Catatan Singkat: Tak ada Janji, Jangan Mengandalkan Manusia

Don’t rely on people. Sebuah kalimat yang dibahas panjang lebar oleh penceramah Joel Osteen dalam sebuah video yang saya tonton di Youtube. Beberapa hari setelah menonton film tersebut, saya membaca kalimat singkat yang ditulis oleh seorang teman yang berkata ‘nothing was promised to you’. Kedua kalimat yang saya dengar dan saya baca ini serta merta nyambung dan semacam mengingatkan sebuah pesan yang lama saya dengar dari seorang Bapak tua yang bertemu tanpa sengaja beberapa tahun silam di sebuah desa (yang entah masih hidup atau sudah tiada).

Flashback sedikit dengan Bapak tua tersebut, sebuah obrolan kalau kita-kita manusia ini lahir tanpa punya kesempatan untuk milih dari mana (atau siapa) dan dalam kondisi apa kita dilahirkan. Sehingga kita juga tidak punya kesepakatan atau perjanjian yang harus kita penuhi selama menjalani kehidupan. Tidak pernah sebelum lahir, misalkan saya, bikin perjanjian dengan Sang Pencipta atau bakal orang tua untuk lakukan A, B, atau C dan saya akan dapat J, K, atau L. Baru saat kita lahir, tergantung dalam kondisi dan situasi seperti apa, kita mendapat doktrin, atau lebih halusnya pengajaran, pengertian, bahkan hegemony buat lakukan sesuatu untuk dapat sesuatu. Perjanjian-perjanjian kemudian disampaikan manusia lainnya, tanpa ada semacam kepastian bagaimana rangkaian kehidupan menjamin.

Life is full of surprises!
Pict: http://bsnscb.com/

Seiring berjalannya kehidupan, beberapa manusia mengambil jalan untuk merasa memiliki piutang janji dari Sang Pencipta atau manusia lainnya. Beberapa manusia lain mengambil keputusan untuk menghadapi perjalanan hidup tanpa pegangan janji semacam itu. Hal ini juga membuat beberapa orang punya tujuan hidup yang kuat dan tidak mau mengandalkan orang lain, beberapa sisanya berharap untuk ‘mengalir’ tergantung pada keputusan-keputusan orang di sekitarnya.

Saya tidak berkata satu kelompok orang lebih baik dari kelompok lainnya. Tapi dalam banyak kesempatan perjalanan hidup yang singkat ini, saya banyak belajar – bahwa ‘mengalir’ saja tidak cukup. Saya mendapat pemahaman bahwa benar keputusan-keputusan orang di sekitar kita bisa membuat hidup kita ‘mengalir’ menuju sesuatu yang baik. Tetapi mengandalkan orang lain, bahkan menganggap orang lain ‘hutang janji’ kepada kita karena ketidakmampuan dan ketidakberanian kita mengambil keputusan dan resiko menurut saya sangat tidak seksi.

Kehidupan memang memberikan segala, tapi usaha kita yang menentukan kita mendapat apa-apa. Tanpa tujuan yang kuat dan usaha yang keras, sangat jarang sekali orang dapat menemukan makna kehidupannya secara jelas.

Baiklah, memang tidak ada yang dijanjikan kepada kita sebelum kita lahir. Tapi buat sebagian kita yang menerima pengajaran soal janji-janji dan berusaha mempercayai, lakukanlah dengan segenap hati. Jangan mengandalkan manusia atau keputusan-keputusannya, andalkan Sang Pemberi Janji itu 🙂

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Kelola Kecewa

Ada seorang pemilik kebun yang kasih kepercayaan ke seorang penjaga. Pemilik kebun ini cuma datang buat liat setahun sekali. Biasanya dia datang untuk liat kondisi dan ngobrol sama penjaganya. Suatu waktu si pemilik kebun datang dan liat satu pohon yang menurut pengamatan sang pemilik nggak menghasilkan buah sejak tahun lalu.

Cukup wajar kalau pemilik kebun kecewa, karena dari semua pohon di kebunnya, cuma pohon ini yang ga berbuah. Pemilik kebun akhirnya panggil penjaga dan minta pohon ini ditebang. Surprisingly, penjaga jawab, “Kasih kesempatan 1 tahun lagi. Biar saya coba cangkul tanah sekelilingnya dan kasih pupuk. Kalau emang sampai tahun depan masih ga berbuah, kita tebang saja”.

