Problem kaum Millenials: Sabar dulu bro!

Sebuah video talkshow mengenai ‘Problems with Millenials’ dari Simon Sinek  tersebar cukup viral di akhir tahun kemarin-awal tahun ini. Beberapa rekan mengirimkan video tersebut kepadaku karena mereka tahu aku berkecimpung di area HR dan People Development yang tentunya membahas millennials. Meski kadang aku sendiri merasa topik tersebut cukup ‘overrated’ dan kadang digeneralisasi begitu saja. Seperti yang juga banyak orang lakukan setelah melihat video Simon Sinek ini (coba googling yah); orang-orang menulis kritik karena video ini dianggap cukup men-generalisasi suatu kelompok millenials. Anyway, aku menonton video tersebut dan dari banyak bahasan, aku paling tertarik dengan sudut pandang Simon yang menurutku (sebagai bagian dari millennials) ada benarnya juga: Simon membahas bahwa salah satu problem atau challenge generasi millennial adalah soal ‘patient / impatience’ atau kesabaran, terutama kesabaran terkait proses. Oya, kalau mau baca transkrip videonya bisa dari web INI.

Di era perubahan yang begitu cepat, dengan sokongan teknologi informasi dan kecanggihan masa kini, generasi kita sering terlenakan yang membuat sumbu kesabaran memendek. Di salah satu FGD misalnya, aku menangkap harapan millennials soal dunia kerja: beberapa tahun jadi pimpinan dan/atau dapat project dengan tanggung jawab besar. Ditambah dengan model didikan orang tua jaman sekarang yang bermuatan ‘You can be everything you want (if you believe to yourself, etc), patience dan persistence jadi hal yang langka karena adanya gap antara harapan dan ekspektasi (ga semua sistem di mana kita ada sudah mengakomodasi kesabaran super pendek yang dimiliki generasi millennials). Ga heran kalau banyak millennials yang ingin segera jadi pimpinan dan/atau dapat tanggung jawab besar itu pindah dari satu company ke company lain, atau bikin start-up dan bubar segera untuk kemudian bikin start up yang lainnya.

Well, ga bisa dipungkiri, aku juga sering merasa ga sabar dengan beberapa sistem yang ada. Tapi untungnya ada beberapa moment yang membuatku lakukan refleksi/kontemplasi dan berusaha untuk menguasai diri. Kesadaran bahwa semuanya butuh proses (walau sering gemes dengan proses-proses yang sebenarnya bisa disimplifikasi atau dihilangkan) dan menyadari bahwa kita cuma ‘seucrit’ komponen dari sistem dan semesta yang begitu luas, bisa membantu kita untuk menguasai diri.

Belakangan aku merasa ga sabar dan susah untuk menunggu. Perasaan ini muncul gara-gara aku baru bisa lakukan langkah selanjutnya, kalau langkah yang aku tunggu prosesnya ini beres. Tapi lagi-lagi ada banyak hal yang ga bisa kita kontrol dimana kita kurang bisa lakukan apa-apa. Akhirnya waktu yang ada aku gunakan untuk mempersiapkan beberapa langkah ke depan seandainya proses ini selesai.

Sabar bro. Ada waktunya 🙂

Nah, kadang proses menunggu ini bikin kita stress, ga produktif, bahkan akhirnya ambil langkah lain yang justru bisa memperburuk situasi. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk belajar menguasai diri saat kita mulai ga sabar, ini pendapat pribadi yah:

  1. Menurutku lagi-lagi kunci penguasaan diri juga ada dalam pikiran. Kalau bisa menguasai pikiran, kita hampir bisa menguasai diri (selain juga harus menguasai hati dan perasaan #eeaa). Makanya kalau pas mulai ga sabar, kadang kita perlu alihrkan pikiran ke hal lain: hobby, project, pekerjaan, usaha, aktivitas social, dll.
  2. Latih diri untuk sadar (conscious dan mindful) kalau hampir semua hal butuh proses, dan salah satu komponen utama dari proses adalah waktu. Sebagai bagian dari proses, kita perlu menghormati komponen lain yang mungkin belum sejalan dengan keinginan atau harapan kita.
  3. Terkait poin nomor 1, penting banget buat millennials yang punya energi lebih untuk menyalurkannya dengan tepat; jangan sampai cuma kuliah-pulang atau kerja-pulang dan bengong cuma nungguin satu hal. Usahakan pikiran dan energy kita ter-occupied dengan hal-hal lain selain ‘yang kita tunggu’ itu.
  4. Punya teman, coach, dan mentor buat sharing dan menyampaikan keluh kesah juga cukup penting untuk mengelola kesabaran kita. Masukan dari teman atau nasihat dari mentor akan membantu kita mengatur pola pikir dan kegundahan saat menunggu.

Bahwa dalam perjalanan hidup kita tetap punya pilihan lain untuk cari jalan yang lebih cepat dan sesuai keinginan kita, boleh jadi ga semua dari kita punya kesempatan untuk menikmati pilihan itu. Kadang-kadang kita dalam posisi yang memang cuma ada sedikit pilihan (antara ya dan tidak, maju atau diam, ambil atau tinggalkan) dan harus menunggu beberapa saat untuk melihat lebih jelas. Kita perlu dengan bijak mengelola diri untuk hal ini. Jadilah millennials yang tetap berambisi dengan idealism dan energy, tapi mampu menguasai diri untuk bersabar dalam proses.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s