Terlalu Cepat Berpisah: Terima Kasih PwC!

Segala dengan kata ‘terlalu’ memang kurang baik; meski kadang harus kita lakukan. Dalam konteks ini adalah terlalu cepat, karena aku baru bergabung ke PwC Consulting Indonesia di tanggal 2 Juni 2017 kemarin. Hari ini, 4 September 2017 aku menjejakkan kaki dan melangkah pamit setelah 3 bulan belajar banyak hal baik mengenai project yang aku tangani maupun dunia consulting. Bukan tanpa alasan, tapi memang semuanya terjadi begitu cepat – dan mungkin memang harus terjadi (ceile :D).

Tahun lalu aku sempat mendaftar beasiswa The Chevening Awards dari Pemerintah Inggris yang baru bulan Maret awal ini aku diundang interview. Setelah itu memang aku tidak mengharapkan apa pun, karena selama ini aku mendengar beasiswa yang prestigious itu sangat selektif dan susah dapetnya. Akhirnya waktu ada kesempatan dari PwC Consulting untuk menjadi salah satu People & Organization Consultant, atas saran beberapa mentor, aku memutuskan untuk bergabung. Dhuaaar! Di minggu ketiga aku mulai bekerja, ada email masuk: aku mendapatkan beasiswa tersebut. Okay, cerita detil soal proses penantian panjang Chevening Awards akan aku ceritakan di tulisan lain.

Tim PwC untuk Transformasi Budaya

Paling tidak ada 2 hal yang selalu aku cari dalam kehidupan bekerja (selain remunerasi): project/pekerjaan yang menantang dan leader + tim yang seru, open minded, dan ga baperan. Nah, dalam 3 bulan ini, aku mendapatkan kehormatan dan merasa sangat beruntung bergabung dalam tim yang membantu proses transformasi budaya organisasi dari bank sentral di Indonesia karena 2 hal tadi aku dapatkan. Dalam waktu yang singkat ini, aku merasa bertambah sedikit banyak pengetahuan mengenai kebanksentralan (karena client) dan juga terkait proses dan ‘ugarampe’-nya consulting. Tentu aku belum merasa puas, karena masih banyak hal yang aku harus aku pelajari untuk mampu memberikan pelayanan yang ‘excellent’ sebagai seorang konsultan.

Kalau di awal masuk PwC Consulting, kita akan dapat 1 orang Coach (biasanya level Manager atau Senior Manager) dan 1 orang Buddy (biasanya setara). Coach akan membantu kita mengembangkan diri terkait pekerjaan dan jalur karir. Sedangkan Buddy akan sangat membantu kita untuk proses onboarding, karena selain bisa diajak ngobrol dan dimintai bantuan di awal-awal, penting juga untuk jadi sumber ‘informasi ga penting’ lainnya – you know what I mean yah. Hahaha.

Nah, melihat project di mana aku bergabung, project leader yang memimpin timku, coach yang aku dapat, dan buddy yang membantuku; banyak rekan menyampaikan bahwa aku ada dalam lingkaran yang mantap untuk memulai perjalanan di PwC Consulting.

Tim PwC untuk Transformasi Budaya – Innovation Lab

Dalam perjalanan sejauh ini, sebenarnya aku belum pernah ter bayang akan gabung di PwC Consulting Indonesia; lagi-lagi aku merasa cuma orang-orang pintar dan canggih yang bisa masuk firm ini. Sedangkan aku: cuma percikan bunga rumput yang bikin orang  bersin. Tapi thanks to God kalau recruiter PwC mungkin salah rekrut aku, jadi aku bisa merasakan bagaimana menjadi bagian tim dari PwC Consulting. Hehehe.

Anyway, terlalu cepat berpisah. Tapi aku perlu pamit dulu untuk mencari bekal buat perjalanan jangka panjang nantinya. Minggu depan, aku akan mulai menempa diri belajar MSc Human Resources Management & Industrial Relations di Manchester Business School, University of Manchester selama 1 tahun. Seusai kuliah, kalau semesta mengijinkan, siapa tahu bisa jumpa teman-teman PwC Consulting lagi. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang bisa aku sampaikan sekarang: terima kasih banyak PwC Consulting Indonesia!

@yosea_kurnianto

Advertisements

Problem kaum Millenials: Sabar dulu bro!