Seperginya pemilik kebun, penjaga itu lakuin apa yang ia katakan ke pemilik. Dengan sabar ia cangkul tanah di sekeliling pohon dan kasih pupuk, kemudian merawatnya. Penjaga kebun itu tahu, bahwa permasalahan pohon yang ga berbuah bukan serta merta dari daun atau rantingnya, tapi lebih dari itu: pada akarnya.

unfruitful-tree

‘beresin akarnya’ (pict: id.pinterest.com)

Nah, sering banget kita lupa kalau kecewa atau punya masalah, yang kita liat dan ‘gempur’ hanya apa yang tampak ke kita; tanpa mau beresin akarnya. Tentu tidak semua orang mau dan mampu untuk gali akar kecewa atau masalah, sehingga ‘action’ yang dilakukan hanya bersifat sementara bahkan tidak tepat pada sasaran utamanya.

Lebih parahnya kalau orang tahu akar masalahnya apa, tapi ga ada yang ‘berani’ untuk memperbaikinya. Menggali akar harus diikuti oleh ‘action’ yang kadang bikin ada rasa ga nyaman dan mengganggu. Kayak paramedis/dokter kalau mau nyembuhin luka juga kadang ‘perlu melukai’ bagian lain dulu. Proses ini butuh komitmen sih.

Menggali akar kecewa atau masalah dan membenahinya emang ga gampang. Kadang juga menyakitkan. Bukankah dalam beberapa kondisi, yang pahit justru bisa jadi obat yang manjur?  Kita harus mau untuk ambil sikap yang mungkin juga bikin konfrontasi dengan kondisi yang ada. Emang sih kita perlu tahu batasan, tapi perlu berani juga untuk lakukan. Udah banyak orang yang malas gali akar, ga mau konfrontasi (demi kebaikan), yang akhirnya bikin kita cuma jadi rata-rata dan  kurang produktif.

Balik ke soal penjaga kebun: dia dapet kesempatan untuk ‘selamatkan’ 1 pohon yang ga berbuah, dia langsung perbaiki dari akarnya. Ini cukup menginspirasi sih. Selama ini gue kadang juga takut ‘gali akar’ dan yang paling penting: ambil sikap/action soal itu.

Manusia emang susah untuk ga kecewa. Butuh kebijaksanaan untuk mengelola kecewa. Butuh lapang dada dan pikiran terbuka untuk gali akar.

Kelola kecewa ini juga bukan soal kita kecewa ke orang lain / kondisi lain doank. Tapi juga sebaliknya, kalau ternyata kita yang dalam posisi ‘pohon ga berbuah’ itu – dan orang lain kecewa sama kita, kita juga perlu insropeksi dan perbaiki akar sendiri :’)

@yosea_kurnianto

Nasib Gue: Punya Paspor Indonesia

Tadinya gue males sih ceritain ini, agak memalukan gimana gitu, tapi tergelitik juga akhirnya. Jadi gue lagi nunggu info tentang visa ke sebuah negara yang kalau di peta hampir ga keliatan – karena bentuknya ‘cuma pulau’ – dan ga punya kedutaan di Indonesia. Pas gue cek di website negaranya, cuma sedikit negara yang butuh visa ke sana, salah satunya Indonesia. Gemes sih rasanya, dan tetiba keinget pengalaman-pengalaman dari dulu soal paspor dan visa; sampai yang terakhir kemarin ‘diangkut’ di imigrasi perbatasan China dari Mongolia.

Sekilas balik dulu, pertama kali gue ke luar negeri pas awal kuliah, gue banyak ditanyai banyak di imigrasi – dikira gue akan jadi semacam TKI (illegal) gitu? Padahal kali pertama gue keluar negeri adalah karena delegasi Indonesia buat sebuah acara kepemudaan. Dan, waktu masuk Eropa di awal kuliah dulu juga sama. Gue diundang untuk pertemuan program yang didanai sama Raja Swedia dan (almarhum) Raja Arab, tapi gue ditanyai banyak banget – semacam ‘refugee’, sampe gue akhirnya keluarin ‘surat sakti’nya. Hahaha, ini karena muka gue atau karena passport gue Indonesia yah? Hahaha…

ilustrasi passport (sumber: http://makassar.imigrasi.go.id/)

ilustrasi passport (sumber: http://makassar.imigrasi.go.id/)

