Akhirnya Bapak Mamak Terbang Juga!

Obrolan gue di masa kecil akhirnya jadi kenyataan. Sebagai anak nomor 4 dari 7 bersaudara yang tinggal di desa; waktu kecil emang pengalaman naik pesawat dan pergi ke tempat-tempat jauh, jauh banget dari pemikiran sehari-hari kita. Tapi untungnya Bapak dan Mamak (read: Ibu) gue selalu ngajarin untuk berpikir positif bahwa suatu saat kalau kita berusaha sungguh-sungguh, kita bisa capai apa yang kadang jauh dari pemikiran kita.

Nah, ga kayak temen-temen gue yang lebih beruntung lainnya, gue emang baru naik pesawat pertama tahun 2011 untuk semacam tugas mewakili Indonesia keluar. Semua biaya dibayarin Kementerian Pemuda dan Olahraga kala itu; jadi emang tinggal ongkang-ongkang kaki. Abis dari situ naik pesawat dan pergi ke tempat-tempat jauh jadi hal yang cukup biasa. Tapi nggak kalau buat Bapak Mamak. Meski anak-anaknya udah ke sana ke mari, mereka belum sempet nyicipin beberapa produk teknologi modern yang kita sering nikmati.

Awal tahun ini gue mikir-mikir kira-kira apa yang mau dan bisa gue ‘usahakan’ di tahun ini. Salah satu hal yang kepikir adalah untuk fasilitasi beberapa pengalaman pertama untuk Bapak dan Mamak. Beberapa pengalaman pertama yang tahun ini bisa gue coba usahakan adalah naik pesawat dan melihat situasi di luar pulau Jawa. Tapi akhirnya, Thanks God, Bapak Mamak juga mulai eksis di dunia maya.

Terdengar lucu sih. Tapi memang setiap orang dikaruniai kondisi-kondisi yang menarik. Misal Papa-Mama lo udah sering begini, tapi belum pernah begitu. Sama kayak Bapak Mamak gue sering begitu, tapi belum pernah alami yang begini. Haha, anyway. Kita semua harus bersyukur dengan kondisi-kondisi yang disediakan buat kita, beserta perjuangan-perjuangan yang perlu dilakukan dalam setiap konteksnya.

Well, OK. Waktu gue bilang mau ajak mereka untuk naik pesawat dan ke Kalimantan, sempat mereka bilang ‘mending uangnya ditabung buat yang lain’ etc. Biasa lah ya. Hahaha. Tapi sempet gue sampaikan kalau dalam konteks ini gue lebih prefer ‘bayar’ untuk beli pengalaman, daripada bayar untuk barang atau lainnya. Selain itu, memang kakak paling tua gue sejak beberapa tahun terakhir tinggal di Samarinda; jadi sekalian nengokin kondisi di sana.

Finally kita naik pesawat bombernya Garuda Indonesia dari Jogja ke Balikpapan dan sebaliknya. Dari Balikpapan kita naik mobil ke Samarinda dan gue sengaja pilih hotel yang cukup oke; karena Bapak Mamak belum pernah juga nginep di tempat yang lumayan. Secara pribadi gue happy liat tiap ekspresi mereka; gue emang bener-bener observasi sih dari awal berangkat dari rumah. Kerasa banget ada anxiety, excitement, happiness, dan you know lah gimana perasaan orang-orang yang baru pertama kali mengalami sesuatu – plus ditambah mereka akhirnya mengunjungi tempat perantauan anak pertamanya. Sampai-sampai malam pertama dan kedua di hotel mereka ga bisa tidur 😀

Sempet ke Desa Budaya Dayak – Pampang di Samarinda

Mamak gue juga sekarang udah pake WA dengan casciscus setelah kemarin gue dapet hadiah HP Android yang saat dapet, gue langsung kepikiran ini buat Mamak aja. Semoga dengan going digitalnya Mamak, makin banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa dia serap dari desa; yang bikin dia makin bijak dengan cepatnya perubahan dunia.

Masih ada beberapa list yang gue usahakan untuk fasilitasi pengalaman pertama buat mereka. Semoga Bapak Mamak terus sehat supaya list-list itu bisa satu per-satu direalisasikan.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Obrolan Usai Ujian Akhir CHRP: 2 Hal Praktisi HR Harus Pahami

Di tulisan sebelumnya aku cerita soal gambaran program Certified Human Resources Professional (CHRP) di bawah naungan UNIKA Atma Jaya Jakarta dan alasan kenapa aku ikut program ini. Ini tulisan terakhir dari rangkaian tulisan tadi, mau share diskusi menarik dengan mentor dan penguji makalah CHRP yang bantu aku dan tim. Sebut saja Pak ESA, seorang direktur HR perusahaan ternama dan besar di Indonesia. Saat pertama kali kita email untuk minta bantuan beliau membimbing, jawaban beliau sangat menarik: ‘Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan teman-teman. Mengingat spirit membangun negeri dan mencetak profesional handal bidang HC, maka saya bersedia membimbing.’