Sebuah video talkshow mengenai ‘Problems with Millenials’ dari Simon Sinek  tersebar cukup viral di akhir tahun kemarin-awal tahun ini. Beberapa rekan mengirimkan video tersebut kepadaku karena mereka tahu aku berkecimpung di area HR dan People Development yang tentunya membahas millennials. Meski kadang aku sendiri merasa topik tersebut cukup ‘overrated’ dan kadang digeneralisasi begitu saja. Seperti yang juga banyak orang lakukan setelah melihat video Simon Sinek ini (coba googling yah); orang-orang menulis kritik karena video ini dianggap cukup men-generalisasi suatu kelompok millenials. Anyway, aku menonton video tersebut dan dari banyak bahasan, aku paling tertarik dengan sudut pandang Simon yang menurutku (sebagai bagian dari millennials) ada benarnya juga: Simon membahas bahwa salah satu problem atau challenge generasi millennial adalah soal ‘patient / impatience’ atau kesabaran, terutama kesabaran terkait proses. Oya, kalau mau baca transkrip videonya bisa dari web INI.

Di era perubahan yang begitu cepat, dengan sokongan teknologi informasi dan kecanggihan masa kini, generasi kita sering terlenakan yang membuat sumbu kesabaran memendek. Di salah satu FGD misalnya, aku menangkap harapan millennials soal dunia kerja: beberapa tahun jadi pimpinan dan/atau dapat project dengan tanggung jawab besar. Ditambah dengan model didikan orang tua jaman sekarang yang bermuatan ‘You can be everything you want (if you believe to yourself, etc), patience dan persistence jadi hal yang langka karena adanya gap antara harapan dan ekspektasi (ga semua sistem di mana kita ada sudah mengakomodasi kesabaran super pendek yang dimiliki generasi millennials). Ga heran kalau banyak millennials yang ingin segera jadi pimpinan dan/atau dapat tanggung jawab besar itu pindah dari satu company ke company lain, atau bikin start-up dan bubar segera untuk kemudian bikin start up yang lainnya.

Well, ga bisa dipungkiri, aku juga sering merasa ga sabar dengan beberapa sistem yang ada. Tapi untungnya ada beberapa moment yang membuatku lakukan refleksi/kontemplasi dan berusaha untuk menguasai diri. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses (walau sering gemes dengan proses-proses yang sebenarnya bisa disimplifikasi atau dihilangkan) dan menyadari bahwa kita cuma ‘seucrit’ komponen dari sistem dan semesta yang begitu luas, bisa membantu kita untuk menguasai diri.

Belakangan aku merasa ga sabar dan susah untuk menunggu. Perasaan ini muncul gara-gara aku baru bisa lakukan langkah selanjutnya, kalau langkah yang aku tunggu prosesnya ini beres. Tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ga bisa kita kontrol dimana kita kurang bisa lakukan apa-apa. Akhirnya waktu yang ada aku gunakan untuk mempersiapkan beberapa langkah ke depan seandainya proses ini selesai.

Sabar bro. Ada waktunya 🙂

Nah, kadang proses menunggu ini bikin kita stress, ga produktif, bahkan akhirnya ambil langkah lain yang justru bisa memperburuk situasi. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk belajar menguasai diri saat kita mulai ga sabar, ini pendapat pribadi yah:

  1. Menurutku lagi-lagi kunci penguasaan diri juga ada dalam pikiran. Kalau bisa menguasai pikiran, kita hampir bisa menguasai diri (selain juga harus menguasai hati dan perasaan #eeaa). Makanya kalau pas mulai ga sabar, kadang kita perlu alihrkan pikiran ke hal lain: hobby, project, pekerjaan, usaha, aktivitas social, dll.
  2. Latih diri untuk sadar (conscious dan mindful) kalau hampir semua hal butuh proses, dan salah satu komponen utama dari proses adalah waktu. Sebagai bagian dari proses, kita perlu menghormati komponen lain yang mungkin belum sejalan dengan keinginan atau harapan kita.
  3. Terkait poin nomor 1, penting banget buat millennials yang punya energi lebih untuk menyalurkannya dengan tepat; jangan sampai cuma kuliah-pulang atau kerja-pulang dan bengong cuma nungguin satu hal. Usahakan pikiran dan energy kita ter-occupied dengan hal-hal lain selain ‘yang kita tunggu’ itu.
  4. Punya teman, coach, dan mentor buat sharing dan menyampaikan keluh kesah juga cukup penting untuk mengelola kesabaran kita. Masukan dari teman atau nasihat dari mentor akan membantu kita mengatur pola pikir dan kegundahan saat menunggu.