Well, pengalaman terakhir gue terkait ini adalah pas tengah tahun lalu ikutan program dari Asia Europe Foundation untuk travelling 1 bulan sambil belajar di Russia, China, dan Mongolia. Pesertanya 47 orang, masing-masing negara cuma 1 orang. Langsung aja cerita soal per-passport-an ini 🙂

Rute travelling program itu adalah Beijing – Harbin – Vladivostok – Chita – Irkutks – Ulanbatar – balik lagi ke Beijing. Masuk Beijing pertama kali aman, proses imigrasinya cepet. Dari Beijing ke Harbin naik kereta kapsul sekitar 6-7 jam. Dari Harbin naik kereta lagi, hingga sebuah perbatasan, pindah bus dan masuk imigrasi perbatasan. Nah sorry banget gue lupa nama perbatasannya, dan di area itu ga boleh foto. Di sini, beberapa passport diminta oleh petugas imigrasi untuk didokumentasikan, termasuk passport gue. Kalau ini, kata mereka, sebelumnya belum pernah ada orang dari negara yang passportnya diminta itu lewat di perbatasan ini.

OK, masuklah gue ke Russia dengan aman. Dapet pengalaman setengah rute kereta Trans-Siberian dan keunikan-keunikannya (cerita detilnya lain kali ya). Keluar dari Rusia ke Mongolia pake kereta juga: pas di perbatasan petugas imigrasi Russia masuk ke gerbong-gerbong, dia pake semacam device (yang menurut gue canggih) untuk periksa dan cap passport. Pas dia dapet passport gue, dia ambil device lain untuk tes keasliannya. Petugas itu dengan detil ngeliatin dan ‘nginceng’ pake devicenya. Temen se-kabin gue dari Eropa nyeletuk ‘kayaknya dia belum pernah pegang passport Indonesia, atau ga tahu Indonesia itu di mana’.  Kzl gak?

Di 1 kabin kereta ada 4 kasur begini: 2 di atas 2 di bawah. 1 gerbong ada beberapa kabin.

Di 1 kabin kereta ada 4 kasur begini: 2 di atas 2 di bawah. 1 gerbong ada beberapa kabin.

Nah, masuk Mongolia agak beda. Petugas imigrasi datang ke gerbong-gerbong untuk ngambilin passport dan mereka bawa ke kantor imigrasi mereka. Selesai dicap, mereka balik lagi dan dibagiin ke penumpang kereta. Di Ulanbatar dan beberapa kota di Mongolia, pengalaman yang gue dapet juga cukup unik. Tapi fokus tulisan ini bukan di situ. Hahaha..

Lanjut, dari Ulanbatar kita naik kereta lagi menuju Beijing sebagai tujuan akhir. Keluar dari Mongolia, prosesnya lancar dan aman. Nah pas masuk perbatasan China:

Petugas imigrasi China ambil passport semua penumpang dan dibawa. Pas masuk kabin gue, dia ambil passport dan keluar. Oya, di kabin gue ada 4 orang. Saat itu kita lagi main kartu UNO. Dan petugas imigrasi yang ambil passport gue teriak ke temennya ‘Indonesia’ dengan nada tanya. Selang sedikit waktu, ada petugas imigrasi lain yang pegang passport gue dan datang ‘would you please come with me?’. OK, berasa ada yang ga beres, gue sudahi permainan UNO dengan 3 temen gue dan ikut dia – pake kaos plus jaket, celana jeans, dan sandal (karena udah malem banget).

Ternyata bukan cuma gue, tapi ada 4 temen lain di program yang sama: dari Pakistan, Kazakhztan, Thailand, dan Malaysia udah di gerbong depan. Kereta berhenti. Kita turun didampingi belasan petugas imigrasi keluar stasiun, kemudian diminta naik bus, dan bus berhenti di kantor imigrasi kota itu. Oya, nama kotanya Erlian.