OK. Pertama soal frasa ‘kepercayaan yang diberikan’ dan yang kedua soal ‘membangun negeri dan mencetak professional…’. Kata-kata itu langsung membuat gambaran bagaimana Bapak ESA ini passionate banget dalam area HR, yang akan sangat disayangkan kalau aku kehilangan kesempatan belajar dari beliau.

Pertemuan pertama untuk diskusi topik dilakukan di kantornya. Aku dan seorang teman datang memaparkan topik makalah yang ingin kami tulis. Dang! Kita langsung bengong saat beliau bilang ‘Kalau mau jadi Certified Human Resources Professional’ jangan nulis pake 1 angle yang sempit seperti ini, harus dibahas dari bermacam spektrum. Kan kalian berkelompok, satu orang satu spektrum, terus nanti dijahit. Kalau mau saya bimbing ya harus begitu’.

Semacam kabar buruk tapi juga kabar baik. Kabar buruknya memang dalam waktu yang singkat, kita harus membahas 1 topik dalam banyak kacamata. Tapi kabar baiknya tentu kelompok kami jadi belajar lebih banyak hal. Singkat cerita, kita bereskan makalah kita yang berjudul ‘A Study and Recommendation: Implementation of Enterprise Social Network and Its Impact to HR Spectrums in an Organization’. Kami gunakan pembagian spektrum dari People House yang dikenalkan oleh program CHRP ini, yakni terdiri Organization Development, Attraction, Development, Motivation, dan Retention. Karena kami 5 orang, jadilah masing-masing kami membahas 1 spektrum.

Saat ujian, kami presentasikan masing-masing spektrum yang kami kerjakan. Pak ESA kemudian men-challenge kami dengan, menurut saya, pertanyaan yang bagus dan menarik. Situasi yang awalnya ujian menjadi diskusi yang menambah wawasan dan perspektif.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 16.25.37

Tim Makalah dan Mentornya (1 anggota tim sakit)

Setelah selesai semua, beliau bertanya ‘Dari semua hal yang kita bicarakan soal HR, apa sih sebenarnya 2 role utama kita di organisasi?’

Eng ing eng. Mata kita saling tatap menatap. Beberapa dari kami mencoba menjawab, tapi belum sesuai apa yang ada dalam benak Pak ESA.

Ternyata jawabannya menurut beliau adalah: ‘management ekspektasi’ dan ‘driving behavior’. Sebagai praktisi HR kita harus mampu menjembatani ekspektasi management dengan ekspektasi karyawan. Di sinilah pengetahuan dan kemampuan terkait industrial relation, compensation & benefit etc dll dsb dibutuhkan. Kemudian soal ‘driving behavior’ untuk mencapai tujuan organisasi menjadi hal yang tidak bisa terelakkan. Kemampuan praktisi HR untuk menerjemahkan visi misi organisasi ke dalam model organisasi, development, culture, etc harus terus ditingkatkan.

Sangat fundamental sih memang. Tapi mungkin 2 hal itu bisa jadi bahan refleksi kita yang berkecimpung di area HR: apakah sejauh ini kita secara pribadi mampu berkontribusi dalam 2 hal tersebut. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi tidak sulit juga kalau kita lakukan dengan bersungguh-sungguh.

@yosea_kurnianto

Kenapa Aku Ikutan Certified Human Resources Professional (CHRP)

Nah, setelah bahas soal gambaran program Certified Human Resources Professional (CHRP) di bawah naungan UNIKA Atma Jaya Jakarta buat kamu-kamu yang pengen ikut tapi masih galau; sekarang aku mau cerita alasan dan awal-awalnya aku pengen ikut program ini.

Saat S1 jurusanku pendidikan. Pas mulai kerja pertama kali dapat kesempatan di area HR sampai sekarang. Memang sih ada beberapa hal yang bersinggungan antara jurusan pendidikan dengan area HR, tapi banyak yang aku belum pernah pelajari. Terutama dengan role baru yang aku jalankan di kantor, aku perlu banget paham proses-proses yang ada. Sering aku percaya bahwa knowing is owning; semakin banyak  kita belajar semakin banyak kita punya kesempatan untuk kontribusi lebih baik.

