Ngobrol Sama Bulan

Kali ini aku melewati pergantian tahun di negeri orang. Well, ini sebenarnya agak impulsif, baru akhirnya memutuskan untuk pergi dan beli tiket tanggal duapuluhan, beberapa hari sebelum Natal. Perginya pun sendirian. Bukan gak mau ajak-ajak sih, tapi emang sekalian mau coba solotravel. Meski di kota-kota tujuan sdh bikin janji dgn teman lokal – yang kebetulan mereka ga kemana-mana. Nah, tahun baruan di Bangkok bareng temen kemarin cukup seru. Selain karena baru pertama kali dan ketemu lagi sama temen yg asyik (setelah kemarin ke China, Mongolia, dan Rusia bareng), ada beberapa memori masa lalu yang tiba-tiba muncul. Salah satunya kebiasaan ngajakin ngobrol bulan saat salam. Hahaha wong edan.

Waktu dulu sering kemah, jelajah, dan aktivitas outdoor di malam hari; melihat terangnya bulan jadi satu keasyikan tersendiri. Yang sering aku perdebatkan (walau ga penting) dengan teman-teman adalah: apakah mereka melihat seekor kelinci di dalam bulan purnama. Aku memang melihat bentuk kelinci, tapi banyak teman bilang tidak melihatnya.

Jaman SMA sih ngobrol sama bulan dalam pikiran doank. Aku sering bertanya beberapa hal, sambil berbaring di tanah lapang atau sekitaran tenda, atau pernah sambil main basket jam 2 malam. Nah beberapa tahun silam, aku sering ngetweet untuk ngajak ngobrol bulan. Kicau obrolanku dengan bulan sering dianggap beberapa followers sbg rayuan terhadap seseorang. Padahal, kadang-kadang sih enggak. Aku sering bertanya dengan tulus kepada bulan: tentang apakah ia merasa sendiri, pernahkah ia mengeluh karena ‘sekedar’ memantulkan sinar matahari, apakah ia sempat meminta Tuhan untuk punya sinar sendiri, ataukah ia juga sesekali meminta bumi bertukar peran untuk mengelilinginya. Kemudian aku mulai bertanya kenapa ia hanya diam dan tak memberikan jawaban.

Dan bulan di malam tahun baru yang aku tengok dari negeri orang ternyata tetap malu-malu. Mungkin ia agak kesal karena sudah lama aku tak menyapanya dengan ketulusan. Atau memang dia sejauh ini menjaga sikapnya untuk tetap sama dengan yang dulu aku perhatikan. Entahlah. Tapi andai ia bisa berikan jawab, apa yang mungkin sampai ke telingaku?

images
Ngobrol sama bulan (pict: madhousefamilyreviews.blogspot.com)

Bulan memang menarik. Banyak orang menggambarkan kecantikan pasangannya seperti rembulan. Meski bulan yang benar-benar tampak utuh hanya beberapa hari dalam sejangka masa. Buatku, bukan kecantikannya yang mendorongku untuk memandang dan terus mengajak bicara; tapi betapa ia bersetia dengan orang-orang yang ingin menikmati ketenangan malam. Tentu kadang ia berani menampakkan dirinya, tapi juga kadang ia memilih untuk menemani tanpa terlihat. Sayangnya, banyak orang menuntut perhatian bulan dalam bentuk yang tampak – sedangkan perhatian itu sendiri sering lebih ingin ditelurkan lewat doa-doa; yang juga mungkin dilakukan oleh bulan.

Aku belum mendengar apa harapan bulan untuk tahun yang baru ini. Harapanku untuknya sudah aku sampaikan. Bahwa aku ingin lebih mengenal bulan dan bahkan dibawanya memahami bagaimana ia melihat semesta. Serta mungkin saja ia ternyata selama ini tidak sendiri; tapi punya sanak, teman dekat, sahabat, atau mungkin juga anak-anaknya. Siapa tahu, selain bisa mengenal bulan lebih dekat, aku juga bisa banyak membangun diri dari interaksi dengan anak-anak Sang Bulan. Well, namanya juga berharap πŸ™‚

Selamat tahun baru, bulan.
Semoga aku segera dimampukan untuk mendengar jawaban-jawaban darimu.
Semoga semesta menghendaki interaksi kita.
@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s