An Old Q: Is Any Job Better than No Job?

‘Normal’ discussion topics among last-year undergraduate or graduate students would be ‘have you applied to jobs?’ and/or ‘have you been accepted for a job?’. I assume that those who got a job before finishing their study would be having certain higher level of pride than those who still look for, or even don’t have any plan yet. To reach this kind of pride, I suppose, many graduates might consider to take any job they were offered. Although some reasons would also determine this decision, such as a financial condition as he/she might have to earn some money for living or for supporting his/her family. But, this old question remains: is any job better than no job?

Last week, I attended a discussion from Work and Equality Institute in Manchester, entitled “Work, Health, and Stress: Some Observations”. Prof. Tarani Chandola, a professor of medical sociology from the University of Manchester shared some perspectives of his research and thoughts on how job and stress can relate each other. It is interesting to know that based on medical data that he collected (in civil service): the lower the grade of the job, the higher its job mortality. It’s indeed because of several factors such as financial, relationship stress (with bureaucracy), etc. Yet, that data actually shows ‘the myth of executive stress’. It is argued that stress of the executives is only being perceived, but not ‘as bad as’ it is on medical data.

Good Job or Bad Job?

Another finding from the session was that people with ‘bad jobs’ increase their happiness some years before retirement; but those in ‘good job’ remain no significant differences. However, it is actually contradicting with an argument that ‘retirement is beneficial, but only for those in the top / good grades (jobs)’. Those with bad jobs might face another ‘episode’ of stress after that short-term happiness, as the might not have an enough pension/fund for living and since they would be ‘unemployed’ again.

Somebody said that, ‘the worst work status for health is unemployment’. But, is it true that any job is better than no job? Well, from the medical measurement as what Prof. Tarani did above, it might not be entirely true. Some people might be ‘healthier’ with no job rather than doing ‘bad job’. The term bad job here could be assumed as job with under/minimum pay, job with bad relations with managers, etc; and I guess you might have some definitions on what good or bad jobs for you based on your interest, skills, passion, and other dimensions.

It is important then, for me and my fellow graduate students, to really think about jobs to do after finishing our study. Again, some factors might determine or even push us to some decisions in taking a job; but whatever the decision is – make sure that we’re being mindful and consciously know the consequences. Some organisations or companies might try to help its employees to reduce stress at work by assigning a Chief Happiness Officer or some ‘fun internal events’; but it might be useless if we have a ‘bad job’ (structurally or emotionally). Good luck for (y)our career journey!

@yosea_kurnianto

Advertisements

Giliranmu Pakai Hastag #MyCheveningJourney: Daftar Sebelum 7 November 2017!

Ah akhirnya sempat nulis lagi! Beberapa waktu terakhir rekan-rekan mengirim WA, FB message, DM Instagram dan Linkedin untuk tanya-tanya soal proses beasiswa Chevening. Beasiswa Chevening ini setahun ke depan sponsori aku untuk kuliah S2 di Manchester Business School – The University of Manchester ambil jurusan MSc Human Resources Management and Industrial Relations. Selain prestigious, beasiswa Chevening ini menawarkan jaringan alumni tingkat global yang isinya memang orang-orang yang menarik.

Oya, aku ketemu banyak orang Indonesia yang beruntung ga perlu ini itu buat dapat beasiswa, karena kondisi finansial keluarga yang memungkinkan. Buat yang memang membutuhkan beasiswa, terus semangat berusaha yah, semoga tulisan ini kasih sedikit gambaran proses dari beasiswa the Chevening Awards!

Receiving the certificate of #ChosenForChevening in UK Embassy Jakarta

Dulu banget aku ga berani daftar beasiswa Chevening karena kupikir ini untuk orang-orang yang memang punya profil beken dan keren, tapi akhirnya aku coba beranikan diri. Syarat paling utama sebenarnya adalah udah lulus S1 dan punya pengalaman kerja minimal 2 tahun. Nah berhenti di sini dulu. Soalnya ada pengalaman udah cerita panjang lebar, tapi lawan bicaraku tanya: Beasiswa Chevening itu apa sih? Dhuaar. Hehehe..