Bahwa dalam perjalanan hidup kita tetap punya pilihan lain untuk cari jalan yang lebih cepat dan sesuai keinginan kita, boleh jadi ga semua dari kita punya kesempatan untuk menikmati pilihan itu. Kadang-kadang kita dalam posisi yang memang cuma ada sedikit pilihan (antara ya dan tidak, maju atau diam, ambil atau tinggalkan) dan harus menunggu beberapa saat untuk melihat lebih jelas. Kita perlu dengan bijak mengelola diri untuk hal ini. Jadilah millennials yang tetap berambisi dengan idealism dan energy, tapi mampu menguasai diri untuk bersabar dalam proses.

@yosea_kurnianto

Sejenak Menilik Masa Lalu: Ada yang Rapuh, Ada yang Tangguh

‘Never let your past defines your future’ – sepotong nasihat yang kuterima ketika lunch meeting bersama seorang teman yang baru saja promosi jadi manager di sebuah consultancy firm. Potongan nasihat itu mengena. Dan beberapa waktu belakangan, beberapa orang di sekitarku cukup punya concern soal masa lalu mereka – juga bagaimana mereka berusaha terus melangkah maju. Ada yang rapuh, ada yang tangguh.

Sebut saja A. Dalam sebuah ruang kerja menyampaikan kekhawatirannya karena dia merasa apa yang dia lakukan selama ini untuk sebuah tujuan, akan sia-sia karena beberapa alasan masa lalu. Sorry, aku tidak bisa cerita detil apa yang dia hadapi. Tapi menurutku pribadi – alasan kekhawatirannya cukup semu. Ini cuma ada dalam pikirannya, yang kemudian justru mengganggu proses dia melangkah ke depan. Sesaat A cerita, rekan lain tiba-tiba menimpali ‘I don’t have a space for my past. We simply need to learn from that, and nothing else.’ Cukup seru hari itu.

Beberapa hari kemudian, A menyampaikan kekhawatiran yang sama.

Pada kesempatan lain, aku bertemu B. Seolah menonton drama, aku cukup merinding mendengar cerita tentang apa yang harus dihadapi oleh B di masa lalunya. B dalam kondisi yang cukup berada, tapi harus ambil beberapa keputusan dan lalui semuanya. Di akhir cerita, B mengucap ‘aku harus terus melangkah, aku sudah mengampuni orang-orang itu’.

B kemudian tidak pernah membahas kesakitannya di masa lalu dengan sedih hati di depanku.

Setelah A dan B. Aku juga bertemu M yang mengirim WA dan mendiskusikan soal ‘penyesalan’ akibat keputusan di masa lalu. Bersamaan dengan pertanyaan dari M – ada email yang masuk dari seseorang yang memintaku menulis tips soal ‘making a right decision’ (agar tidak menyesal). Well, tampaknya berlanjut dan membuat semacam rantai yang justru menjadi penguatan buat diriku sendiri.

Never let your past defines your future. (pict source: personal collection)

Sepemahamanku, hidup adalah rangkaian dari keputusan. Dalam setiap keputusan yang kita ambil, resiko mungkin bisa kita minimalisir – tetapi konsekuensi harus kita hadapi. Oleh sebab itu, penting saat membuat keputusan untuk kita tahu konsekuensi apa yang harus kita hadapi selanjutnya, bagaimana kesiapan kita untuk hadapi, dan berapa muatan (bobot/’harga’) masing-masing konsekuensi dan kita dapat lakukan ‘trade-off’ dengan bijak. Pada akhirnya, tentu keputusan yang benar dan salah bersifat sangat subjektif dan kontekstual. Semacam bagiku keputusanku, bagimu keputusanmu. Konflik-konflik yang terjadi di sekitar keputusan itu harus juga disikapi dengan baik – yang membutuhkan proses pengambian keputusan lainnya.

