kepercayaan jadi ketua majelis permusyawaratan kelas (menyebut dengan istilah yang ada di sekolah tersebut). Tapi saya perempuan nih Kak. Menurut Kakak gimana sih kalau Kakak sebagai laki-laki dipimpin oleh perempuan?”

Widiiiih, kalau anda jadi saya, apakah yang akan anda sampaikan ke teman ini? 😀

Tentu saja si anak tersebut bukan bertanya tanpa alasan. Meski dia tak cerita mengapa ia menanyakan isu tersebut, tapi kedengarannya memang dia punya tantangan tersendiri dengan hal itu. Entah mungkin rekan-rekan lelakinya merasa tak nyaman dipimpin perempuan, atau kondisi masyarakat dimana ia bertumbuh sebelumnya memandang perempuan kurang layak memimpin. Alhasil, ia merasa canggung saat mendapat kepercayaan untuk memimpin.

Saya menjumpai banyak pemimpin perempuan yang luar biasa keren. Tak sedikit kemajuan-kemajuan hidup saya juga karena bantuan para pemimpin-pemimpin perempuan yang telah saya jumpai ini. Mungkin beberapa kepercayaan menganjurkan untuk laki-laki yang harus memimpin perempuan; tetapi dalam kehidupan nyata, bisa saja kondisinya berbeda dan akhirnya membuat perempuan yang akhirnya memimpin.

pict: www.theguardian.com

Ilustrasi: Pemimpin Perempuan (pict: http://www.theguardian.com)

Saya pribadi selalu berusaha menghormati siapa saja pemimpin saya. Tak jarang mereka adalah perempuan. Mulai saat berorganisasi sejak SMA, saat di kampus yang juga memiliki Dean dan banyak leaders perempuan, hingga saat ini di kantor yang juga leadersku perempuan. Saya menghormati mereka. Menurut saya leadership bukan soal lelaki atau perempuan; tapi soal semangat untuk membawa tim dari satu titik ke titik pertumbuhan berikutnya.

Jika kita mungkin merasa lebih baik dipimpin laki-laki, atau lebih memilih dipimpin perempuan; itu merupakan pilihan dan sikap diri. Bebas saja memilih. Tapi ketika kita memiliki seorang pemimpin yang sebenarnya mumpuni, tapi kita tak hormati karena jenis kelaminnya berbeda, maka kita sendiri juga perlu berbenah.

Baik laki-laki maupun perempuan yang memimpin, masing-masing memiliki kelebihan dan sebaliknya. Untuk setiap kita yang punya kesempatan untuk memimpin, memimpinlah dengan sebaiknya dan sehormatnya. Buat setiap kita yang punya kesempatan untuk belajar dari pemimpin lewat setiap aktivitas koordinasi yang ada, belajarnya dengan sebaiknya dan sehormatnya.

Sekali lagi, selamat hari perempuan internasional! Hampir semua dari kita lahir dari perempuan, dididik, dan dipimpin pertama kali oleh perempuan; mengapa ketika dewasa ada di antara kita yang ga mau dipimpin perempuan? 🙂 Gimana menurut kamu?

@yosea_kurnianto