Rasanya campur aduk, kenapa nih? Sampai di kantor imigrasi, kita dipanggil satu-satu untuk difoto; dan di komputer mereka ada foto-foto ‘suspect’! Wuanj*r. Foto kita semacam dianalisa kemiripan dengan ‘suspect-suspect’ itu. Harga diri gue berasa dicabik-cabik. Nambah lagi, temen gue yang dari Pakistan di passportnya pernah datengin hampir semua negara yang lagi konflik di Timur Tengah. Yang untungnya setelah dia jelasin, itu semua adalah tugas dan/atau undangan dari United Nations.

Hahaha.. Udah gitu, kita terus ditanyain ‘Why do you come to China?’ – dan untungnya teman kita dari Malaysia yang keturunan Chinese bisa jelasin ‘We are invited by your Ministry of Foreign Affairs’ – dan para petugas itu baru sadar kalau kita ini satu rombongan. KZL minta ampun.

Kita nunggu lama. Karena di setiap perbatasan negara, kereta akan diganti rodanya sesuai spek yang berlaku di negara tersebut. Alhasil karena lama banget, temen gue dari Pakistan yang cukup gokil itu memecah suasana, ‘Can we have some tea and snacks?’ – OMOOO! Lagi masuk golongan suspect kok berani-beraninya minta ‘service’ lebih.

Tapi mengejutkan, mereka jawab yang intinya kalau teh mereka ga punya. Tapi mereka keluarin air putih dan berbagai macam snacks. Dan sebelum kita jalan lagi, temen-temen gue minta foto di depan kantor itu. Hahaha.. ‘we had a free city tour beyond the program’ celetuk salah satu temen gue.

14435419_10210399006312265_1870437199466612172_o

(kanan ke kiri) Kazakhtan-Indonesia-Thailand-Malaysia-Pakistan

Kereta akhirnya lewat di kantor tempat kita ‘disimpan sementara’. Kita digiring masuk lagi ke kereta, dan karena berita ‘dibawanya’ 5 orang ini, teman-teman peserta lain menunggu di kereta dan nyorakin pas kita masuk kereta lagi.

Gue sempet berpikir kalau apa yang terjadi di kantor imigrasi itu mungkin cuma formalitas biar petugas imigrasi di sana ada tambahan kerjaan. Hahaha.. Tapi ternyata nggak loh.. Pas gue akhirnya selesai semua program mau balik ke Indonesia, petugas imigrasi di Beijing memanggil supervisornya pas gue kasih passport gue. Kayaknya di komputernya ada catatan sesuatu. Hingga akhirnya supervisor itu cek dan memperbolehkan gue masuk ke dalem bandara; sambil diliatin petugas imigrasi tadi.

Hahaha, sampai di Indonesia gue kadang masih kesel-gemes gimana gitu; perasaan gue orang baik-baik, tapi passport Indonesia membuat orang curiga tentang gue. Dan proses nunggu info visa ke sebuah negara yang bentuknya ‘cuma’ pulau ini juga bikin gue merenung; segede ini Indonesia, tapi banyak negara yang belum ‘percaya’ sama kita. Kalau ditelusuri ‘kenapa-kenapa’nya gue bisa cukup paham sih, emang jadi PR berat buat Indonesia untuk ‘benerin’ citranya di dunia internasional. PR gue juga sih 🙂 – dan gue masih cinta sama Indonesia, dengan kebhinekaannya.

@yosea_kurnianto

Ke Russia yuk! Ada XIX World Festival of Youth and Students!

Gaeis, ceritanya aku dapat email dari Moscow. Aku tahun lalu sempat ke Russia (Vladivostok, Chita, dan Irkutks) lewat program dari Asia Europe Foundation (ASEF) dan udah sempat dikasih tahu bakal ada acara ini. Nah, kemarin panitianya kirim detil kegiatan untuk dipelajari dan tentu saja info seru ini perlu disebarin ke teman-teman usia muda lainnya di Indonesia. Biar gampang aku tulis di sini aja yah. Monggo kalau mau dishare juga ke teman-teman lainnya.

Singkatnya, akan ada XIX World Festival of Youth and Students (cek hestek sosmednya di #WFYS2017 #HelloRussia2017) di Russia bulan Oktober nanti. Semua biaya selama program ditanggung panitia. Jadi kita siapin tiket perjalanan aja dari tempat asal ke Russia (Sochi). Infonya bisa dibaca di bawah ya. Semoga kepilih ya! Siapa tahu kita berangkat bareng 😀

wfys-2017

XIX WFYS (pict: russkiymir.ru)

Apa sih XIX World Festival of Youth and Students?