Kembali ke A dan B. Semuanya punya masa lalu yang menurut mereka (menurutku juga) cukup kurang nyaman. Perbedaannya adalah pada pola pikir dan sikap hati. Memang itu juga dipengaruhi karakter bawaan lahir – tapi aku rasa penguasaan diri untuk berpikir dan mengambil sikap hati bisa kita latih terus menerus.

Banyak orang yang karena masa lalunya makin rapuh dan terpuruk di masa depan. Banyak juga yang justru karena masa lalunya menjadi semakin tangguh dan jadi pribadi yang menginspirasi banyak orang. Lagi-lagi, kondisi orang per orang sangat subjektif dan kontekstual. Kondisi yang dihadapi A bisa dibilang B kurang nyaman, padahal A merasa biasa saja atau malah berbahagia – dan sebaliknya. Masing-masing kita perlu dengan sadar memahami bagaimana kita menjalani setiap hal yang terjadi saat ini.

Soal penyesalan, aku pribadi percaya bahwa tidak ada satu pun keputusan yang kita ambil dan jalani di luar kendali Sang Sutradara. Penyesalan adalah state of mind dan respon hati pada kondisi saat ini dengan menyalahkan masa lalu. Buat orang-orang yang mampu menguasai diri dan memainkan perspektif bahwa segala sesuatu terjadi untuk membawa kita kepada kebaikan berdasarkan rancangan Sang Sutradara, maka penyesalan hanya bumbu hidup sekejap (karena mungkin dalam beberapa waktu kita merasa kehilangan momen dan hidup kita butuh waktu untuk membuat pola hidup baru) – yang tidak berlarut.

At the end of the day – masa lalu harus terjadi karena kita perlu bergerak untuk masa ini dan masa depan. Apa yang terjadi pada masa lalu acap kali tidak sesuai dengan harapan kita. Tapi bukan berarti itu harus menurunkan semangat positif kita untuk hari depan. Apa yang terjadi terjadilah. Tapi pikiran dan sikap hati: semuanya ada dalam pikiran kita  – semuanya dalam kendali kita.

#catatansingkat – @yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Mengapa Ada yang Humble, Ada yang Tidak?

Sepulang kerja, aku duduk dan ngopi sejenak bersama seorang rekan di lounge kantor. Sesaat dalam obrolan, aku kemudian mengajukan pertanyaan padanya, ‘Mengapa ada orang yang tampaknya luar biasa, tapi humble-nya minta ampun. Tapi ada beberapa orang lainnya yang biasa saja, tapi berusaha menampilkan diri setinggi-tingginya?’

Rasanya pertanyaanku cukup tepat sasaran. Rekan yang duduk di depanku adalah anak dari seorang presiden direktur perusahaan besar, yang menampilkan diri dengan sederhana dan tiap harinya pulang ke rumah di BSD naik kereta. Sering kita makan di warung-warung kecil dengan sayur dan lauk seadanya di sana. Apakah kemudian pertanyaanku berlebihan dan terlalu menyinggung? Rasanya tidak juga. Tapi entah kenapa, rekanku ini minta waktu sejenak sebelum bisa menjawabnya.

Aneh. Tampaknya dia tidak merasa dirinya berusaha untuk humble, tapi memang begitulah pembawaannya. Seperti juga banyak top leaders yang aku temui dan tanya, kebanyakan dari mereka merasa ‘hidup memang harusnya seperti ini’.

Tentu tulisan ini bukan mencari penjelasan dari buku teks atau teori lainnya. Hanya sekedar perenungan dan mendengar apa kata orang di sekelilingku. Beberapa bilang, jadi humble bisa jadi karena pola asuh dan teladan dari orang tua. Yang lain sampaikan bahwa ini karena pengalaman dan perjalanan hidup orang tersebut. Sebagian lain bilang bahwa ini soal penguasaan diri yang dipengaruhi mindset atau pola pikir orang-orang.

Kembali ke obrolan sore tadi, rekanku bilang ‘orang mungkin sesaat terkesan dengan apa yang mampu kamu beli dan tunjukkan ke orang, tapi mereka terinspirasi lebih mendalam saat melihat bagaimana kita menjalani kehidupan dengan kerendahaan hati dan integritas’. Lanjutnya, ‘yang mendefinisikan kualitas seseorang bukan apa yang dia punya; tapi karakter dan ‘personality’ nya – bagaimana dia mensyukuri dan mengelola apa yang dia punya’.

