Kebahagiaan dalam Keterbatasan: Belajar dari Sekolah di Lebak

Sabtu lalu (22/2/2014) saya dan rekan-rekan Gerakan Indonesia Berkibar, Bait Al-Kamil, dan BNI Syariah melaksanakan program #AyoBantuSekolah. Program ini secara mudah dideskripksikan dengan aksi pengumpulan informasi mengenai sekolah-sekolah yang perlu dibantu dari relawan @IDBerkibar, melakukan survey, penggalangan bantuan, dan kemudian mengunjungi sekolah-sekolah tersebut bersama relawan dengan berbagai program. Ini telah dimulai akhir tahun lalu dan berlanjut dengan dukungan banyak pihak. Kali ini, kami mengunjungi SDN 1 Filial Girijayabaya di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten.

Image
bentuk awal sekolahnya (photo: @ssiluth)
Image
sebagian sekolah dibongkar & dibangun o/ pemerintah (photo: @Lorcasz)

Kami berangkat dari Jakarta pukul 07.30 dan sampai di lokasi kira-kira pukul 13.30 WIB. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan melalui jalanan yang berkelok dan cukup membuat perut kami pusing. Sesampai di lokasi pun, kami masih harus mengangkut barang-barang dan berjalan kaki ke sekolahnya kira-kira 800 meter jauhnya. Jalan yang kami tempuh bukanlah gang kecil lurus dan mulus. Jalanannya berkerikil dan naik turun (karena bentuknya perbukitan). Ditambah pula, kondisi saat kami sampai di sana hujan cukup lebat. Ini membuat jalanan semakin licin dan harus sangat berhati-hati.

Hujan yang mengguyur cukup disayangkan karena membuat perjalanan semakin berat dan acara kemudian perlu diimprovisasi. Tetapi di sisi lain, hujan membuat kami belajar bahwa tidak ada perbuatan baik yang menyenangkan seutuhnya. Pasti diawali dengan usaha keras namun terbayar oleh kedamaian hati saat melihat orang lain bahagia. Oiya, jadi ingat kalau tanggal 22 Februari kemarin adalah peringatan lahirnya Bapak Pandu Dunia, Baden Powell. Satu quote yang paling banyak dikenang dari beliau adalah ‘the true way on making yourself happy is making others’ happy’. Karena membuat orang di sekitar kita bahagia bukan perkara yang mudah.

Image
Lokasi tdk bs dilewat mobil, relawan bawa barang 700-1km (photo: @Lorcasz)

Kembali ke cerita tentang #AyoBantuSekolah; sekolah ini punya cerita yang bagus. Berawal dari Ibu R.R Sutija, seorang guru yang lahir dan tumbuh di Yogyakarta, mendapatkan tugas untuk mengajar di sekolah induk Muncang, Lebak, Banten. Saat ia berangkat ke sekolah berjalan kaki dari rumahnya, ia menjumpai beberapa anak kecil yang juga berjalan kaki menuju sekolah. Ibu Sutija bertanya di mana rumah mereka. Anak-anak tersebut menyebutkan sebuah nama desa yang membuat Ibu Sutija tercengang dan iba. “Bayangkan, kalau mereka anak-anak saya sendiri, apa tidak khawatir nanti di jalan diserang ular tanah atau bahkan harimau?” ceritanya dengan mata berkaca-kaca. “Saya kemudian menyempatkan diri berkunjung ke desa mereka dan bertemu dengan kepala desa, ia sampaikan bahwa ada sekitar 31 anak-anak kecil di desa tersebut yang sekolah di sekolah induk” tambah Ibu Sutija.

Diliputi rasa iba dan kekuatan hatinya untuk mengembangkan desa-desa tertinggal di Lebak, Ibu Sutija menemui kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Muncang dan mengusulkan untuk membuat sekolah baru di mana anak-anak tersebut tinggal. Saat itu, Ibu Sutija telah menjadi kepala sekolah di sekolah induk, oleh kepala UPT pun ia kemudian ditugaskan untuk membuka sekolah baru tersebut. SDN 1 Filial Girijayabaya pun memulai sejarahnya dengan bangunan sangat sederhana dari kayu dan bambu yang dibuat atas gotong royong warga.

Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu oleh 4 orang guru senior. Salah satunya bernama Pak Ajen. “Bapak siap atau tidak? Tanya Ibu ke saya waktu ngajakin ke sekolah ini” kata Pak Ajen sambil menirukan gaya Ibu Sutija. “Awalnya saya itu belum punya motor, jadi jalan kaki lewat hutan di sana sekitar 2 jam perjalanan” kisahnya. “Pernah saya sakit hati dengan rekan guru di sini, karena memang akhirnya sering terlambat ke sekolah. Dia sampai bilang ‘kalau sampai sekolah jam segini sih langsung pulang aja’” ceritanya.

Dalam program #AyoBantuSekolah ini saya mendapat tugas untuk sharing dengan guru-guru yang ada di sana. Kisah-kisah guru hasil sharing tersebut akan saya sampaikan dalam cerita berikutnya.

Image
Bsm Ibu Sutija, Pak Ajen, Bait Al-Kamil, BNI Syariah, & relawan @IDBerkibar (photo: @Lorcasz)

Hari itu bisa saya katakan sebagai hari belajar yang sangat berharga. Saya menemukan ada kebahagiaan yang mereka dapatkan meski dalam perjuangan-perjuangan hidup mereka. Menerima keadaan dan kekurangan mereka adalah kunci dari kebahagiaan itu. Jika dalam kondisi tersebut mereka banyak mengeluh dan menuntut pemerintah saja tanpa melakukan sesuatu, tentu kebahagiaan tidak datang dalam hidup mereka. Hal mendasar lain yang saya temukan adalah, desa tersebut beruntung memiliki Ibu Sutija dan Pak Ajen. Mereka yang menyadari kekurangan dan berbuat sesuatu untuk perubahan menjadikan cahaya terang untuk desa itu. Bukankah orang sakit akan semakin cepat sembuh (kira-kira 80%) jika ia sudah menyadari bahwa ia sakit? Ini kata psikiater sih 😀

Image
Bsm murid-murid SDN 1 Filial Girijayabaya 🙂 (Photo: @Lorcasz)

Terima kasih sekali lagi untuk Gerakan Indonesia Berkibar dengan relawannya yang gokil nan tangguh, Bait Al-Kamil, dan BNI Syariah. Teruslah berbuat kebaikan.

Image
Jalan licin, berbatu+lumpur, terjal naik-turun, jurus: nyeker 😀 (photo: @Ssiluth)

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s