Jadi ini adalah wadah buat anak-anak muda berkomunikasi lewat diskusi, kegiatan kebudayaan, olahraga, dan cara komunikasi lainnya untuk menemukan cara-cara baru dan unik dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi anak muda di masa-masa ini.

World Youth Festival akan mengumpulkan banyak anak-anak muda yang berjiwa pemimpin ini banyak area, termasuk perwakilan NGO dan organisasi/komunitas kepemudaan yang punya program atau dampak di sains, seni, olahraga, pendidikan, teknologi, politik, organisasi kesiswaan/mahasiswa, serta masyarakat dunia yang tertarik dengan kebudayaan Rusia.

World Festival of Youth and Students akan menjadi program terbesar dalam bidang kerjasama anak-anak muda internasional dan membawa lebih dari 20.000 anak muda dari 150 negara di seluruh dunia.

Kapan dan di mana XIX World Festival of Youth and Students akan dilaksanakan?

14-22 Oktober 2017 di Sochi, Russia.

Siapa yang bisa ikutan?

  • Berusia 18 sampai 35 tahun
  • Memiliki karya-karya yang unik dan menarik
  • Termasuk sebagai warga negara yang baik
  • Merasa dirinya bagian dari komunitas global
  • Merupakan bagian dari salah satu kategori di berikut: pemimpin komunitas atau NGO atau partai politk, jurnalis muda, pelaku seni, pemimpin kelompok olahraga, engineer muda, guru atau dosen muda, pemimpin organisasi kemahasiswaan, wirausaha muda, scientist muda, anak muda lainnya yang belajar Bahasa Rusia dan tertarik dengan kebudayaan Rusia.

Gimana ya caranya ikutan?

  1. Isi form pendaftaran di website (ada di bawah). Pastikan semua kolom diisi dengan baik ya!
  2. Batas pendaftaran adalah 15 April 2017
  3. Kalau udah, tunggu sampai pengumumannya, kira-kira akhir April 2017.

Apa aja yang bakal kamu dapetin?

Nah, penting nih! Perlu dicatet kalau kamu diterima sebagai salah satu peserta, kamu harus siapin biaya transportasi ke Rusia sendiri. Tapi di sana semua akan ditanggung panitia; termasuk hotel, makanan, dan akses ke semua fasilitas yang disediakan. Selain itu, kamu bakal bisa daftar dan dapet visa gratis (terakhir sih aku bayar visa 75 USD kalau normal, atau 150 USD kalau pengen cepet jadi).

Kamu bakal ikutan program-program edukatif yang unik  serta diskusi-diskusi dengan peserta dan pembicara berkelas dunia, dapet informasi baru dan kemampuan aplikatif melalui kelas dan workshop kreatif, belajar keragaman budaya Rusia seperti balet, pertunjukkan es (ice show), festival film dan musik (jazz), sirkus, dan juga lifestyle program kayak streetdance dll. Yang juga penting, kamu bakal ketemu dan dapet kenalan baru yang keren-keren dari 150 negara!

Nah kalau udah mulai penasaran dan pengen banget mulai isi form pendaftaran, bisa buka dan telusuri beberapa info di bawah ini ya!

  1. Website program dimana kamu bisa gali info dan daftar http://www.russia2017.com/#/members– inget yah deadline pendaftarannya 15 April 2017.
  2. Ini FB page untuk ikuti perkembangannya: https://www.facebook.com/wfys2017/?pnref=story
  3. Kalau mau nonton video promo kegiatannya yang pake Bahasa Inggris di sini: https://www.youtube.com/watch?v=NYarkgZ75jQ

Oya, ada juga foto challenge di sosial media buat kamu! Caranya gampang banget: foto diri kamu dengan tulisan #WFYS2017 dan upload di instagram. Jangan lupa kasih hestek #HelloRussia2017! Buat liat contohnya, bisa langsung search #HelloRussia2017 ya!