Aku sempat lontarkan pertanyaan yang sama untuk rekanku tadi lewat insta-story (@yosea_kurnianto). Beberapa response dari teman-temanku cukup menarik. Salah satu yang akhirnya menjadi pemikiran adalah: makin berisi, padi makin merunduk.

Kalau dalam ragam tanaman, rasanya tidak semua tanaman adalah jenis padi. Karena dibutuhkan juga tanaman-tanaman lain untuk menjaga ekosistem di ala mini. Kalau dalam masyarakat, apakah juga semua orang harus menjadi ‘padi’ yang makin berisi makin merunduk? Ataukah mungkin memang perlu juga ‘jenis tanaman lainnya’?

makin berisi, makin merunduk
pict: forletnews(.)com

Alasan kenapa aku lontarkan pertanyaan itu adalah karena aku juga ingin terus belajar menjadi humble dari mereka yang menurutku humble. Meski memang aku ga punya apa-apa, seperti mereka. Tapi menurutku jadi orang humble sangat menarik dan tampaknya penuh damai sejahtera. Mereka tidak berlomba-lomba untuk menunjukkan diri dalam rangka bersombong belaka, tapi berusaha terus menjadi penghangat dalam dinginnya jiwa dan karakter orang-orang lainnya.

Nah, setiap kita punya pilihan apakah kita ingin menjadi padi yang makin berisi makin merunduk atau lainnya. Tentu kita tahu mana yang lebih baik buat diri dan kondisi kita.

Jadi, kenapa ada orang humble, dan sebagian lainnya berusaha meninggikan diri? Tidak ada jawaban yang jelas dalam tulisan ini. Tentu karena banyak faktor 🙂

Mungkin ada pendapat, mengapa?

@yosea_kurnianto

Melangkahkan Kaki: Terima Kasih Nutrifood!

Tahun 2009 aku mulai menjelajah Jakarta untuk berkuliah dengan beasiswa penuh dari Yayasan Putera Sampoerna. Misiku datang ke Jakarta secara singkat digambarkan dengan 2 hal: nilai akademikku harus baik dan potensi-potensiku harus berkembang. Alhasil, selain berkuliah, aku selalu berusaha untuk berpartisipasi dan terlibat ke banyak acara dan program di luar kampus juga untuk mengembangkan diri.

Awal tahun 2012 aku terpilih untuk ikut program mentoring kepemimpinan yang saat itu digarap oleh tim dari McKinsey & Company Indonesia. Programnya 6 bulan dengan 3 kali pertemuan masing-masing 2 hari 1 malam. Saat pertemuan terakhir; di sebuah kamar hotel bintang 5 kawasan Setiabudi, aku dapet roommate alumni Nutrifood Leadership Award (NLA) tahun 2011. Dia cerita-cerita soal Nutrifood dan program NLA-nya. Sepulang dari acara itu, aku coba mencari infonya dan kebetulan banget pas pendaftaran NLA 2012. Aku masukin data diri untuk mendaftar program Nutrifood Leadership Award 2012.

Tujuan utamaku kala itu untuk purely untuk belajar hal baru dan mengembangkan jaringan. Tapi bersyukur banget dapet kesempatan ikut seleksi demi seleksi dan akhirnya lolos sampai ke tahap final. Aneh tapi beneran kejadian: 1 malam sebelum grand final – aku merasa diriku ga layak ikutan program ini, masih merasa terlalu cupu. Akhirnya di sore hari aku mengirimkan SMS ke panitia kalau aku mengundurkan diri dan meminta maaf. Waktu itu hari Minggu; setelah kirim SMS, aku ikut ibadah malam di sebuah gereja. Saat ibadah, aku semacam dapat pesan yang intinya ‘kalau berjuang jangan setengah-setengah’. Ibadah selesai. Kaget saat tengok layar HP, ternyata panitia NLA mencoba telp beberapa kali. Aku mengirim SMS kembali dan konfirmasi bahwa besok pagi aku akan datang saat grand final. Balasannya ‘Welcome Back. Happy to have you.’

