Tahun Baru dan Serba 4.0

Selamat tahun baru, teman-teman! Semoga tahun ini membawa kita pada lebih banyak energy positif, pembelajaran, dan segala kebaikan, pun kebermanfaatan. Oya, sudah sempat membuat list resolusi / harapan pencapaian tahun ini? Dari kebanyakan list yang dibuat, kemungkinan besar garis merahnya adalah pada apapun dengan frasa ‘lebih + (kata sifat)’ -untuk menggambarkan sesuatu yang ingin kita capai di masa yang akan datang. Yang secara kolektif, kita semua berharap mewujudkan Indonesia yang lebih baik – karena kita sebagai bagian di dalamnya juga berharap dan berusaha untuk jadi lebih baik (aahey! 😀 ).

Anyway, mungkin teman-teman mengikuti diskusi soal ‘Making Indonesia 4.0’ yang diluncurkan pemerintah tanggal 4 April 2018 lalu. Kalau yang belum dapat gambaran penuhnya, bisa baca di sini – atau slide-nya di sini. Intinya, Indonesia ingin bergerak untuk memaksimalkan manfaat dari revolusi industri 4.0 yang dibahasakan lewat aspirasi di bawah ini:

Screen Shot 2019-01-02 at 13.00.23
Sumber: http://www.bsn.go.id/uploads/download/making_indonesia_4.0_-_kementerian_perindustrian.pdf

Dari aspirasi itu, kemudian dibuatlah 10 prioritas nasional untuk ‘making Indonesia 4.0’ sebagai berikut:

Screen Shot 2019-01-02 at 12.59.45
Sumber: http://www.bsn.go.id/uploads/download/making_indonesia_4.0_-_kementerian_perindustrian.pdf

Dari 10 prioritas nasional tersebut, di bagian mana kira-kira teman-teman bisa berkontribusi baik secara personal atau melalui organisasi/perusahaan teman-teman?

Sebelum lanjut, Revolusi industri 4.0 sendiri mulai mencuat setelah disampaikan oleh Professor Klaus Schwab, pendiri dan ketua World Economic Forum (WEF) pada 2016 silam. Saya mendapatkan buku pemikiran beliau berjudul ‘The Fourth Industrial Revolution’ yang diluncurkan sesaat setelah WEF di tahun 2016. Di halaman awal (hal. 6-7), Prof. Klaus Schwab menjelaskan konteks sejarah dari pemikirannya:

  1. Revolusi industri pertama ditandai dengan pembangunan jalan dan intervensi mesin uap dalam produksi mekanis. Ini berkisar antara tahun 1760 hingga sekitar 1840.
  2. Revolusi industri kedua dimulai sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 20, yang menghasilkan proses produksi masal, dengan kekuatan listrik dan efektifitas lajur produksi (assembly line).
  3. Revolusi industri ketiga yang dimulai tahun 1960 disebut juga dengan revolusi digital / computer. Hal ini karena revolusinya dibantu oleh pengembangan semi-konduktor, ‘mainframe computing’ (sekitar 1960), ‘personal computing’ (sekitar 1970 – 1980), dan internet (sekitar 1990).
  4. Revolusi industri keempat, dipercaya oleh Prof. Klaus Schwab, sudah dimulai. Ini ditandai dengan berkembangnya mobile internet di mana-mana, sensor-sensor yang makin kecil ukurannya tetapi makin besar kekuatannya, dan dengan ‘artificial intelligence’ dan ‘machine learning’.

Pertanyaannya, apakah tidak ada revolusi industri lainnya sebelum tahun 1760? Dalam sebuah paragraph (hal. 7), Prof. Klaus Schwab mengatakan bahwa definisi tiga revolusi industri (poin 1-3) akan banyak perdebatan, karena bisa saja dibagi ke dalam hal lainnya. Semisal, apabila proses perkembangan masa lampau yang membuat manusia mulai bercocok-tanam, domestifikasi ternak, dan tukar barang/jual beli – dikategorikan pada revolusi industri.