OK gaeis, good luck yah! Jangan lupa info ke teman lainnya biar perjalanan dan pengalamanmu makin seru kalau berangkat bareng-bareng 😉

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Tentang Memperbaiki Diri

Bulan Januari udah lewat. Dan beneran, gue ngerasa cepet banget. Entah karena mungkin sebenernya gue baru mulai aktivitas/kerja di minggu kedua Januari (karena seminggu pertama gue liburan), atau emang karena aktivitas bulan Januari yang bejibun bikin jadi merasa ‘kurang waktu’. Anyway, Januari or awal tahun biasanya dipandang sebagai waktu yang tepat buat sebagian orang untuk menyampaikan dan/atau meminta feedback. Meski asumsi gue, mereka yang dengan sadar dan berani ‘meminta’ feedback jumlahnya lebih kecil.

Nah, awal tahun ini gue juga seneng banget karena dapet feedback, baik soal kerjaan atau soal kehidupan pribadi gue. Yang mau gue bahas dalam tulisan singkat ini lebih ke kehidupan pribadi gue sih. Gue dapet pesan dari seorang yang cukup berpengaruh dalam hidup gue untuk memperbaiki salah satu aspek diri gue. Nah, mulailah gue berusaha memperbaiki diri meski kadang masih lupa dan susah nguasain diri.

Pertanyaannya adalah kenapa gue mau dengerin (bahkan sering minta) feedback dan berusaha memperbaiki diri? Obrolan ini ga sengaja gue gue bahas dengan seorang teman,  yang beberapa hari setelah gue berusaha, dia bilang ‘sebenere emas yang di comberan, akan tetap jadi emas. Tinggal nunggu ditemuin aja, dan biasanya gampang, karena standout.’

OK. Denger statement dia, gue langsung berpikir dan bilang, ‘sayangnya gue bukan emas’.

Gue lanjutin setengah sadar, ‘tapi walau bukan emas, batu yang di comberan atau di kali, kalau dia digosok dan diproses dengan baik, jadi batu yang mahal. Tapi lebih penting lagi, di tangan/jari siapa batu itu dipake’.

Hahaha iya maksud gue batu akik yang belakangan kemarin booming dan dicari banyak orang. Kadang gue heran sama batu-batu itu, awalnya batu biasa, terus dipotong, digosok, dan jadi mahal. Lebih mahal kalau dia ditangan orang yang ‘mahal’ juga. Tapi gue menikmati fenomena itu dan menangkap pembelajaran yang cukup unik.

Feedback lo sangat membantu buat perbaikan diri gue. (pict:www.addthis.com)

Feedback lo sangat membantu buat perbaikan diri gue.
(pict:www.addthis.com)

Karena tahu kalau gue bukan emas, jadi gue berusaha dan bersedia untuk digosok, dipoles, dan dibentuk supaya makin punya nilai. Gue juga cukup percaya dengan pepatah Jawa ‘Aja cedhak kebo gupak’ (kira-kira artinya: Jangan mendekat dengan kerbau (kotor) kalau tidak ingin ikut kotor). Memang akhirnya gue perlu filter siapa-siapa yang ada di sekeliling gue biar ‘nilai’ gue bertambah juga.

Nah, usaha memperbaiki diri ini bukan usaha sejam dua jam. Butuh banget yang namanya komitmen, persistensi, dan paling penting adalah keterbukaan diri untuk terus menerima masukan-masukan yang membangun dari orang-orang. Gue sih berharap gue mampu untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Kalau lo ada masukan buat gue, jangan segan-segan info ke gue yah! Thank you banget buat teman-teman yang selalu terbuka dan mau bantu gue untuk terus memperbaiki diri.

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Kapasitas Buat Percaya

Beberapa hari belakangan gue semacam dapet pesan beruntun untuk belajar percaya. Pesan yang gue tangkep emang dari banyak sumber – pidato orang, message yang gue terima, atau buku dan artikel yang gue baca, baik secara ekplisit maupun implisit. Konteks percaya kali ini emang luas sih, tapi ada beberapa hal yang gue akhirnya ‘setujui’, terutama yang terkait dengan apa yang hari-hari ini gue alami.