Entah mungkin salah nilai, tim Nutrifood kasih aku kesempatan jadi the 1st Winner NLA di tahun 2012. Aku dapat hadiah yang sangat lumayan, yang saat itu bisa buat bantu-bantu keluarga. Pula saat awarding, Nutrifood mengundang seorang pembicara yang saat dengerin sharingnya aku langsung bilang ‘This guy has to be my mentor. I need to learn more from him’ – dan semacam semesta mendukung, aku kembali dapat koneksi-koneksi yang berhubungan dengan Bapak CEO nyentrik ini; meminta dia jadi mentorku, dan voila!! – sampai sekarang aku masih sering berkesempatan ngobrol seru dengannya.

Well, aku lulus tahun 2013. Ga pernah berpikir untuk masuk Nutrifood, karena pemahamanku saat itu, Nutrifood ga butuh seorang Sarjana Pendidikan. Pengetahuanku soal dunia bisnis dan korporasi kala itu sangat cetek. Akhirnya aku masuk ke sebuah anak perusahaan dari sebuah raksasa, berkantor di area bundaran HI, untuk membantu mengembangkan Training and Development Department mereka.

Dua minggu setelah masuk kerja, Bapak CEO nyentrik yang jadi mentorku kirim pesan untuk aku datang ke sebuah dinner di bilangan Senayan – dan beliau bilang akan mengundang beberapa temannya. ((Dhuar))!!. Salah satu yang datang malam itu adalah CEO Nutrifood. Dengan sangat humble beliau tanya kabar dan ngobrol soal kerjaan. Intinya saat itu, beliau kurang setuju kalau aku mulai berkarir di tempat kerjaku saat itu – dan jauh lebih baik kalau mau bergabung dan belajar dengan Nutrifood. Naaah, anak muda mana yang ga meleleh kalau CEO sebuah perusahaan ternama membuka diri dan ajakin kamu jadi bagian dari perusahaannya? Malemnya aku ga bisa tidur!

OMG. Aku akhirnya selesaikan probation di perusahaan tempat kerja saat itu, dan mengundurkan diri saat dikasih surat penetapan karyawan. Tgl 2 Desember 2013 adalah hari pertama perjalananku belajar banyak di Nutrifood. Sampai akhirnya hari ini 22 Mei 2017 jadi hari terakhirku menikmati kesempatan yang keren banget di Nutrifood. Kira-kira 3,5 tahun.

Ga ada kata yang bisa gambarin betapa bersyukurnya aku bisa belajar banyak hal selama 3,5 tahun di Nutrifood. Mulai dari HR (termasuk rekrutmen, training & leadership development, employee relation, office management, etc.), Marketing (termasuk brand management, sponsorship & partnership, community development), dan Public Relations (press conference, media & stakeholders engagement, etc). Saking banyak macem yang aku pelajari ini, ada orang menyebut aku sebagai karyawan serabutan. Ah, tapi aku happy banget dengan keragaman belajar yang aku alami sejauh ini.

Anyway, aku sadar banget bahwa apa yang aku coba kontribusikan ke Nutrifood selama ini tidak lebih baik dan tidak sebanding dengan apa yang Nutrifood berikan ke aku. Bukan saja soal pengetahuan, tapi juga soal pendewasaan melalui kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan.

Nutrifood adalah tempat kerja yang sangat baik, tapi kali ini aku perlu memberanikan diri untuk menapakkan kaki di dunia luar dengan banyak warna yang berbeda. Beberapa kali memang ada tawaran dari perusahaan lain untuk gabung di tim mereka; tapi selama ini aku timbang dengan hati-hati dan kemudian menolak, karena Nutrifood organisasi yang cukup ideal untuk kita belajar dan berkontribusi secara nyata. Hanya saja kali ini, karena jenis pekerjaan dan proses kerjanya cukup berbeda, aku memberanikan diri untuk mencoba.

Mulai 2 Juni nanti aku akan belajar dan coba kontribusi melalui sebuah organisasi yang berkantor di kawasan Kuningan, PT PricewaterhouseCoopers (PwC) Consulting Indonesia. Ini merupakan bagian dari PwC global network yang bergerak di area consulting, di mana aku akan mulai belajar menjadi People & Organization Consultant. Aku sangat paham bahwa aku harus segera lari kencang untuk memahami seluk-beluk bisnis dan requirement mereka hingga tingkat global. Semoga aku bisa terus belajar dan berkontribusi nyata dimanapun aku ditempatkan nanti.