Beasiswa Chevening atau biasa disebut ‘The Chevening Awards’ ini adalah beasiswa S2 dari pemerintah Inggris Raya (UK) yang ditujukan untuk mengembangkan global leaders. Beasiswa ini ada sejak tahun 1983, dibiayai oleh Foreign and Commonwealth Office (FCO) dan beberapa organisasi partnernya. Jadi kamu bisa kuliah S2 selama 1 tahun di universitas mana saja yang kamu mau (dan diterima :p) di Inggris Raya. Pengalaman 1 tahun ini diharapkan kasih kamu kesempatan untuk mengembangkan diri secara akademik dan professional, memperluas jejaring, dan mengalami sendiri budaya di Inggris Raya. Monggo kalau mau dibaca lebih seksama di laman INI.

Nah, lanjut yah. Proses pendaftaran Chevening dilakukan secara online dimulai dari laman INI. Super duper gampang, tinggal isi dan klik (plus mikir juga jangan lupa :p).

Apa sih yang biasanya jadi kegundahan saat daftar? Mungkin beberapa list di bawah ini membantu:

  1. Pilih jurusan dan kampus

Beberapa pertanyaan terkait pilih jurusan dan kampus untuk beasiswa Chevening mewarnai percakapanku belakangan waktu. Memang kita boleh belajar S2 apapun yang kita suka untuk daftar beasiswa ini, tapi akan jauh lebih meyakinkan kalau jurusan yang diambil ada kaitannya dengan pekerjaan saat ini atau aspirasi pencapaian di masa yang akan datang.

Jangan sampai kita ambil jurusan dan kampus yang hanya terdengar keren, tapi ga ada hubungannya dengan ‘diri kita’. Coba cek juga fokus kerjasama pemerintah Inggris dengan Indonesia di tahun berjalan saat kamu mendaftar beasiswa Chevening di laman ini. Saat mendaftar, kamu diminta untuk masukkan 3 pilihan jurusan dan kampus berdasarkan prioritas. Jangan khawatir juga, kalau nanti masuk interview, akan dikonfirmasi lagi apakah pilihan jurusan dan kampus masih sama dengan awal daftar atau mau diganti urutan (atau bahkan ganti jurusan dan kampus). Kalau saat mendaftar (atau periode sebelum pengumuman) kamu udah dapat Letter of Acceptance (LoA) dari kampus, kamu bisa upload di profil pendaftaranmu. LoA ini wajib diterima secretariat Chevening saat konfirmasi akhir kalau kamu dinyatakan berhak menerima beasiswa.

  1. Pengalaman Kerja

Soal pengalaman kerja, syarat yang ditulis adalah 2 tahun. Tapi saat mengisi nanti biasanya kamu juga bisa hitung jam volunteer atau magang. Akan sangat baik kalau setiap apa yang kamu kerjakan sejalan dengan jurusan yang kamu ambil. Meski tak jarang juga beberapa teman bisa meyakinkan bahwa jurusan yang diambil tidak (sepenuhnya) senada dengan pekerjaan, tapi lebih sesuai dengan aspirasi ke depan. Kasus semacam ini mungkin jarang, tapi bukan tidak mungkin terjadi. Tugasmu nanti meyakinkan panel saat interview.

  1. Menjawab Beberapa Pertanyaan (Penulisan Essay)

Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab untuk menyelesaikan pendaftaran beasiswa Chevening ini. Pertanyaan biasanya seputar pengalaman pekerjaan dan leadership serta aspirasi (karir) masa depan dan kaitannya dengan jurusan yang diambil (detail pertanyaan silakan dilihat di aplikasi, bisa jadi ada perubahan). Ada rekan mengirimkan WhatsApp dan bertanya apakah harus menggunakan seluruh ‘jatah’ huruf untuk menulis jawaban pertanyaan (sekitar 300 kata). Sederhananya, menurutku kalau kita bisa maksimalkan, lebih baik maksimalkan, agar pesan yang kita sampaikan dapat tergambar dengan jelas. Tapi kalau cukup percaya diri dengan sedikit kata-kata, tidak masalah juga J Jawaban ini perlu ditulis dengan jujur karena akan banyak dikonfirmasi saat interview nanti apabila lolos tahap administrasi.