Kalau aku ambil S2 – tahun lalu belum bisa meninggalkan Indonesia karena beberapa alasan fundamental (#ceileh), pun kalau ambil di dalam negeri bakal butuh 2 tahun dan kelasnya malem. Masa mudaku bakal terenggut oleh kejamnya jalanan Jakarta dari kantor ke kampusnya, yang capeknya bakal menelan konsentrasi kuliah dan kerja. Jadilah aku cari program yang bisa bantu aku belajar secara komprehensif dalam waktu yang tidak terlalu lama, akhirnya nemu info program CHRP ini.

Awalnya pengen ikutan di tengah tahun 2016. Sempat email-email sama Mbak Admin programnya, tapi akhirnya aku delay karena ikut program di luar negeri selama sebulan. Pas udah balik, dapet role baru di kantor. Jadi aku prioritaskan waktuku untuk sesuaikan diri dan pelajari ini itunya dari role tersebut. Awal 2017 kemarin baru akhirnya kesampaian.

16473426_10211884598975556_7395449622357363845_n

Ngikutin kelas dgn sok serius :p (credit photo: Pungki Purnadi)

Aku info ke atasanku kalau aku mau ikutan program ini secara mandiri; dan minta geser jam kerja, supaya jam 16.30 WIB aku bisa langsung jalan ke kampus UNIKA Atma Jaya di Semanggi. Kantorku lokasinya di area Pulogadung; jadi 1-1,5 jam perjalanan biasanya – pernah juga sik 2 jam :’) – padahal naik motor.

Soal biayanya, karena program ini harus bayar di awal sebelum kelas berjalan; dan bukan duit kecil, singkatnya aku bersyukur dapat support dari seorang Bapak CEO perusahaan multinasional yang dari dulu selalu dorong aku untuk belajar dan kuliah.

Anyway, akhirnya tiap hari mulai Januari sampai Maret aku ikutan program ini. Motivasi utamaku tentu untuk belajar basic end-to-end proses HR. Baik materinya secara langsung relevan atau kurang relevan dengan pekerjaanku saat ini, aku telen aja. Beberapa kali merasa bosan juga sih karena menurutku ada pembahasan yang mungkin saja segera usang di masa yang akan datang; tapi sering excited dengan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah aku pelajari. Selain itu, happy juga ketemu banyak peserta lain yang gokil dan lebih banyak pengalaman kerja dari aku.

Namanya juga belajar di kelas, pasti ada dosen yang sangat inspiring ada juga dosen yang membuatku menyesal datang ke kelasnya. Hahaha.. Beberapa dari mereka sharing dengan ketulusan membagi ilmu, tapi ada juga yang (terlalu) membanggakan hasil kerjanya di masa lampau. Well, people are unique lah yah. Hahaha..

So, secara umum ekspektasiku tercapai. Apa yang jadi tujuan utamaku di awal cukup terpuaskan setelah ikut program ini, bahkan dapat bonus hadiah saat graduation 😀 Hopefully apa yang aku pelajari bisa aku lipatgandakan dengan karya-karya di masa yang akan datang.

@yosea_kurnianto

Baru Kelar Ikut Certified Human Resources Professional (CHRP)

Setelah hampir sebulan programnya selesai, aku baru sempat nulis soal program semacam kursus atau sertifikasi yang aku ikutin dari Januari-Maret 2017. Nama programnya adalah Certified Human Resources Professional (CHRP) yang diselenggarakan di bawah naungan Universitas Atma Jaya Jakarta.

Di tulisan ini, aku ga perlu cerita awal dan alasan kenapa akhirya aku ikutan CHRP yah. Tapi kalau mau baca bisa diakses di SINI ceritanya. Aku akan bahas gambaran programnya lewat beberapa paragraf di bawah. Pas sebelum ikutan kemarin agak susah nyari referensi gambaran program, semoga tulisan ini membantu kamu yang kepengen tapi ragu-ragu.

Highlight program CHRP mungkin: 6 minggu kelas intensif, kelasnya Senin-Jumat jam 18.30 – 21.00 WIB & Sabtunya ada ujian dan/atau kelas dari jam 08.30 – 14.30an WIB, ada 3 block bahasan dibagi beberapa materi, setiap bagian materi ada ujian tertulis, bikin makalah untuk tugas akhir, selesai program ada graduation dan dikasih sertifikat yang ditandatangani rektor UNIKA Atma Jaya Jakarta. Well, supaya lebih kebayang, aku bagi ke dalam beberapa bagian bahasan ini yah:

.1. Pendaftaran

Proses pendaftaran CHRP cukup simple. Email aja ke chrp_atmajaya@yahoo.com  untuk minta formulir dan informasi jadwal etc. Nanti akan dibalas dengan informasi dan lampiran yang menurutku gampang dimengerti. Setelah kirim formulir dan diinfo kalau masih ada seat untuk programnya, lakukan pembayaran. Aku ga akan sebut nominal harga program sih yah, karena mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Tapi yang jelas kamu bisa bayar 2 kali. Sekitar 40-50% di awal, dan sisanya dibayar sebelum ujian kedua dilakukan.