Baiklah, pembelajaran dan pengalaman di Nutrifood akan terus aku bawa dan ceritakan ke banyak orang: bahwa di Indonesia ada perusahaan yang tidak cuma kejar profit, tapi memanusiakan manusia yang ada di dalamnya, dan menempatkan diri menjadi bagian dari masyarakat dengan peran aktif untuk menginspirasi hidup sehat. Terima kasih banyak, Nutrifood dan Nutrifooders semua!

@yosea_kurnianto

Akhirnya Bapak Mamak Terbang Juga!

Obrolan gue di masa kecil akhirnya jadi kenyataan. Sebagai anak nomor 4 dari 7 bersaudara yang tinggal di desa; waktu kecil emang pengalaman naik pesawat dan pergi ke tempat-tempat jauh, jauh banget dari pemikiran sehari-hari kita. Tapi untungnya Bapak dan Mamak (read: Ibu) gue selalu ngajarin untuk berpikir positif bahwa suatu saat kalau kita berusaha sungguh-sungguh, kita bisa capai apa yang kadang jauh dari pemikiran kita.

Nah, ga kayak temen-temen gue yang lebih beruntung lainnya, gue emang baru naik pesawat pertama tahun 2011 untuk semacam tugas mewakili Indonesia keluar. Semua biaya dibayarin Kementerian Pemuda dan Olahraga kala itu; jadi emang tinggal ongkang-ongkang kaki. Abis dari situ naik pesawat dan pergi ke tempat-tempat jauh jadi hal yang cukup biasa. Tapi nggak kalau buat Bapak Mamak. Meski anak-anaknya udah ke sana ke mari, mereka belum sempet nyicipin beberapa produk teknologi modern yang kita sering nikmati.

Awal tahun ini gue mikir-mikir kira-kira apa yang mau dan bisa gue ‘usahakan’ di tahun ini. Salah satu hal yang kepikir adalah untuk fasilitasi beberapa pengalaman pertama untuk Bapak dan Mamak. Beberapa pengalaman pertama yang tahun ini bisa gue coba usahakan adalah naik pesawat dan melihat situasi di luar pulau Jawa. Tapi akhirnya, Thanks God, Bapak Mamak juga mulai eksis di dunia maya.

Terdengar lucu sih. Tapi memang setiap orang dikaruniai kondisi-kondisi yang menarik. Misal Papa-Mama lo udah sering begini, tapi belum pernah begitu. Sama kayak Bapak Mamak gue sering begitu, tapi belum pernah alami yang begini. Haha, anyway. Kita semua harus bersyukur dengan kondisi-kondisi yang disediakan buat kita, beserta perjuangan-perjuangan yang perlu dilakukan dalam setiap konteksnya.

Well, OK. Waktu gue bilang mau ajak mereka untuk naik pesawat dan ke Kalimantan, sempat mereka bilang ‘mending uangnya ditabung buat yang lain’ etc. Biasa lah ya. Hahaha. Tapi sempet gue sampaikan kalau dalam konteks ini gue lebih prefer ‘bayar’ untuk beli pengalaman, daripada bayar untuk barang atau lainnya. Selain itu, memang kakak paling tua gue sejak beberapa tahun terakhir tinggal di Samarinda; jadi sekalian nengokin kondisi di sana.

Finally kita naik pesawat bombernya Garuda Indonesia dari Jogja ke Balikpapan dan sebaliknya. Dari Balikpapan kita naik mobil ke Samarinda dan gue sengaja pilih hotel yang cukup oke; karena Bapak Mamak belum pernah juga nginep di tempat yang lumayan. Secara pribadi gue happy liat tiap ekspresi mereka; gue emang bener-bener observasi sih dari awal berangkat dari rumah. Kerasa banget ada anxiety, excitement, happiness, dan you know lah gimana perasaan orang-orang yang baru pertama kali mengalami sesuatu – plus ditambah mereka akhirnya mengunjungi tempat perantauan anak pertamanya. Sampai-sampai malam pertama dan kedua di hotel mereka ga bisa tidur 😀

Sempet ke Desa Budaya Dayak – Pampang di Samarinda

Mamak gue juga sekarang udah pake WA dengan casciscus setelah kemarin gue dapet hadiah HP Android yang saat dapet, gue langsung kepikiran ini buat Mamak aja. Semoga dengan going digitalnya Mamak, makin banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa dia serap dari desa; yang bikin dia makin bijak dengan cepatnya perubahan dunia.