  1. Proses Menunggu 1

Kalau udah klik submit application, kita akan menunggu sekitar 4 bulan untuk mendapatkan konfirmasi/undangan untuk interview. Bagi yang lolos untuk interview, nanti akan mendapatkan email undangan dan link untuk memilih jam interview (biasanya tersedia beberapa slot). Penting untuk segera memilih slot interview sesuai jam yang diinginkan, kalau tidak, nanti sudah diambil yang lain dan kita ga punya banyak pilihan.

  1. Interview

Woah, ini nih yang bikin jantung dagdigdug 😀 – seingatku kemarin aku bener-bener persiapan untuk interview Chevening. Mulai dari tanya-tanya alumni, ngopi bareng Chevener tahun sebelumnya untuk dapat insight dan gambaran pertanyaan, bikin list ‘possible questions’ plus coba jawab sendiri, baca-baca berita soal UK dan Indonesia (terutama yang berkaitan dengan jurusan yang aku tuju), dan banyak doa. Hahaha. Sempat dengar kalau saat interview, biasanya untuk 1 issue/jurusan hanya 2-3 orang yang diundang – jadi kalau bukan aku yang terima beasiswa, maka orang sebelum atau setelahku yang dapat. Bukankah rasanya lebih perih kalau ternyata persentase terima/gagalnya lebih besar? Hueheu.

Proses interview biasanya cuma 30 menitan. Datang ke lokasi 15-30 menit sebelum jadwal akan sangat membantu, selain karena ada proses screening dari tim security, perlu juga waktu untuk menenangkan diri dan ngeringin keringat :p

Beberapa pertanyaan interview akan terkait essay yang kita tulis. Untuk detil model pertanyaannya bisa japri nanti kalau sudah dapat undangan interview yah 😀

  1. Proses Menunggu 2

Jangan sedih, abis interview ada proses menunggu lagi kira-kira 3 bulan. Di minggu ke-2 atau ke-3 Juni (timeline bisa saja berubah) akan dapat email kalau dapat beasiswa Chevening. Di proses ini, kamu akan dapat beberapa list dokumen yang harus disubmit untuk mendapatkan Final Award Letter (FAL) yang membuktikan bahwa kamu ‘sah’ mendapatkan beasiswa. Ada beberapa rekan yang kurang beruntung dan akhirnya tidak bisa mendapatkan, biasanya karena IELTS, LoA kampus, atau dokumen kesehatan (scan TBC).

  1. Proses Administrasi Final dan Menunggu 3

Semua dokumen yang dibutuhkan harus disubmit sebelum deadline. Menurutku pribadi dokumen yang dibutuhkan ga ribet. Yang perlu dicatat adalah, beberapa orang ‘ga mau rugi’ untuk test IELTS sebelumnya, jadi pas disuruh ngumpulin baru test. Kadang test center IELTS penuh di tanggal-tanggal itu jadi harus keluar kota (atau keluar negeri), atau akhirnya hasilnya kurang bagus dang a ada waktu buat ngulang test. Meski test IELTS ga harus disubmit saat pendaftaran dokumen di awal (bisa disusul saat dapat konfirmasi tahap akhir), lebih baik mulai test IELTS segera, itung-itung sebagai investasi karena cukup berguna untuk beberapa kebutuhan lainnya juga.

Proses menunggu untuk tiap tahap, Final Award Letter, Visa, dan tiket pesawat biasanya cukup membuat gundah. Penting banget di awal ini untuk paham bahwa kita harus bersabar dan percaya dengan tim Chevening dan Kedutaan Inggris di Jakarta, semuanya akan baik-baik saja.

Pendaftaran Beasiswa The Chevening Awards untuk tahun 2018/2019 sudah dibuka dan akan tutup tanggal 7 November 2017. Pendaftar tahun lalu se Indonesia ada sekitar 4400an (secara global ada 50.000an orang) dan dari Indonesia yang dapat ada sekitar 63 orang.

Starting #MyCheveningJourney in the University of Manchester

Alhasil, selamat untuk nanti yang dapat kesempatan menggunakaxn hastag #MyCheveningJourney di tahun depan. Buat yang belum dapat kesempatan, bisa jadi tahun depan atau mungkin bisa coba beasiswa/kesempatan lainnya. Selamat berusaha!