.2. Struktur / Konten Program

Pertemuan pertama adalah pembukaan dari pejabat kampus dan penjelasan program. Intinya CHRP yang digagas tim UNIKA Atma Jaya ini awalnya dimulai tahun 2006; sampai sekarang udah ada 37 batch (bacth yang aku ikuti), segera akan dimulai batch 38. CHRP dibagi dalam 3 block: (1) Human Resources – (2) Industrial Relations (IR) – (3) Compensation & Benefits (ComBen). Masing-masing block ini ada sub-block; semisal HR ada OD, Recruitment, Talent Management, etc – di IR ada bahas soal PKWT/PKWTT, Penyelesaian Persilihan, etc – terus yang ComBen ada bahas soal Salary Structure, Salary Survey, etc. Masing-masing sub-block ini diujikan. Jangan mabok dulu, masih panjang tulisannya 😀

CHRP ini juga kenalkan yang mereka sebut sebagai People House untuk structuring issues di HR; isinya dari Organization Development, Attraction, Development, Motivate, Retention. Lebih jelasnya nanti pas ikutan programnya ya ^^

Nah menurutku sih, kontennya cukup padat. Semacam end-to-end basic proses di HR. Buat aku yang ga berlatarbelakang pendidikan yang terkait langsung sama HR sih sangat membantu yah. Meski memang buat sebagian perusahaan, kadang-kadang menerapkan hal yang berbeda dalam praktik sehari-harinya; tapi always good to know what others (or most people) are doing juga 🙂

16195854_10211764918343615_932306056528540872_n

Salah satu suasana diskusi kasus. (credit photo: Pungki Purnadi)

.3. Suasana Kelas dan Peserta

Pernah dengar kalau jumlah peserta maksimal dari program ini 40 orang. Saat batch 37 yang aku ikuti, awalnya ada 39 orang, tapi 1 satu peserta yang akhirnya mundur dan akan lanjutin di batch selanjutnya. Anyway, peserta datang dari banyak perusahaan dengan berbagai latar belakang dan tingkat jabatan. Ga bisa dipungkiri sih, ada beberapa yang memang ikutan karena pengen ikutan, ada beberapa yang dikirim perusahaan dan mungkin terpaksa ikutan. Tapi semuanya menggemaskan 😀

Setiap sebelum kelas kita memang disediakan makan malam. Abis makan, biasanya dimulai pemaparan dari dosen; baru kemudian terjadilah perang tanya-jawab-curhat-nyinyir-dan sebagainya. Proses interaksi antar peserta dan dosen sering membuat pembahasan jadi sangat menarik; apalagi mendengar kasus-kasus lucu yang terjadi di perusahaan teman-teman peserta.

Karena peserta yang sangat beragam (beberapa sudah lama di area HR, beberapa lainnya baru berkecimpung), jadi beberapa pertanyaan terdengar sangat klise, beberapa pertanyaan lain bisa tampak sangat ‘sophisticated’. Ini memang kondisi biasa; tapi yang aku pikir luar biasa adalah mereka yang sudah di level GM dan Direktur pun banyak ikutan kelas ini dan mendengarkan dengan sabar setiap celoteh yang ada. Aku yang tergolong peserta paling muda dan paling ‘cungpret’ jadi banyak belajar bukan cuma dari materi dan interaksi, tapi dari setiap profil peserta lainnya.

Dalam sisipan kelas, ada 1 kali outing yang dirancang oleh peserta, tapi disubsidi dananya oleh penyelenggara program.

IMG-20170211-WA0001

Peserta Batch 37

.4. Ujian

Nah, kita dikasih ujian untuk hampir semua sub-block/materi, meski ada beberapa materi yang digabung dalam 1 ujian. Rata-rata waktu ujian adalah 2 jam tiap sesinya. Kayak dulu jaman sekolah lah yah, topik-topik yang kita bisa atau suka pasti merasa gampang, yang kita lemah akan terasa sulit. Jenis soal ujian juga tergantung dosennya; hahaha maksudku ada dosen yang kasih ujian semacam kita disuruh rangkum materi yang dia ajarkan, ada dosen yang kasih ujian dengan analisa, ada dosen yang kasih ujian selain jawabannya harus benar tulisan kita juga harus mudah dibaca dan indah kata-katanya. Hahaha ‘dilemma on assessment’ yang juga banyak terjadi di dunia pendidikan.

