Catatan Singkat: Mengapa Ada yang Humble, Ada yang Tidak?

Sepulang kerja, aku duduk dan ngopi sejenak bersama seorang rekan di lounge kantor. Sesaat dalam obrolan, aku kemudian mengajukan pertanyaan padanya, ‘Mengapa ada orang yang tampaknya luar biasa, tapi humble-nya minta ampun. Tapi ada beberapa orang lainnya yang biasa saja, tapi berusaha menampilkan diri setinggi-tingginya?’

Rasanya pertanyaanku cukup tepat sasaran. Rekan yang duduk di depanku adalah anak dari seorang presiden direktur perusahaan besar, yang menampilkan diri dengan sederhana dan tiap harinya pulang ke rumah di BSD naik kereta. Sering kita makan di warung-warung kecil dengan sayur dan lauk seadanya di sana. Apakah kemudian pertanyaanku berlebihan dan terlalu menyinggung? Rasanya tidak juga. Tapi entah kenapa, rekanku ini minta waktu sejenak sebelum bisa menjawabnya.

Aneh. Tampaknya dia tidak merasa dirinya berusaha untuk humble, tapi memang begitulah pembawaannya. Seperti juga banyak top leaders yang aku temui dan tanya, kebanyakan dari mereka merasa ‘hidup memang harusnya seperti ini’.

Tentu tulisan ini bukan mencari penjelasan dari buku teks atau teori lainnya. Hanya sekedar perenungan dan mendengar apa kata orang di sekelilingku. Beberapa bilang, jadi humble bisa jadi karena pola asuh dan teladan dari orang tua. Yang lain sampaikan bahwa ini karena pengalaman dan perjalanan hidup orang tersebut. Sebagian lain bilang bahwa ini soal penguasaan diri yang dipengaruhi mindset atau pola pikir orang-orang.

Kembali ke obrolan sore tadi, rekanku bilang ‘orang mungkin sesaat terkesan dengan apa yang mampu kamu beli dan tunjukkan ke orang, tapi mereka terinspirasi lebih mendalam saat melihat bagaimana kita menjalani kehidupan dengan kerendahaan hati dan integritas’. Lanjutnya, ‘yang mendefinisikan kualitas seseorang bukan apa yang dia punya; tapi karakter dan ‘personality’ nya – bagaimana dia mensyukuri dan mengelola apa yang dia punya’.

Aku sempat lontarkan pertanyaan yang sama untuk rekanku tadi lewat insta-story (@yosea_kurnianto). Beberapa response dari teman-temanku cukup menarik. Salah satu yang akhirnya menjadi pemikiran adalah: makin berisi, padi makin merunduk.

Kalau dalam ragam tanaman, rasanya tidak semua tanaman adalah jenis padi. Karena dibutuhkan juga tanaman-tanaman lain untuk menjaga ekosistem di ala mini. Kalau dalam masyarakat, apakah juga semua orang harus menjadi ‘padi’ yang makin berisi makin merunduk? Ataukah mungkin memang perlu juga ‘jenis tanaman lainnya’?

makin berisi, makin merunduk
pict: forletnews(.)com

Alasan kenapa aku lontarkan pertanyaan itu adalah karena aku juga ingin terus belajar menjadi humble dari mereka yang menurutku humble. Meski memang aku ga punya apa-apa, seperti mereka. Tapi menurutku jadi orang humble sangat menarik dan tampaknya penuh damai sejahtera. Mereka tidak berlomba-lomba untuk menunjukkan diri dalam rangka bersombong belaka, tapi berusaha terus menjadi penghangat dalam dinginnya jiwa dan karakter orang-orang lainnya.

Nah, setiap kita punya pilihan apakah kita ingin menjadi padi yang makin berisi makin merunduk atau lainnya. Tentu kita tahu mana yang lebih baik buat diri dan kondisi kita.

Jadi, kenapa ada orang humble, dan sebagian lainnya berusaha meninggikan diri? Tidak ada jawaban yang jelas dalam tulisan ini. Tentu karena banyak faktor 🙂

Mungkin ada pendapat, mengapa?

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s