Dalam Perjalanan Karir: Jujur Sama Diri Sendiri

Sabtu siang ini kembai ke daerah Tebet. Sebuah lokasi yang dulu sering saya kunjungi untuk membaca buku, mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar mencari dan mengeksplorasi informasi di dunia maya. Saya meneruskan membaca sebuah buku lama terbitan tahun 2005, berjudul Winning, tulisan Jack Welch (ex-CEO GE) yang dipinjami salah satu leader saya (yang semestinya harus saya kembalikan sejak lama, maaf ya Pak :D). Saya membacanya secara acak, berdasarkan beberapa judul sub-bab yang saya pilih saja. Menariknya, secara tak sengaja, bab-bab ini menjadi saling terkait (meski tak berurutan) dan menjadi sangat relevan dengan nasihat-nasihat yang saya tangkap di hari-hari belakangan.

winning-jack-welch

pict: usatoday30.usatoday.com

Saya akan buka rangkaian paragraf ini dengan cuplikan tulisan Jack yang ia masukkan dalam bab ’Candor – the Biggest Dirty Little Secret in Business’. Menurutnya, banyak orang (dan bisnis/organisasi yang dijalankan) akhirnya tidak berkembang karena lack of candor. Ia membahas lack of candor sebagai:

Now, when I say ‘lack of candor’ here, I am not talking about malevolent dishonesty. I am talking about how too many people – too often – instinctively don’t express themselves with frankness. They don’t communicate straighforwardly or put forth ideas looking to stimulate real debate. They just don’t open up. Instead they withhold comments or criticism. They keep their mouths shut in order to make people feel better or to avoid conflict, and they sugarcoat bad news in order to maintain appearances. They keep things, hoarding information. That’s all lack of candor; and it’s absolutely damaging.

Yang saya tangkap secara sederhana (tentu karena kapasitas otak saya juga sederhana :D), Jack percaya bahwa bersikap jujur / mengatakan yang sebenarnya, akan sangat membantu orang/organisasi/bisnis untuk mampu melakukan pembenahan berkelanjutan. Namun, memang banyak orang takut memberi atau enggan menerima feedback; atau lebih suka feedback yang menentramkan. Padahal, tujuan feedback semestinya adalah untuk proses pembelajaran dan pembenahan baik individu maupun organisasi.

Saya tidak akan membahas mengenai kejujuran dalam kaitan dengan (performance) feedback seperti yang Jack bahas. Saya lebih ingin membahas konteks candor ini dengan proses membangun karir yang dilakukan individu. Saya menarik konteks candor ini ke isu membangun karir, karena memang beberapa waktu terakhir saya sedang cukup instensif meminta dan mendengar nasihat dari banyak leaders mengenai hal ini.

Beberapa orang memang bilang, saya berada pada usia yang istilah mainstream-nya menyebut ‘quarter life crisis’ yang sering ‘questioning life-goals’; tapi beberapa leaders lain juga menyebut bahwa ‘quarter life crisis’ itu cuma ‘b*llsh*t’ karena crisis akan banyak dialami dalam perjalanan hidup manusia. Anyway, beranjak dari itu (malah curhat banget :D), saya menarik benang merah dari semua nasihat dan masukan dari leaders yang saya terima di bawah ini:

Awal mulanya, saya meminta waktu untuk kenalan, ngobrol, dan mentoring dari seorang HR Head dari sebuah perusahaan multinasional. Kita bertemu di bilangan Jakarta Selatan. Pertanyaan saya seputar pandangan-pandangan beliau mengenai bagaimana generasi saat ini dalam dunia industri; yang akhirnya berlanjut pada banyak obrolan pribadi. Mengakhiri sesi tersebut, yang saya tangkap juga dari berbalas pesan paska pertemuan, perkataan beliau cukup tertancap, ‘you have to be honest to yourself’.

Sore lainnya saya bertemu dan mendapat sesi mentoring dari seorang CEO perusahaan multinasional juga. Leader yang satu ini cukup unik; setelah lulus dia bekerja di sebuah perusahaan lokal, pernah punya usaha sambil dia kuliah S2, hingga kemudian direkrut dan melakukan perjalanan hidupnya di perusahaan tempat ia memimpin sekarang. Panjang lebar diskusi, saya pulang dengan salah satu pesan yang terngiang di kepala, ‘Find something that really shows who you are, be honest; decisions somehow need to be done and face the trade-off/consequences’.