Oya, ujian ini ada juga semacam syarat kelulusan minimal. Kalau di bawah nilai tertentu, kita perlu ujian ulang sampe lulus :’D

.5. Makalah dan Ujian Akhir

Sebulan sebelum program usai, kita dapat brief soal makalah. Ini sebagai syarat kelulusan program, persis kayak bikin skripsi atau thesis kalau kita kuliah reguler. Makalah ini dikerjakan berkelompok, satu kelompok 4-5 orang. Topik ditentukan oleh peserta yang kemudian harus cari semacam mentor / pembimbing sekaligus yang akan menguji dari dosen (bisa juga dosen tamu) yang ada. Nah, aku dan timku milih mentor seorang direktur HR perusahaan lumayan gede; di-challenge mati-matian, tapi jadi belajar banyak 🙂 Cerita soal makalah dan ujianku bisa dibaca di SINI.

.6. Graduation

Nah, kalau udah selesai semua. Tinggal graduation deh. Panitia graduation ini juga disusun oleh peserta. Kebetulan aku dipercaya buat acara di batch 37 ini; tapi kayaknya soal ini aku ga perlu ceritain detail. Hahaha.. Pas graduation ini akan diumumkan Top 3 dari batch yang berlangsung berdasarkan total nilai, dan juga peserta terfavorit berdasarkan voting semua peserta. Akhirnya, buat yang lulus, diterima lah sertifikat CHRP-nya. Buat yang masuk Top 3, diterima juga hadiahnya. Alhamdulilah deh dapet tambahan hadiah ini 😀

WhatsApp Image 2017-03-31 at 20.11.07

Suasana setelah graduation 🙂

Nah, kira-kira itu sih ya gambarannya. Dari aku sih, programnya cukup membantu belajar end-to-end proses seputar HR. Yang lebih penting karena ini di bawah naungan Universitas dan sertifikatnya ditandatangi rektor, maka prosesnya secara akademik cukup baik. Kalau sempat cari tahu program lainnya, ada juga CHRP atau sertifikat semacam lainnya yang cuma deliver beberapa hari, like, seriously? Ini yang 6 minggu aja banyak yg harus digali sendiri, kalau beberapa hari dan udah certified? OMG. Hahaha

Kalau mau tanya-tanya detil soal programnya, monggo langsung kirim email ke chrp_atmajaya@yahoo.com

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Tak ada Janji, Jangan Mengandalkan Manusia

Don’t rely on people. Sebuah kalimat yang dibahas panjang lebar oleh penceramah Joel Osteen dalam sebuah video yang saya tonton di Youtube. Beberapa hari setelah menonton film tersebut, saya membaca kalimat singkat yang ditulis oleh seorang teman yang berkata ‘nothing was promised to you’. Kedua kalimat yang saya dengar dan saya baca ini serta merta nyambung dan semacam mengingatkan sebuah pesan yang lama saya dengar dari seorang Bapak tua yang bertemu tanpa sengaja beberapa tahun silam di sebuah desa (yang entah masih hidup atau sudah tiada).

Flashback sedikit dengan Bapak tua tersebut, sebuah obrolan kalau kita-kita manusia ini lahir tanpa punya kesempatan untuk milih dari mana (atau siapa) dan dalam kondisi apa kita dilahirkan. Sehingga kita juga tidak punya kesepakatan atau perjanjian yang harus kita penuhi selama menjalani kehidupan. Tidak pernah sebelum lahir, misalkan saya, bikin perjanjian dengan Sang Pencipta atau bakal orang tua untuk lakukan A, B, atau C dan saya akan dapat J, K, atau L. Baru saat kita lahir, tergantung dalam kondisi dan situasi seperti apa, kita mendapat doktrin, atau lebih halusnya pengajaran, pengertian, bahkan hegemony buat lakukan sesuatu untuk dapat sesuatu. Perjanjian-perjanjian kemudian disampaikan manusia lainnya, tanpa ada semacam kepastian bagaimana rangkaian kehidupan menjamin.

Life is full of surprises!
Pict: http://bsnscb.com/

Seiring berjalannya kehidupan, beberapa manusia mengambil jalan untuk merasa memiliki piutang janji dari Sang Pencipta atau manusia lainnya. Beberapa manusia lain mengambil keputusan untuk menghadapi perjalanan hidup tanpa pegangan janji semacam itu. Hal ini juga membuat beberapa orang punya tujuan hidup yang kuat dan tidak mau mengandalkan orang lain, beberapa sisanya berharap untuk ‘mengalir’ tergantung pada keputusan-keputusan orang di sekitarnya.