@yosea_kurnianto

Sowan ke Rumah Mbak Alissa: Mumpung Masih Muda, Benerin Polanya

Minggu lalu aku sempat pulang ke rumah di Temanggung. Di hari pertama aku di kampung halaman, tetiba terpikir untuk sowan ke rumah Mbak Alissa Wahid, putri dari Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4. Akhirnya aku coba kirim WhatsApp dan bertanya apakah beliau sedang berada di rumahnya yang di Jogja. Voila! WhatsAppku dibalas dan kita janjian ketemu di hari Minggu malam. Mbak Alissa Wahid memang salah satu sosok sumber pembelajaranku. Beberapa tahun lalu sempat juga berkunjung ke Sekolah yang didirikan beliau di Jogja, kemudian bertemu beberapa kali dalam berbagai kesempatan. Beruntung sekali aku, karena dalam kesibukan yang luar biasa, Mbak Alissa masih tetap membalas setiap WA-ku dan meluangkan waktu untuk ngobrol dengan remukan rempeyek kacang semacam diriku.

Nah, aku sampai di rumah Mbak Alissa pukul 8 malam. Beberapa perbincangan awal menceritaka aktivitas masing-masing setelah beberapa lama kita tidak bertemu dan berbincang. Banyak hal menarik yang aku tangkap dari cerita Mbak Alissa, mulai dari aktivitas beliau bersama komunitas Gusdurian yang tersebar di seantero-jagad hingga kesibukan beliau dalam Pengurus Besar NU dan program-program edukasi terkait ‘family resilience’ bersama Kementerian Agama. Dari dulu memang Mbak Alissa cukup konsisten di isu-isu yang digemari dan menjadi perhatiannya, paling tidak yang paling terasa adalah kebhinnekaan (keberagaman / diversity / religious pluralism) dan psychology keluarga (dan anak).

Kekonsistenan Mbak Alissa merebut perhatian saya malam itu. Maksudnya, saya yakin Mbak Alissa dapat banyak sekali tawaran untuk kerjain project A,B,Z – atau ikut di ajang politik sebagai pejabat A,B,Z. Pertanyaan saya di malam itu salah satunya: dari sekian banyak kesempatan itu, bagaimana Mbak Alissa memilih A dan B kemudian menolak C dan D? Apa yang menjadi parameter atau indikator sebuah kesempatan layak kita ‘jajal’ atau kita hindari?

Mbak Alissa bercerita bagaimana beliau tiap tahun membuat peta diri (self map), persis yang selama ini saya sudah coba lakukan juga. Beliau menunjukkan beberapa peta diri yang dibuat tahun lalu, untuk kemudian dapat memetakan peran dan prioritas untuk tahun berjalan. Prioritas tahun berjalan ini selalu harus harmoni dengan tujuan jangka panjang serta tujuan besar dalam perjalanan hidup. Penentuan tujuan-tujuan ini harus menjadi sebuah pola, agar kita secara sadar dapat mengelola diri untuk melangkah pada titik-titik yang penting dan perlu.

Selanjutnya, Mbak Alissa menerangkan bagaimana observasi beliau pada 2 tipe orang yang berbeda: principal based dan power based. Orang-orang yang menganut ‘principal based’, maka apapun yang dia kerjakan (termasuk menerima tawaran / kesempatan) akan menjadi kepuasan aktualisasi diri karena sesuai dengan prinsip-prinsip hidupnya, dalam hal ini sejalan dengan prinsip universal: kebaikan dan harmoni. Sebaliknya, mereka yang dalam jalur ‘power based’ akan melakukan apa saja (termasuk menerima atau mengusahakan tawaran / kesempatan) supaya dia menjadi ‘center of power’ dalam system di mana dia berada. Orang-orang dengan jalur ‘power based’ ini banyak sekali kita lihat dalam pemberitaan, self-centric dan mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri tanpa mengindahkan hukum.

Aku pamit pulang saat jam menunjukkan hampir pukul 10 malam. Menjadi perenunganku secara pribadi ketika perjalanan pulang dari rumah Mbak Alissa: seberapa jauh aku sudah mengenal diriku, mengelola prioritas dan mengatur waktu, membangun prinsip-prinsip hidup yang memberi dampak positif untuk orang di sekitarku, serta selalu berusaha memberikan nilai tambah untuk system di mana aku berada. Obrolan ini cukup mengingatkanku untuk kembali menilik pola; baik pola pikir dan pola hidup. Pola yang baik akan menghasilkan kepribadian dan karakter yang baik, sehingga kita mampu menjadi manusia bermanfaat, bukan malah menjadi batu sandungan.