Beberapa leaders lain juga saya temui. Hingga akhirnya, beberapa minggu lalu saya mendengarkan sesi dari seorang Menteri Koordinator yang menjabat saat ini. Saya diundang untuk menjadi salah seorang fasilitator untuk sebuah sesi program leadership yang diadakan oleh sebuah multinational business consulting firm. Sesi setelahnya adalah sesi dari MenKo ini, sehingga saya tinggal sebentar untuk mendengarkan beliau. Ia bercerita mengenai perjalanan karirnya sebelum menjadi MenKo. Terlepas dari lingkaran-lingkaran politik yang ia juga miliki, saya melihat bagaimana sosok MenKo ini memang berprestasi dan termasuk salah seorang ‘winner’ di areanya. Mengejutkan, di akhir sesinya, Ia juga memberikan pesan ‘Jujurlah dengan dirimu sendiri; mana yang kamu mampu – mana yang tidak, mana yang harus lebih giat belajar, mana yang memang bukan talenta kamu, tapi kamu perlu berusaha sampai batas maksimal.’

Sepulang dari sesi tersebut, saya baru sadar bahwa beberapa bulan terakhir, saya menjumpai cukup banyak orang berpengaruh yang memberikan nasihat yang sama: jujur sama dirimu sendiri.

candor 2

Jujur sama diri sendiri merupakan sebuah proses 🙂 (pict: http://www.yatzer.com)

Dalam perjalanan karir, akan ada beberapa pekerjaan yang bisa kita kerjakan. Saya setuju dengan tulisan om Rene dalam bukunya ‘your job is not your career’; sebuah karir bisa saja terdiri dari beberapa pekerjaan yang berbeda-beda. Nah, dalam rangkaian pekerjaan-pekerjaan inilah saya kemudian diingatkan untuk jujur.

Ada beberapa pekerjaan yang menarik dan asyik, tapi kita menyadari bahwa kompetensi kita mentok dan tidak mampu berkontribusi dengan baik. Ada juga beberapa pekerjaan yang mungkin kompetensinya ada dalam diri kita, tapi merasa tidak nyaman dengan visi perusahaan, sistem organisasi, atau mungkin kolega kerja. Ada beberapa kompetensi yang kita punya dan bisa berkontribusi, tapi perlu ditingkatkan. Ada keinginan atas sebuah pekerjaan, tapi seberapa kuat kita berlatih meningkatkan kompetensi, kita tetap tidak bisa sesuai. Ada pekerjaan yang kita sukai, tapi belum mampu memberikan penghidupan yang cukup untuk mendukung finansial keluarga. Ada pekerjaan yang nyaman secara finansial, tapi tidak sesuai dengan kepercayaan dan nilai kehidupan kita. Nah, Kita perlu jujur dan akhirnya memilih, untuk kebaikan diri sendiri, organisasi, atau mungkin keluarga.

Perlu diingat, meski kita sudah berusaha sejujur-jujurnya; semua ada trade-off nya, sangat sedikit sekali pekerjaan yang mungkin perfect dengan apa yang kita ingin dapatkan. Tapi paling tidak kita punya batasan-batasan atau nilai yang bisa kita atur untuk pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Salah satu contoh batasan atau nilai yang juga menjadi batasan atau nilai saya, saya ambil dari buku Jack ini, dalam sub-bab: ‘The Right Job – Find It and You’ll Never Really Work Again’:

Any new job should feel like a stretch, not a layup. Why? Because stretching, growing, learning – all these activities, keep you engaged and energized. They have the effect of making work more interesting, and they keep your head in the game.

Saya sedang dalam masa berusaha untuk belajar jujur dengan diri sendiri. Meski beberapa hari lalu saya baca sebuah artikel (tapi saya lupa darimana :D) yang mengutip bahwa: selalu jujur bisa saja membuat dirimu jadi ga happy (yang konteksnya beda, tapi mungkin ada benarnya juga – tidak akan saya bahas di sini).

Candor

Jujur sama diri sendiri kadang menyakitkan, tapi perlu untuk berbenah 🙂 (pict: lifeonbright.wordpress.com)

Perjalanan karir saya masih panjang, mungkin saja ada beberapa pekerjaan yang akan saya lakukan dan belum terpikirkan sebelumnya. Selama proses tersebut, saya akan jujur mengenai kompetensi saya, prioritas dan ekspektasi saya, dan juga bagaimana saya melihat kondisi di sekeliling saya. Saya juga dengan rendah hati akan meminta komponen/orang yang ada di sekeliling saya juga untuk jujur/candor mengenai saya dan saling membantu untuk bertumbuh.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s