Saya tidak berkata satu kelompok orang lebih baik dari kelompok lainnya. Tapi dalam banyak kesempatan perjalanan hidup yang singkat ini, saya banyak belajar – bahwa ‘mengalir’ saja tidak cukup. Saya mendapat pemahaman bahwa benar keputusan-keputusan orang di sekitar kita bisa membuat hidup kita ‘mengalir’ menuju sesuatu yang baik. Tetapi mengandalkan orang lain, bahkan menganggap orang lain ‘hutang janji’ kepada kita karena ketidakmampuan dan ketidakberanian kita mengambil keputusan dan resiko menurut saya sangat tidak seksi.

Kehidupan memang memberikan segala, tapi usaha kita yang menentukan kita mendapat apa-apa. Tanpa tujuan yang kuat dan usaha yang keras, sangat jarang sekali orang dapat menemukan makna kehidupannya secara jelas.

Baiklah, memang tidak ada yang dijanjikan kepada kita sebelum kita lahir. Tapi buat sebagian kita yang menerima pengajaran soal janji-janji dan berusaha mempercayai, lakukanlah dengan segenap hati. Jangan mengandalkan manusia atau keputusan-keputusannya, andalkan Sang Pemberi Janji itu 🙂

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Kelola Kecewa

Ada seorang pemilik kebun yang kasih kepercayaan ke seorang penjaga. Pemilik kebun ini cuma datang buat liat setahun sekali. Biasanya dia datang untuk liat kondisi dan ngobrol sama penjaganya. Suatu waktu si pemilik kebun datang dan liat satu pohon yang menurut pengamatan sang pemilik nggak menghasilkan buah sejak tahun lalu.

Cukup wajar kalau pemilik kebun kecewa, karena dari semua pohon di kebunnya, cuma pohon ini yang ga berbuah. Pemilik kebun akhirnya panggil penjaga dan minta pohon ini ditebang. Surprisingly, penjaga jawab, “Kasih kesempatan 1 tahun lagi. Biar saya coba cangkul tanah sekelilingnya dan kasih pupuk. Kalau emang sampai tahun depan masih ga berbuah, kita tebang saja”.

Seperginya pemilik kebun, penjaga itu lakuin apa yang ia katakan ke pemilik. Dengan sabar ia cangkul tanah di sekeliling pohon dan kasih pupuk, kemudian merawatnya. Penjaga kebun itu tahu, bahwa permasalahan pohon yang ga berbuah bukan serta merta dari daun atau rantingnya, tapi lebih dari itu: pada akarnya.

unfruitful-tree

‘beresin akarnya’ (pict: id.pinterest.com)

Nah, sering banget kita lupa kalau kecewa atau punya masalah, yang kita liat dan ‘gempur’ hanya apa yang tampak ke kita; tanpa mau beresin akarnya. Tentu tidak semua orang mau dan mampu untuk gali akar kecewa atau masalah, sehingga ‘action’ yang dilakukan hanya bersifat sementara bahkan tidak tepat pada sasaran utamanya.

Lebih parahnya kalau orang tahu akar masalahnya apa, tapi ga ada yang ‘berani’ untuk memperbaikinya. Menggali akar harus diikuti oleh ‘action’ yang kadang bikin ada rasa ga nyaman dan mengganggu. Kayak paramedis/dokter kalau mau nyembuhin luka juga kadang ‘perlu melukai’ bagian lain dulu. Proses ini butuh komitmen sih.

Menggali akar kecewa atau masalah dan membenahinya emang ga gampang. Kadang juga menyakitkan. Bukankah dalam beberapa kondisi, yang pahit justru bisa jadi obat yang manjur?  Kita harus mau untuk ambil sikap yang mungkin juga bikin konfrontasi dengan kondisi yang ada. Emang sih kita perlu tahu batasan, tapi perlu berani juga untuk lakukan. Udah banyak orang yang malas gali akar, ga mau konfrontasi (demi kebaikan), yang akhirnya bikin kita cuma jadi rata-rata dan  kurang produktif.

Balik ke soal penjaga kebun: dia dapet kesempatan untuk ‘selamatkan’ 1 pohon yang ga berbuah, dia langsung perbaiki dari akarnya. Ini cukup menginspirasi sih. Selama ini gue kadang juga takut ‘gali akar’ dan yang paling penting: ambil sikap/action soal itu.

Manusia emang susah untuk ga kecewa. Butuh kebijaksanaan untuk mengelola kecewa. Butuh lapang dada dan pikiran terbuka untuk gali akar.