 

Okay, poinnya bukan mendebatkan angka 1.0-4.0, tapi bahwa setelah Indonesia juga turut ‘mengamini’ konsep revolusi industri dari Prof. Klaus Schwab ini lewat diluncurkannya ‘Making Indonesia 4.0’ – belakangan banyak juga aktivitas, acara (seminar / workshop / konferensi), atau program yang berimbuhan angka 4.0. Banyak inisiatif dari teman-teman yang cukup menarik dan patut diapresiasi, meski banyak juga yang ‘asal kasih angka 4.0 – biar keren / biar ikutan tren’ – seperti halnya beragam makanan diberi ‘rasa green-tea’ beberapa waktu lalu supaya ikut trend ‘dan laku’.

Beberapa penambahan angka 4.0 kadang menimbulkan pertanyaan apabila tidak dibarengi dengan konteks yang jelas. Sebagai contoh ‘Making Indonesia 4.0’ – memangnya Indonesia 1.0, 2.0, dan 3.0 adalah Indonesia yang seperti apa? Meski pada akhirnya kita akan memahami bahwa angka tersebut dikaitkan dengan proses revolusi industri. Nama kota, nama profesi, nama program, atau nama kantor yang ditambah dengan angka 4.0 tidak akan membuat kita serta merta siap untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Sebaliknya justru kadang menimbulkan pertanyaan, seberapa kita sudah memahami proses yang perlu kita tempuh untuk menuju tahap 4.0 tersebut.

Amazon.com
Sampul Buku. Sumber: Amazon.com

Nah, sebagai praktisi atau konsultan HR/HC, peran kita sangat besar dalam menyiapkan manusia dan organisasi untuk mampu menghadapi revolusi industri – atau apapun yang dibubuhi angka – 4.0 di belakangnya. Kabar baiknya, Prof. Klaus Schwab memberikan beberapa hal yang perlu kita kembangkan untuk mampu beradaptasi, membentuk, dan menghadapi tantangan ke depan. Ia menyebutkan ada 4 tipe intelegensia (hal. 106) yang perlu kita kembangkan – atau kita fasilitasi sebagai praktisi dan konsultan HR/HC:

  1. Contextual (the mind) – bicara soal bagaimana kita memahami dan mengaplikasikan pengetahuan kita
  2. Emotional (the heart) – membahas soal bagaimana kita memproses dan mengintegrasikan pikiran dan perasaan kita, serta mengkorelasikan kondisi kita dan sekitar kita.
  3. Inspired (the soul) – menyentuh soal bagaimana kita menggunakan rasa (sense) dari tujuan individu dan tujuan bersama, rasa percaya, dan aktivitas baik lain untuk membuat dampak serta tindakan untuk mencapai kebaikan bersama.
  4. Physical (the body) – bicara soal bagaimana kita membangun dan menjaga kesehatan dan ‘well-being’ individu dan orang-orang di sekitar kita untuk mampu membawa energy positif yang dibutuhkan untuk transformasi personal dan sistem.

Keempat tipe intelegensia tersebut dijelaskan lebih detil di halaman 107-110, apabila ingin membaca lebih lengkap.

Pada akhirnya, sebanyak apapun kita mengikuti atau membuat segala dengan imbuhan 4.0, di tahun yang baru ini, tidak menjamin kita bisa menjadi bagian yang memberikan ‘added value’ pada proses yang terjadi. Berkaca dari 4 tipe intelegensia dan 10 prioritas dari ‘Making Indonesia 4.0’ – kita bisa mulai menyeleraskan diri untuk berpartisipasi pada resolusi kolektif kita: membuat Indonesia lebih baik.

PS: saya pribadi mengapresiasi semua inisiatif untuk mendorong penyiapan Indonesia dalam revolusi industri 4.0, tapi semoga tidak ada yang menggemakan ide HR/HC 4.0. Ini ide yang sangat absurd.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s