Catatan Singkat: Kelola Kecewa

Ada seorang pemilik kebun yang kasih kepercayaan ke seorang penjaga. Pemilik kebun ini cuma datang buat liat setahun sekali. Biasanya dia datang untuk liat kondisi dan ngobrol sama penjaganya. Suatu waktu si pemilik kebun datang dan liat satu pohon yang menurut pengamatan sang pemilik nggak menghasilkan buah sejak tahun lalu.

Cukup wajar kalau pemilik kebun kecewa, karena dari semua pohon di kebunnya, cuma pohon ini yang ga berbuah. Pemilik kebun akhirnya panggil penjaga dan minta pohon ini ditebang. Surprisingly, penjaga jawab, “Kasih kesempatan 1 tahun lagi. Biar saya coba cangkul tanah sekelilingnya dan kasih pupuk. Kalau emang sampai tahun depan masih ga berbuah, kita tebang saja”.

Seperginya pemilik kebun, penjaga itu lakuin apa yang ia katakan ke pemilik. Dengan sabar ia cangkul tanah di sekeliling pohon dan kasih pupuk, kemudian merawatnya. Penjaga kebun itu tahu, bahwa permasalahan pohon yang ga berbuah bukan serta merta dari daun atau rantingnya, tapi lebih dari itu: pada akarnya.

unfruitful-tree

‘beresin akarnya’ (pict: id.pinterest.com)

Nah, sering banget kita lupa kalau kecewa atau punya masalah, yang kita liat dan ‘gempur’ hanya apa yang tampak ke kita; tanpa mau beresin akarnya. Tentu tidak semua orang mau dan mampu untuk gali akar kecewa atau masalah, sehingga ‘action’ yang dilakukan hanya bersifat sementara bahkan tidak tepat pada sasaran utamanya.

Lebih parahnya kalau orang tahu akar masalahnya apa, tapi ga ada yang ‘berani’ untuk memperbaikinya. Menggali akar harus diikuti oleh ‘action’ yang kadang bikin ada rasa ga nyaman dan mengganggu. Kayak paramedis/dokter kalau mau nyembuhin luka juga kadang ‘perlu melukai’ bagian lain dulu. Proses ini butuh komitmen sih.

Menggali akar kecewa atau masalah dan membenahinya emang ga gampang. Kadang juga menyakitkan. Bukankah dalam beberapa kondisi, yang pahit justru bisa jadi obat yang manjur?  Kita harus mau untuk ambil sikap yang mungkin juga bikin konfrontasi dengan kondisi yang ada. Emang sih kita perlu tahu batasan, tapi perlu berani juga untuk lakukan. Udah banyak orang yang malas gali akar, ga mau konfrontasi (demi kebaikan), yang akhirnya bikin kita cuma jadi rata-rata dan  kurang produktif.

Balik ke soal penjaga kebun: dia dapet kesempatan untuk ‘selamatkan’ 1 pohon yang ga berbuah, dia langsung perbaiki dari akarnya. Ini cukup menginspirasi sih. Selama ini gue kadang juga takut ‘gali akar’ dan yang paling penting: ambil sikap/action soal itu.

Manusia emang susah untuk ga kecewa. Butuh kebijaksanaan untuk mengelola kecewa. Butuh lapang dada dan pikiran terbuka untuk gali akar.

Kelola kecewa ini juga bukan soal kita kecewa ke orang lain / kondisi lain doank. Tapi juga sebaliknya, kalau ternyata kita yang dalam posisi ‘pohon ga berbuah’ itu – dan orang lain kecewa sama kita, kita juga perlu insropeksi dan perbaiki akar sendiri :’)

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s