Masih ada beberapa list yang gue usahakan untuk fasilitasi pengalaman pertama buat mereka. Semoga Bapak Mamak terus sehat supaya list-list itu bisa satu per-satu direalisasikan.

@yosea_kurnianto

Obrolan Usai Ujian Akhir CHRP: 2 Hal Praktisi HR Harus Pahami

Di tulisan sebelumnya aku cerita soal gambaran program Certified Human Resources Professional (CHRP) di bawah naungan UNIKA Atma Jaya Jakarta dan alasan kenapa aku ikut program ini. Ini tulisan terakhir dari rangkaian tulisan tadi, mau share diskusi menarik dengan mentor dan penguji makalah CHRP yang bantu aku dan tim. Sebut saja Pak ESA, seorang direktur HR perusahaan ternama dan besar di Indonesia. Saat pertama kali kita email untuk minta bantuan beliau membimbing, jawaban beliau sangat menarik: ‘Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan teman-teman. Mengingat spirit membangun negeri dan mencetak profesional handal bidang HC, maka saya bersedia membimbing.’

OK. Pertama soal frasa ‘kepercayaan yang diberikan’ dan yang kedua soal ‘membangun negeri dan mencetak professional…’. Kata-kata itu langsung membuat gambaran bagaimana Bapak ESA ini passionate banget dalam area HR, yang akan sangat disayangkan kalau aku kehilangan kesempatan belajar dari beliau.

Pertemuan pertama untuk diskusi topik dilakukan di kantornya. Aku dan seorang teman datang memaparkan topik makalah yang ingin kami tulis. Dang! Kita langsung bengong saat beliau bilang ‘Kalau mau jadi Certified Human Resources Professional’ jangan nulis pake 1 angle yang sempit seperti ini, harus dibahas dari bermacam spektrum. Kan kalian berkelompok, satu orang satu spektrum, terus nanti dijahit. Kalau mau saya bimbing ya harus begitu’.

Semacam kabar buruk tapi juga kabar baik. Kabar buruknya memang dalam waktu yang singkat, kita harus membahas 1 topik dalam banyak kacamata. Tapi kabar baiknya tentu kelompok kami jadi belajar lebih banyak hal. Singkat cerita, kita bereskan makalah kita yang berjudul ‘A Study and Recommendation: Implementation of Enterprise Social Network and Its Impact to HR Spectrums in an Organization’. Kami gunakan pembagian spektrum dari People House yang dikenalkan oleh program CHRP ini, yakni terdiri Organization Development, Attraction, Development, Motivation, dan Retention. Karena kami 5 orang, jadilah masing-masing kami membahas 1 spektrum.

Saat ujian, kami presentasikan masing-masing spektrum yang kami kerjakan. Pak ESA kemudian men-challenge kami dengan, menurut saya, pertanyaan yang bagus dan menarik. Situasi yang awalnya ujian menjadi diskusi yang menambah wawasan dan perspektif.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 16.25.37

Tim Makalah dan Mentornya (1 anggota tim sakit)

Setelah selesai semua, beliau bertanya ‘Dari semua hal yang kita bicarakan soal HR, apa sih sebenarnya 2 role utama kita di organisasi?’

Eng ing eng. Mata kita saling tatap menatap. Beberapa dari kami mencoba menjawab, tapi belum sesuai apa yang ada dalam benak Pak ESA.

Ternyata jawabannya menurut beliau adalah: ‘management ekspektasi’ dan ‘driving behavior’. Sebagai praktisi HR kita harus mampu menjembatani ekspektasi management dengan ekspektasi karyawan. Di sinilah pengetahuan dan kemampuan terkait industrial relation, compensation & benefit etc dll dsb dibutuhkan. Kemudian soal ‘driving behavior’ untuk mencapai tujuan organisasi menjadi hal yang tidak bisa terelakkan. Kemampuan praktisi HR untuk menerjemahkan visi misi organisasi ke dalam model organisasi, development, culture, etc harus terus ditingkatkan.

Sangat fundamental sih memang. Tapi mungkin 2 hal itu bisa jadi bahan refleksi kita yang berkecimpung di area HR: apakah sejauh ini kita secara pribadi mampu berkontribusi dalam 2 hal tersebut. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi tidak sulit juga kalau kita lakukan dengan bersungguh-sungguh.

@yosea_kurnianto