Sebuah Keterlambatan

Banyak dari kita mungkin pernah lakukan keterlambatan: terlambat mengumpulkan tugas, terlambat check-in di bandara, terlambat koordinasi, atau terlambat dalam hal lainnya. Bukan sebuah hal yang jarang juga ketika kita mungkin dibuat kesal oleh seseorang atau sesuatu yang terlambat. Dalam hal ini, baik kita yang lakukan atau kita sebagai penerima keterlambatan, mungkin sama-sama merasakan kerugian, kekesalan, atau kesedihan. Kalau saja keterlambatan bisa dicegah, mungkin kita tidak perlu merasakan hal-hal tersebut. Namun terkadang banyak hal di luar jangkauan dan kontrol kita, dan kita seringkali dibuat mau tak mau menerima hal tersebut.

Bukan hal yang mudah untuk menerima sebuah keterlambatan. Apalagi jika kita benar-benar menginginkan dan sudah berusaha untuk mencapainya. Terlambat mungkin sebuah konsekuensi dari ketidaktepatan kita melihat situasi dan mengatur waktu, tapi bisa jadi juga merupakan skenario semesta untuk kita memahami atau belajar sesuatu. Meski itu sebenarnya adalah usaha untuk menenangkan diri atas sebuah keterlambatan yang kita lakukan. Selalu ada cara berpikir untuk ‘ngeles’ atas apa yang kita alami, dalam rangka menenangkan diri.

Saya sering juga merasa terlambat dalam banyak hal. Well, kalau soal terlambat dalam kerjaan kayaknya semua rekan kerja saya sudah cukup paham betapa saya sering terlambat :’) – Nah untuk konteks ini bukan soal kerjaan, dalam sisi kehidupan lain kadang saya juga menyesal, sedih, bahkan kesal dengan diri sendiri karena keterlambatan yang saya alami. Dalam banyak hal memang saya berjuang untuk mengusahakan yang terbaik, tetapi lagi-lagi tidak semua yang saya pikir baik adalah sesuatu yang tepat.

ItsNotTooLate-2015.png

is it really late or not too late?

Baru saja saya mengalami keterlambatan dalam suatu hal. Saya terlambat menyadari sesuatu, memutuskan sesuatu, dan memperjuangkan sesuatu. Buat sebagian orang terdengar sederhana, tapi mungkin buat yang pernah alami hal serupa, bisa jadi punya rasa kecewa yang sama dengan saya. Ada pesan dari seseorang bahwa saya tidak perlu menyesali karena mungkin saja semesta punya rencana lain. Kemarin saya teringat sebuah lirik lagu, ‘people say time will heal, but you know that they don’t feel what you feel’. Well, tentu saya menghormati masukan tersebut, dan memang ada benarnya juga – walaupun menguasai diri untuk hal tersebut bukan hal yang bisa saya lakukan dengan singkat.

Dari sekian banyak proses dan perasaan kecewa, kecewa karena terlambat kali ini cukup menguras pemikiran. Hanya saja ini terjadi di sela-sela perjalanan saya di beberapa kota di luar negeri, jadi ada cukup kesibukan yang membuat saya bisa mengimbangi rasa kesal ini. Meski di waktu luang masih menjadi pemikiran.

Saya rasa kekesalan dan kekecewaan bisa juga membuat kita semakin dewasa. Apapun yang terjadi dalam hidup kita mungkin sebenarnya netral, sikap dan pemikiran kita yang menentukan bagaimana kita akan mengolahnya. Untuk kali ini, saya berusaha belajar banyak dari proses keterlambatan ini. Dan tentu saja, saya berusaha mendewasakan diri dan memahami kehendak semesta.

Perasaan ini rasanya cukup membuat sebuah sensasi di akhir perjalanan saya seminggu ini. Entah apa yang terjadi ketika nanti saya kembali beraktivitas dan merasai lagi keterlambatan tersebut. Yang pasti, saya cukup belajar banyak dari proses pembelajaran dari perjalanan selama seminggu ini. Dan pemikiran soal keterlambatan ini menjadi bahan pemikiran yang cukup baik untuk saya melakukan refleksi dan perbaikan diri.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s