Have a nice weekend!

@yosea_kurnianto

Problem kaum Millenials: Sabar dulu bro!

Sebuah video talkshow mengenai ‘Problems with Millenials’ dari Simon Sinek  tersebar cukup viral di akhir tahun kemarin-awal tahun ini. Beberapa rekan mengirimkan video tersebut kepadaku karena mereka tahu aku berkecimpung di area HR dan People Development yang tentunya membahas millennials. Meski kadang aku sendiri merasa topik tersebut cukup ‘overrated’ dan kadang digeneralisasi begitu saja. Seperti yang juga banyak orang lakukan setelah melihat video Simon Sinek ini (coba googling yah); orang-orang menulis kritik karena video ini dianggap cukup men-generalisasi suatu kelompok millenials. Anyway, aku menonton video tersebut dan dari banyak bahasan, aku paling tertarik dengan sudut pandang Simon yang menurutku (sebagai bagian dari millennials) ada benarnya juga: Simon membahas bahwa salah satu problem atau challenge generasi millennial adalah soal ‘patient / impatience’ atau kesabaran, terutama kesabaran terkait proses. Oya, kalau mau baca transkrip videonya bisa dari web INI.

Di era perubahan yang begitu cepat, dengan sokongan teknologi informasi dan kecanggihan masa kini, generasi kita sering terlenakan yang membuat sumbu kesabaran memendek. Di salah satu FGD misalnya, aku menangkap harapan millennials soal dunia kerja: beberapa tahun jadi pimpinan dan/atau dapat project dengan tanggung jawab besar. Ditambah dengan model didikan orang tua jaman sekarang yang bermuatan ‘You can be everything you want (if you believe to yourself, etc), patience dan persistence jadi hal yang langka karena adanya gap antara harapan dan ekspektasi (ga semua sistem di mana kita ada sudah mengakomodasi kesabaran super pendek yang dimiliki generasi millennials). Ga heran kalau banyak millennials yang ingin segera jadi pimpinan dan/atau dapat tanggung jawab besar itu pindah dari satu company ke company lain, atau bikin start-up dan bubar segera untuk kemudian bikin start up yang lainnya.

Well, ga bisa dipungkiri, aku juga sering merasa ga sabar dengan beberapa sistem yang ada. Tapi untungnya ada beberapa moment yang membuatku lakukan refleksi/kontemplasi dan berusaha untuk menguasai diri. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses (walau sering gemes dengan proses-proses yang sebenarnya bisa disimplifikasi atau dihilangkan) dan menyadari bahwa kita cuma ‘seucrit’ komponen dari sistem dan semesta yang begitu luas, bisa membantu kita untuk menguasai diri.

Belakangan aku merasa ga sabar dan susah untuk menunggu. Perasaan ini muncul gara-gara aku baru bisa lakukan langkah selanjutnya, kalau langkah yang aku tunggu prosesnya ini beres. Tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ga bisa kita kontrol dimana kita kurang bisa lakukan apa-apa. Akhirnya waktu yang ada aku gunakan untuk mempersiapkan beberapa langkah ke depan seandainya proses ini selesai.

Sabar bro. Ada waktunya 🙂

Nah, kadang proses menunggu ini bikin kita stress, ga produktif, bahkan akhirnya ambil langkah lain yang justru bisa memperburuk situasi. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk belajar menguasai diri saat kita mulai ga sabar, ini pendapat pribadi yah:

