Sowan ke Rumah Mbak Alissa: Mumpung Masih Muda, Benerin Polanya

Minggu lalu aku sempat pulang ke rumah di Temanggung. Di hari pertama aku di kampung halaman, tetiba terpikir untuk sowan ke rumah Mbak Alissa Wahid, putri dari Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4. Akhirnya aku coba kirim WhatsApp dan bertanya apakah beliau sedang berada di rumahnya yang di Jogja. Voila! WhatsAppku dibalas dan kita janjian ketemu di hari Minggu malam. Mbak Alissa Wahid memang salah satu sosok sumber pembelajaranku. Beberapa tahun lalu sempat juga berkunjung ke Sekolah yang didirikan beliau di Jogja, kemudian bertemu beberapa kali dalam berbagai kesempatan. Beruntung sekali aku, karena dalam kesibukan yang luar biasa, Mbak Alissa masih tetap membalas setiap WA-ku dan meluangkan waktu untuk ngobrol dengan remukan rempeyek kacang semacam diriku.

Nah, aku sampai di rumah Mbak Alissa pukul 8 malam. Beberapa perbincangan awal menceritaka aktivitas masing-masing setelah beberapa lama kita tidak bertemu dan berbincang. Banyak hal menarik yang aku tangkap dari cerita Mbak Alissa, mulai dari aktivitas beliau bersama komunitas Gusdurian yang tersebar di seantero-jagad hingga kesibukan beliau dalam Pengurus Besar NU dan program-program edukasi terkait ‘family resilience’ bersama Kementerian Agama. Dari dulu memang Mbak Alissa cukup konsisten di isu-isu yang digemari dan menjadi perhatiannya, paling tidak yang paling terasa adalah kebhinnekaan (keberagaman / diversity / religious pluralism) dan psychology keluarga (dan anak).

Kekonsistenan Mbak Alissa merebut perhatian saya malam itu. Maksudnya, saya yakin Mbak Alissa dapat banyak sekali tawaran untuk kerjain project A,B,Z – atau ikut di ajang politik sebagai pejabat A,B,Z. Pertanyaan saya di malam itu salah satunya: dari sekian banyak kesempatan itu, bagaimana Mbak Alissa memilih A dan B kemudian menolak C dan D? Apa yang menjadi parameter atau indikator sebuah kesempatan layak kita ‘jajal’ atau kita hindari?

Mbak Alissa bercerita bagaimana beliau tiap tahun membuat peta diri (self map), persis yang selama ini saya sudah coba lakukan juga. Beliau menunjukkan beberapa peta diri yang dibuat tahun lalu, untuk kemudian dapat memetakan peran dan prioritas untuk tahun berjalan. Prioritas tahun berjalan ini selalu harus harmoni dengan tujuan jangka panjang serta tujuan besar dalam perjalanan hidup. Penentuan tujuan-tujuan ini harus menjadi sebuah pola, agar kita secara sadar dapat mengelola diri untuk melangkah pada titik-titik yang penting dan perlu.

Selanjutnya, Mbak Alissa menerangkan bagaimana observasi beliau pada 2 tipe orang yang berbeda: principal based dan power based. Orang-orang yang menganut ‘principal based’, maka apapun yang dia kerjakan (termasuk menerima tawaran / kesempatan) akan menjadi kepuasan aktualisasi diri karena sesuai dengan prinsip-prinsip hidupnya, dalam hal ini sejalan dengan prinsip universal: kebaikan dan harmoni. Sebaliknya, mereka yang dalam jalur ‘power based’ akan melakukan apa saja (termasuk menerima atau mengusahakan tawaran / kesempatan) supaya dia menjadi ‘center of power’ dalam system di mana dia berada. Orang-orang dengan jalur ‘power based’ ini banyak sekali kita lihat dalam pemberitaan, self-centric dan mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk diri sendiri tanpa mengindahkan hukum.

Aku pamit pulang saat jam menunjukkan hampir pukul 10 malam. Menjadi perenunganku secara pribadi ketika perjalanan pulang dari rumah Mbak Alissa: seberapa jauh aku sudah mengenal diriku, mengelola prioritas dan mengatur waktu, membangun prinsip-prinsip hidup yang memberi dampak positif untuk orang di sekitarku, serta selalu berusaha memberikan nilai tambah untuk system di mana aku berada. Obrolan ini cukup mengingatkanku untuk kembali menilik pola; baik pola pikir dan pola hidup. Pola yang baik akan menghasilkan kepribadian dan karakter yang baik, sehingga kita mampu menjadi manusia bermanfaat, bukan malah menjadi batu sandungan.

Have a nice weekend!

@yosea_kurnianto

Advertisements

2 thoughts on “Sowan ke Rumah Mbak Alissa: Mumpung Masih Muda, Benerin Polanya

  1. Wah, baru tau tentang principal based dan powerbased ini. Sepertinya tipe manusia seperti ini bisa dilihat dari kesehariannya ya tanpa harus memahami ilmu psikologi. btw, salam kenal ya yosea 🙂

    • Hi Mbak. Maaf yah daku responsenya lama. Heuheu. Iya sih, kadang-kadang banyak common sense yang kita bisa renungkan lewat kehidupan sehari-hari (belajar dari kehidupan) tanpa perlu terlalu dalam secara akademik. All the best Mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s