Kelola kecewa ini juga bukan soal kita kecewa ke orang lain / kondisi lain doank. Tapi juga sebaliknya, kalau ternyata kita yang dalam posisi ‘pohon ga berbuah’ itu – dan orang lain kecewa sama kita, kita juga perlu insropeksi dan perbaiki akar sendiri :’)

@yosea_kurnianto

Nasib Gue: Punya Paspor Indonesia

Tadinya gue males sih ceritain ini, agak memalukan gimana gitu, tapi tergelitik juga akhirnya. Jadi gue lagi nunggu info tentang visa ke sebuah negara yang kalau di peta hampir ga keliatan – karena bentuknya ‘cuma pulau’ – dan ga punya kedutaan di Indonesia. Pas gue cek di website negaranya, cuma sedikit negara yang butuh visa ke sana, salah satunya Indonesia. Gemes sih rasanya, dan tetiba keinget pengalaman-pengalaman dari dulu soal paspor dan visa; sampai yang terakhir kemarin ‘diangkut’ di imigrasi perbatasan China dari Mongolia.

Sekilas balik dulu, pertama kali gue ke luar negeri pas awal kuliah, gue banyak ditanyai banyak di imigrasi – dikira gue akan jadi semacam TKI (illegal) gitu? Padahal kali pertama gue keluar negeri adalah karena delegasi Indonesia buat sebuah acara kepemudaan. Dan, waktu masuk Eropa di awal kuliah dulu juga sama. Gue diundang untuk pertemuan program yang didanai sama Raja Swedia dan (almarhum) Raja Arab, tapi gue ditanyai banyak banget – semacam ‘refugee’, sampe gue akhirnya keluarin ‘surat sakti’nya. Hahaha, ini karena muka gue atau karena passport gue Indonesia yah? Hahaha…

ilustrasi passport (sumber: http://makassar.imigrasi.go.id/)

ilustrasi passport (sumber: http://makassar.imigrasi.go.id/)

Well, pengalaman terakhir gue terkait ini adalah pas tengah tahun lalu ikutan program dari Asia Europe Foundation untuk travelling 1 bulan sambil belajar di Russia, China, dan Mongolia. Pesertanya 47 orang, masing-masing negara cuma 1 orang. Langsung aja cerita soal per-passport-an ini 🙂

Rute travelling program itu adalah Beijing – Harbin – Vladivostok – Chita – Irkutks – Ulanbatar – balik lagi ke Beijing. Masuk Beijing pertama kali aman, proses imigrasinya cepet. Dari Beijing ke Harbin naik kereta kapsul sekitar 6-7 jam. Dari Harbin naik kereta lagi, hingga sebuah perbatasan, pindah bus dan masuk imigrasi perbatasan. Nah sorry banget gue lupa nama perbatasannya, dan di area itu ga boleh foto. Di sini, beberapa passport diminta oleh petugas imigrasi untuk didokumentasikan, termasuk passport gue. Kalau ini, kata mereka, sebelumnya belum pernah ada orang dari negara yang passportnya diminta itu lewat di perbatasan ini.

OK, masuklah gue ke Russia dengan aman. Dapet pengalaman setengah rute kereta Trans-Siberian dan keunikan-keunikannya (cerita detilnya lain kali ya). Keluar dari Rusia ke Mongolia pake kereta juga: pas di perbatasan petugas imigrasi Russia masuk ke gerbong-gerbong, dia pake semacam device (yang menurut gue canggih) untuk periksa dan cap passport. Pas dia dapet passport gue, dia ambil device lain untuk tes keasliannya. Petugas itu dengan detil ngeliatin dan ‘nginceng’ pake devicenya. Temen se-kabin gue dari Eropa nyeletuk ‘kayaknya dia belum pernah pegang passport Indonesia, atau ga tahu Indonesia itu di mana’.  Kzl gak?

Di 1 kabin kereta ada 4 kasur begini: 2 di atas 2 di bawah. 1 gerbong ada beberapa kabin.

Di 1 kabin kereta ada 4 kasur begini: 2 di atas 2 di bawah. 1 gerbong ada beberapa kabin.

Nah, masuk Mongolia agak beda. Petugas imigrasi datang ke gerbong-gerbong untuk ngambilin passport dan mereka bawa ke kantor imigrasi mereka. Selesai dicap, mereka balik lagi dan dibagiin ke penumpang kereta. Di Ulanbatar dan beberapa kota di Mongolia, pengalaman yang gue dapet juga cukup unik. Tapi fokus tulisan ini bukan di situ. Hahaha..