  1. Menurutku lagi-lagi kunci penguasaan diri juga ada dalam pikiran. Kalau bisa menguasai pikiran, kita hampir bisa menguasai diri (selain juga harus menguasai hati dan perasaan #eeaa). Makanya kalau pas mulai ga sabar, kadang kita perlu alihrkan pikiran ke hal lain: hobby, project, pekerjaan, usaha, aktivitas social, dll.
  2. Latih diri untuk sadar (conscious dan mindful) kalau hampir semua hal butuh proses, dan salah satu komponen utama dari proses adalah waktu. Sebagai bagian dari proses, kita perlu menghormati komponen lain yang mungkin belum sejalan dengan keinginan atau harapan kita.
  3. Terkait poin nomor 1, penting banget buat millennials yang punya energi lebih untuk menyalurkannya dengan tepat; jangan sampai cuma kuliah-pulang atau kerja-pulang dan bengong cuma nungguin satu hal. Usahakan pikiran dan energy kita ter-occupied dengan hal-hal lain selain ‘yang kita tunggu’ itu.
  4. Punya teman, coach, dan mentor buat sharing dan menyampaikan keluh kesah juga cukup penting untuk mengelola kesabaran kita. Masukan dari teman atau nasihat dari mentor akan membantu kita mengatur pola pikir dan kegundahan saat menunggu.

Bahwa dalam perjalanan hidup kita tetap punya pilihan lain untuk cari jalan yang lebih cepat dan sesuai keinginan kita, boleh jadi ga semua dari kita punya kesempatan untuk menikmati pilihan itu. Kadang-kadang kita dalam posisi yang memang cuma ada sedikit pilihan (antara ya dan tidak, maju atau diam, ambil atau tinggalkan) dan harus menunggu beberapa saat untuk melihat lebih jelas. Kita perlu dengan bijak mengelola diri untuk hal ini. Jadilah millennials yang tetap berambisi dengan idealism dan energy, tapi mampu menguasai diri untuk bersabar dalam proses.

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Kelola Kecewa

Ada seorang pemilik kebun yang kasih kepercayaan ke seorang penjaga. Pemilik kebun ini cuma datang buat liat setahun sekali. Biasanya dia datang untuk liat kondisi dan ngobrol sama penjaganya. Suatu waktu si pemilik kebun datang dan liat satu pohon yang menurut pengamatan sang pemilik nggak menghasilkan buah sejak tahun lalu.

Cukup wajar kalau pemilik kebun kecewa, karena dari semua pohon di kebunnya, cuma pohon ini yang ga berbuah. Pemilik kebun akhirnya panggil penjaga dan minta pohon ini ditebang. Surprisingly, penjaga jawab, “Kasih kesempatan 1 tahun lagi. Biar saya coba cangkul tanah sekelilingnya dan kasih pupuk. Kalau emang sampai tahun depan masih ga berbuah, kita tebang saja”.

Seperginya pemilik kebun, penjaga itu lakuin apa yang ia katakan ke pemilik. Dengan sabar ia cangkul tanah di sekeliling pohon dan kasih pupuk, kemudian merawatnya. Penjaga kebun itu tahu, bahwa permasalahan pohon yang ga berbuah bukan serta merta dari daun atau rantingnya, tapi lebih dari itu: pada akarnya.

unfruitful-tree

‘beresin akarnya’ (pict: id.pinterest.com)

Nah, sering banget kita lupa kalau kecewa atau punya masalah, yang kita liat dan ‘gempur’ hanya apa yang tampak ke kita; tanpa mau beresin akarnya. Tentu tidak semua orang mau dan mampu untuk gali akar kecewa atau masalah, sehingga ‘action’ yang dilakukan hanya bersifat sementara bahkan tidak tepat pada sasaran utamanya.

Lebih parahnya kalau orang tahu akar masalahnya apa, tapi ga ada yang ‘berani’ untuk memperbaikinya. Menggali akar harus diikuti oleh ‘action’ yang kadang bikin ada rasa ga nyaman dan mengganggu. Kayak paramedis/dokter kalau mau nyembuhin luka juga kadang ‘perlu melukai’ bagian lain dulu. Proses ini butuh komitmen sih.

Menggali akar kecewa atau masalah dan membenahinya emang ga gampang. Kadang juga menyakitkan. Bukankah dalam beberapa kondisi, yang pahit justru bisa jadi obat yang manjur?  Kita harus mau untuk ambil sikap yang mungkin juga bikin konfrontasi dengan kondisi yang ada. Emang sih kita perlu tahu batasan, tapi perlu berani juga untuk lakukan. Udah banyak orang yang malas gali akar, ga mau konfrontasi (demi kebaikan), yang akhirnya bikin kita cuma jadi rata-rata dan  kurang produktif.