Gue diingetin untuk belajar percaya, yang pertama, sama diri sendiri. Jadi orang yang minderan sejak kecil emang cukup sering biking ga nyaman. Kadang punya tujuan atau mimpi yang ingin dicapai, tapi pas ‘kambuh’ minder dan ga PD-nya, tetiba pengen stop berjuang dan merasa semuanya sia-sia. Kalau udah ngerasa begitu, jadi perlu sering-sering ngobrol sama orang yang punya energi positif biar gue ketularan kepositifan dan optimisme mereka. Thanks buat orang-orang positif yang nyedian waktu buat gue serap energinya 😊

Eniwey, selain diri sendiri, gue juga diingetin untuk percaya ke orang dan hal lainnya. Salah satu sumber yang gue dapet soal ini, tanya ‘seberapa gede sih lo punya kapasitas buat percaya?’. Well, waktu denger pertanyaan ini gue serasa ditampar sih.

Menurut orang itu, kemungkinan besar orang akan ambil keputusan berdasarkan apa yang dia pikirin, dan dia akan mikirin berdasarkan apa yang dia percaya. Nah, apa dan gimana seseorang percaya terhadap sesuatu atau seseorang akan sangat mempengaruhi keputusan-keputusan orang tersebut.

Masalahnya orang ga mau percaya karena dia ga mau berharap sama suatu hal atau seseorang itu. Karena semakin besar percaya, semakin besar berharap – kalau gagal akan makin besar juga kecewanya.

Belajar dari layang-layang: tetap percaya pada pemegang tali, walau angin melaju kencang.

Belajar dari layang-layang: tetap percaya pada pemegang tali, walau angin melaju kencang.

Ketika dapet pertanyaan soal kapasitas buat percaya tadi; gue sebenarnya malu sih. Sejauh ini kalau gue refleksi lagi, ternyata kapasitas gue buat percaya belum segede itu. Gue masih kadang ga percaya ama diri sendiri, ga percaya bahwa apa yang gue impikan bakal terwujud, ga percaya bahwa hidup gue udah diatur sedemikian rupa sehingga banyak pelajaran yg bisa diambil, ga percaya sama suatu hal atau seseorang, dan juga bahkan ga percaya sama waktu yang katanya bisa bantu gue ambil keputusan lebih bijak.

Belajar percaya emang ga semudah itu. Tapi gimanapun juga, percaya dan harapan justru bikin kita punya energi untuk lakuin apa yang kita bisa buat bikin hidup kita bermakna. Gue pribadi punya banyak pe-er terkait ningkatin kapasitas percaya ini. Semoga proses yang gue jalani makin bikin gue belajar buat percaya dan berharap, supaya gue tetep punya energi 😊

It’s about time, kalau kata seseorang. Will see gimana gue bisa belajar dalam hal ini.

@yosea_kurnianto

Catatan Singkat: Masih Boleh Berjuang

Dengan apa seseorang yang punya impian untuk diperjuangkan akan berhenti? Kalau konteksnya sangat besar, soal kemerdekaan misalnya, mungkin ketika para pahlawan itu sudah tidak bernafas lagi. Namun kalau soal keseharian hidup, atau sebuah tujuan hidup? Selain jika kita tidak bernafas lagi, dua hal ini mungkin bisa menghentikannya: ketika memang orang itu mendapat penolakan keras dari apa yang ia perjuangkan, atau ketika ia sudah menyadari bahwa perjuangannya sia-sia.

Berjuang Sampai Finish! pict: clipartfest.com

Berjuang Sampai Finish!
pict: clipartfest.com

Setiap orang pasti punya hal-hal yang ia perjuangkan. Terkadang memang apa yang diperjuangkan seseorang, bisa jadi tidak begitu bernilai untuk orang lain; serta sebaliknya. Hanya saja, persoalan bernilai atau tidak, bergantung pada bagaimana orang tersebut percaya pada apa yang ia perjuangkan, bukan bagaimana orang lain berpikir soal itu. Perjuangan seseorang akan suatu hal, akan menjadi pola-pola yang dapat mengubah kehidupannya.

Aku punya beberapa hal yang ingin kuperjuangkan. Ada perjuangan yang aku utarakan dengan orang-orang tertentu, ada juga perjuangan yang aku simpan dalam diriku. Dan, Tuhan Yang Maha Baik, dengan berbagai caranya yang ajaib, sejauh ini memberiku kemampuan untuk menimbang perjuangan mana yang perlu aku lanjutkan dan yang perlu aku review ulang. Dan ketika hal-hal yang aku, sebagai manusia, percaya sangat bernilai masih diberi kesempatan untuk diperjuangkan, tentu aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Selama masih boleh berjuang, aku akan berjuang.

@yosea_kurnianto