Lanjut, dari Ulanbatar kita naik kereta lagi menuju Beijing sebagai tujuan akhir. Keluar dari Mongolia, prosesnya lancar dan aman. Nah pas masuk perbatasan China:

Petugas imigrasi China ambil passport semua penumpang dan dibawa. Pas masuk kabin gue, dia ambil passport dan keluar. Oya, di kabin gue ada 4 orang. Saat itu kita lagi main kartu UNO. Dan petugas imigrasi yang ambil passport gue teriak ke temennya ‘Indonesia’ dengan nada tanya. Selang sedikit waktu, ada petugas imigrasi lain yang pegang passport gue dan datang ‘would you please come with me?’. OK, berasa ada yang ga beres, gue sudahi permainan UNO dengan 3 temen gue dan ikut dia – pake kaos plus jaket, celana jeans, dan sandal (karena udah malem banget).

Ternyata bukan cuma gue, tapi ada 4 temen lain di program yang sama: dari Pakistan, Kazakhztan, Thailand, dan Malaysia udah di gerbong depan. Kereta berhenti. Kita turun didampingi belasan petugas imigrasi keluar stasiun, kemudian diminta naik bus, dan bus berhenti di kantor imigrasi kota itu. Oya, nama kotanya Erlian.

Rasanya campur aduk, kenapa nih? Sampai di kantor imigrasi, kita dipanggil satu-satu untuk difoto; dan di komputer mereka ada foto-foto ‘suspect’! Wuanj*r. Foto kita semacam dianalisa kemiripan dengan ‘suspect-suspect’ itu. Harga diri gue berasa dicabik-cabik. Nambah lagi, temen gue yang dari Pakistan di passportnya pernah datengin hampir semua negara yang lagi konflik di Timur Tengah. Yang untungnya setelah dia jelasin, itu semua adalah tugas dan/atau undangan dari United Nations.

Hahaha.. Udah gitu, kita terus ditanyain ‘Why do you come to China?’ – dan untungnya teman kita dari Malaysia yang keturunan Chinese bisa jelasin ‘We are invited by your Ministry of Foreign Affairs’ – dan para petugas itu baru sadar kalau kita ini satu rombongan. KZL minta ampun.

Kita nunggu lama. Karena di setiap perbatasan negara, kereta akan diganti rodanya sesuai spek yang berlaku di negara tersebut. Alhasil karena lama banget, temen gue dari Pakistan yang cukup gokil itu memecah suasana, ‘Can we have some tea and snacks?’ – OMOOO! Lagi masuk golongan suspect kok berani-beraninya minta ‘service’ lebih.

Tapi mengejutkan, mereka jawab yang intinya kalau teh mereka ga punya. Tapi mereka keluarin air putih dan berbagai macam snacks. Dan sebelum kita jalan lagi, temen-temen gue minta foto di depan kantor itu. Hahaha.. ‘we had a free city tour beyond the program’ celetuk salah satu temen gue.

14435419_10210399006312265_1870437199466612172_o

(kanan ke kiri) Kazakhtan-Indonesia-Thailand-Malaysia-Pakistan

Kereta akhirnya lewat di kantor tempat kita ‘disimpan sementara’. Kita digiring masuk lagi ke kereta, dan karena berita ‘dibawanya’ 5 orang ini, teman-teman peserta lain menunggu di kereta dan nyorakin pas kita masuk kereta lagi.

Gue sempet berpikir kalau apa yang terjadi di kantor imigrasi itu mungkin cuma formalitas biar petugas imigrasi di sana ada tambahan kerjaan. Hahaha.. Tapi ternyata nggak loh.. Pas gue akhirnya selesai semua program mau balik ke Indonesia, petugas imigrasi di Beijing memanggil supervisornya pas gue kasih passport gue. Kayaknya di komputernya ada catatan sesuatu. Hingga akhirnya supervisor itu cek dan memperbolehkan gue masuk ke dalem bandara; sambil diliatin petugas imigrasi tadi.

Hahaha, sampai di Indonesia gue kadang masih kesel-gemes gimana gitu; perasaan gue orang baik-baik, tapi passport Indonesia membuat orang curiga tentang gue. Dan proses nunggu info visa ke sebuah negara yang bentuknya ‘cuma’ pulau ini juga bikin gue merenung; segede ini Indonesia, tapi banyak negara yang belum ‘percaya’ sama kita. Kalau ditelusuri ‘kenapa-kenapa’nya gue bisa cukup paham sih, emang jadi PR berat buat Indonesia untuk ‘benerin’ citranya di dunia internasional. PR gue juga sih 🙂 – dan gue masih cinta sama Indonesia, dengan kebhinekaannya.

@yosea_kurnianto