Balik ke soal penjaga kebun: dia dapet kesempatan untuk ‘selamatkan’ 1 pohon yang ga berbuah, dia langsung perbaiki dari akarnya. Ini cukup menginspirasi sih. Selama ini gue kadang juga takut ‘gali akar’ dan yang paling penting: ambil sikap/action soal itu.

Manusia emang susah untuk ga kecewa. Butuh kebijaksanaan untuk mengelola kecewa. Butuh lapang dada dan pikiran terbuka untuk gali akar.

Kelola kecewa ini juga bukan soal kita kecewa ke orang lain / kondisi lain doank. Tapi juga sebaliknya, kalau ternyata kita yang dalam posisi ‘pohon ga berbuah’ itu – dan orang lain kecewa sama kita, kita juga perlu insropeksi dan perbaiki akar sendiri :’)

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Kapasitas Buat Percaya

Beberapa hari belakangan gue semacam dapet pesan beruntun untuk belajar percaya. Pesan yang gue tangkep emang dari banyak sumber – pidato orang, message yang gue terima, atau buku dan artikel yang gue baca, baik secara ekplisit maupun implisit. Konteks percaya kali ini emang luas sih, tapi ada beberapa hal yang gue akhirnya ‘setujui’, terutama yang terkait dengan apa yang hari-hari ini gue alami.

Gue diingetin untuk belajar percaya, yang pertama, sama diri sendiri. Jadi orang yang minderan sejak kecil emang cukup sering biking ga nyaman. Kadang punya tujuan atau mimpi yang ingin dicapai, tapi pas ‘kambuh’ minder dan ga PD-nya, tetiba pengen stop berjuang dan merasa semuanya sia-sia. Kalau udah ngerasa begitu, jadi perlu sering-sering ngobrol sama orang yang punya energi positif biar gue ketularan kepositifan dan optimisme mereka. Thanks buat orang-orang positif yang nyedian waktu buat gue serap energinya 😊

Eniwey, selain diri sendiri, gue juga diingetin untuk percaya ke orang dan hal lainnya. Salah satu sumber yang gue dapet soal ini, tanya ‘seberapa gede sih lo punya kapasitas buat percaya?’. Well, waktu denger pertanyaan ini gue serasa ditampar sih.

Menurut orang itu, kemungkinan besar orang akan ambil keputusan berdasarkan apa yang dia pikirin, dan dia akan mikirin berdasarkan apa yang dia percaya. Nah, apa dan gimana seseorang percaya terhadap sesuatu atau seseorang akan sangat mempengaruhi keputusan-keputusan orang tersebut.

Masalahnya orang ga mau percaya karena dia ga mau berharap sama suatu hal atau seseorang itu. Karena semakin besar percaya, semakin besar berharap – kalau gagal akan makin besar juga kecewanya.

Belajar dari layang-layang: tetap percaya pada pemegang tali, walau angin melaju kencang.

Belajar dari layang-layang: tetap percaya pada pemegang tali, walau angin melaju kencang.

Ketika dapet pertanyaan soal kapasitas buat percaya tadi; gue sebenarnya malu sih. Sejauh ini kalau gue refleksi lagi, ternyata kapasitas gue buat percaya belum segede itu. Gue masih kadang ga percaya ama diri sendiri, ga percaya bahwa apa yang gue impikan bakal terwujud, ga percaya bahwa hidup gue udah diatur sedemikian rupa sehingga banyak pelajaran yg bisa diambil, ga percaya sama suatu hal atau seseorang, dan juga bahkan ga percaya sama waktu yang katanya bisa bantu gue ambil keputusan lebih bijak.

Belajar percaya emang ga semudah itu. Tapi gimanapun juga, percaya dan harapan justru bikin kita punya energi untuk lakuin apa yang kita bisa buat bikin hidup kita bermakna. Gue pribadi punya banyak pe-er terkait ningkatin kapasitas percaya ini. Semoga proses yang gue jalani makin bikin gue belajar buat percaya dan berharap, supaya gue tetep punya energi 😊

It’s about time, kalau kata seseorang. Will see gimana gue bisa belajar dalam hal ini.

@yosea_kurnianto

Seminggu Sebelum 2016 Usai

Seminggu sebelum 2016 usai, aku sempetin buat secara pribadi lakuin review dan refleksi apa yang terjadi dalam setahun ini. Tahun 2016 ini campur aduk. Beberapa keputusan yang menurutku penting akhirnya aku ambil. Kalau mau liat sisi beratnya, 2016 memang cukup ‘tough’ buatku. Banyak tantangan, kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran, kekesalan, dan juga ketakutan menyelinapi sisi-sisi kehidupanku. Begitu juga kalau mau diliat sisi asyiknya, 2016 banyak memberikan pengalaman dan perspektif baru; baik yang benar-benar asyik karena baru terjadi pertama kali dalam hidup, atau yang dibuat asyik karena dari sisi berat tadi akhirnya bisa belajar sesuatu yang baru.

Well, kalau hidup adalah rangkaian keputusan – terkadang memang lebih baik mengambil keputusan salah daripada tidak mengambil keputusan sama sekali. Tentu setiap keputusan berbuntut konsekuensi. Kadang konsekuensi bisa kuhadapi dengan santai, kadang justru bikin makin puyeng. This is life. Ketidakpastian dan keterkejutan membuatnya justru kadang bikin seru.

life is full of uncertainty :)

life is full of uncertainty 🙂 – pict: http://www.elitereaders.com/

Aku selalu khawatir justru ketika aku merasa hidupku tenang-tenang aja; tidak ada hasrat untuk membuat, mencapai, atau mengubah sesuatu. Aku selalu berpikir bahwa hidupku akan singkat, sehingga aku mencoba berpikir apa yang bisa aku eksplorasi lagi dalam kehidupanku. Meski kadang sumberdaya untuk eksplorasi hal-hal baru tidak memadai, tapi aku selalu mencoba untuk mencari jalan. Kadang kesal juga dengan pola pikir seperti ini. Tapi mungkin ini jadi salah satu keunikanku, yasudahlah ya 😀

Balik ke soal review dan refleksi 2016. Sisi-sisi beratnya mengajariku berani sekaligus hati-hati dalam ambil keputusan. Nah loh, gimana tuh. Dalam ambil keputusan di usia-usia begini, memang perlu hati-hati karena perlu pikirkan dampak ke depannya. Tapi juga perlu berani karena justru dalam usia begini, masih punya kesempatan utk eksplorasi keputusan lain dalam kesempatan selanjutnya. Jadi perlu coba untuk pikirkan secara seimbang. Ini ga gampang sih. Apalagi secara pribadi, aku punya tanggung jawab terkait keluarga dan sebagainya. Sisi-sisi asyiknya bikin aku makin bersyukur dan diingatkan bahwa, kadang apa yang bahkan belum pernah pikirkan, harapkan, atau doakan – justru jadi kado-kado indah dalam hidup yang disediakan oleh Sang Pencipta kalau kita ma uterus ngobrol sama Dia.

2017 mungkin naik turun juga - tapi hopefully lebih banyak surprise. Mampir ke sini juga belum pernah kepikiran, tapi dikasih kesempatan juga sama Sang Sutradara yang asyik itu.

2017 mungkin naik turun juga – tapi hopefully lebih banyak surprise daripada 2016 😀

Aku sendiri berharap 2017 jadi tahun yang lebih asyik. Umur makin tua, makin malu kalau belum banyak bisa apa-apa. Dalam listku sejauh ini, beberapa hal baru ingin aku coba explore. Entah gimana implementasinya, tapi coba pelan-pelan dulu Meski aku tahu dalam usia-usia begini tantangan akan terus bertambah dan datang silih berganti.

Nah, kemarin sore dapet email seru dari boss, potongannya begini ‘ … kita tidak boleh kehilangan harapan, kita tidak boleh takut dengan ketidakpastian, kita tidak boleh kalah dengan kegelapan yg membayang. …. Saya belajar bahwa terang akan terlihat bagi orang yang berusaha keras mencarinya. Kita tidak boleh berhenti berharap. Di dalam ketidakpastian dan kegelapan, hanya harapan, usaha dan doa yang akan membawa kita ke tujuan.’ Thanks emailnya boss, jadi penguat untuk mulai bikin hidup lebih asyik di 2017 nanti.

Selamat Natal 2016 buat teman-teman yang merayakan. Selamat menyambut 2017!

@yosea_kurnianto