Bekerja untuk (si)Apa?

Wow! Jadi sejak tahun 2016 baru kali ini nulis blog lagi 😀

Kalau kata Nyai Ontosoroh dan Minke di sebuah percakapan dalam salah satu tetralogi karya Pram: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Jadi saya kemarin sempat cuti beberapa bulan dari pekerjaan untuk keabadian ini #halah.

Anyway, tiba-tiba ingin nulis malam ini karena tadi waktu ibadah Paskah, ada petugas mimbar yang berdoa kira-kira begini: … supaya berkatMu menjadi nyata juga melalui pekerjaan kami. Saat di perjalanan pulang langsung kepikiran ‘Apakah memang selama ini apa yang saya kerjakan sudah menjadi berkat buat perusahaan dan orang-orang disekeliling, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat banyak?’ – Jadi galau. Kemudian tanya lagi dalam pikiran, ‘Sebenarnya kerja buat (si)apa?’. – Makin galau.

Setiap kita tentu punya alasan sendiri dalam melakukan pekerjaan yang kita miliki saat ini. Beberapa orang ada yang merasa punya ‘panggilan’ di area tersebut, beberapa karena ‘kondisi’ yang membuat pilihan makin tipis, beberapa lain mungkin karena ‘harus’ mengerjakan pekerjaan itu. Dalam semuanya itu, orang memiliki dan mencoba membangun makna dari pekerjaannya masing-masing, bagaimanapun bunyi kalimatnya. Bukan ingin membahas makna bekerja secara umum, tapi saat tadi perjalanan pulang saya teringat sebuah percakapan:

Beberapa waktu lalu, seorang Recruiter perusahaan multinasional menghubungi dan mengajak ‘ngobrol’ melalui telepon tersebut. Suara laki-laki yang nampaknya berumur beberapa tahun lebih banyak dari saya memang mengatakan sedang mencari kandidat untuk mengisi beberapa posisi, salah satunya HR. Betul, sejak awal saya bekerja, saya memang berkecimpung di HR. Baru akhir 2015 lalu saya beralihbagian kerja di area Brand Management dan Community Development. Dalam perbincangan tersebut, ada 1 pertanyaan menarik yang menggelitik saya – yang juga ditanyakan kebanyakan orang.

“Mas Yosea” – begitu Kak Recruiter menyapa saya. “Kalau boleh tahu, Mas Yosea ini career goalnya seperti apa ya? Kok kemarin di HR sekarang malah di Maketing (Brand). Kalau saya, contohnya Mas, pengen jadi professional HR dan recruiter, makanya mulai sekarang saya ambil recruiter dan sekitar HR terus.” kira-kira seperti itu pertanyaannya.

5DM36431

Bukan gambar saya yg penting: tapi tulisan di belakangnya 😀 – Try also to love things you never know before.

Jawaban saya sederhana tapi agak njlimet. Sederhana dalam pandangan saya, tapi mungkin tidak semua orang bisa menerima, jadi perlu mencari bahasa yang nyaman ditangkap orang lain. “Saya mungkin tidak seperti kebanyakan orang yang Mas kenal” kalimat tersebut terlontar untuk memulai penjelasan saya. Memang betul, saya pikir tidak semua orang mau berpindah area pekerjaan karena khawatir akan beberapa hal. “Saya punya tujuan, saya punya minat pada area tertentu (yakni di seputar people & community/organization development), tapi rasa-rasanya yang membuat saya agak berbeda dengan rekan lain adalah saya enggan untuk set dalam x tahun mendatang saya akan bekerja di perusahaan x dan posisi x mengerjakan hal x”. saya lanjutkan ‘pembelaan’ ini.

“Yang saya pegang adalah values dan core principals (beliefs). Mengenai means of implementation dari semuanya itu saya tidak set secara detil. Jadi, apapun yang saya kerjakan, sejauh tidak bertentangan dengan values atau beliefs saya, saya akan belajar banyak dan menikmati pekerjaan saya.” kusampaikan kepada Mas Recruiter mengenai pemikiranku ini. Nah, cerita tentang telepon itu sampai sini saja 😀

Setelah percakapan itu, memang beberapa kali saya berpikir dan menelaah mengapa pertanyaan itu bisa muncul (meski memang akhirnya memaklumi). Paling tidak 3 hal ini yang menjadi pertimbangan saya, bahwa untuk saat-saat ini saya bersedia belajar dalam berbagai area pekerjaan yang masih dalam koridor core values yang saya percayai:

1. Di usia saya, saya merasa perlu belajar banyak hal untuk memahami lebih banyak hal. Tentu tidak semua hal saya bisa pahami. Namun menghadapi dunia yang makin kompleks dan cepat berubah ini, mengetahui dan dapat mengerjakan banyak hal akan sangat membantu saya untuk dapat membantu orang lain. Jadi saya saat ini bekerja sekaligus belajar. Bekerja bukan saja untuk masa ini, tapi untuk masa yang akan datang juga.

2. Banyak nasihat dari mentor yang saya terima, bahwa mungkin saja beberapa pekerjaan yang saat ini ada akan tidak relevan di masa yang akan datang. Demikian juga akan banyak pekerjaan baru yang nantinya ada, tapi sekarang belum tampak. Melihat beberapa area pekerjaan di kala saya masih punya waktu seperti saat ini, tentu akan membantu saya lebih peka terhadap pergeseran-pergeseran area kerja seiring perkembangan jaman. Bukan saja untuk diri saya sendiri, tapi sesuai minat saya dalam people dan community/organization development; apa yang saya amati, alami, dan pelajari bisa saja membantu lebih banyak orang untuk mentransformasi diri untuk terus survive dan berkembang.

3. Saya sadar, tidak semua orang seusia saya punya kesempatan seperti saya. Mungkin hanya beberapa saja yang ‘ditantang’ untuk bereksplorasi di area pekerjaan lain. Hal ini mungkin dianggap beresiko untuk organisasi/perusahaan. Karena kesempatan yang langka ini, maka saya tidak ingin menyia-nyiakan. Belajar di beberapa area pekerjaan lain setahun dua tahun saya rasa tidak akan serta merta merusak tujuan akhir kita. Kalau Om Rene nulis di bukunya, ‘Your Job is not Your Career’. Pekerjaan kita saat ini (atau saat tertentu) tidak (serta merta) menunjukkan bagaimana karir kita ke depan.

Saya mengambil keputusan untuk belajar di area-area pekerjaan lain juga memerlukan untuk mendengar nasihat dari para mentor saya. Sebagai orang awam dan baru bekerja, tentu banyak kekhawatiran, terlebih saya punya semacam tanggungan untuk keluarga saya di kampung halaman. Jangan sampai keputusan saya justru membuat saya ‘tidak bernilai’. Namun sejauh ini, saya menikmati pembelajaran yang ‘mahal’ ini. Banyak hal yang sebelumnya saya tidak begitu paham, saya mulai mengerti dan bisa mengikuti. Siapa tahu, di masa yang akan datang saya mendapat beberapa kepercayaan yang juga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang saya pelajari sekarang; atau gabungan dari apa-apa yang pernah saya jalani.

Ada banyak jalan yang bisa kita pilih untuk bekerja, berkarya, dan berkarir. Tapi dalam semua prosesnya, belajar juga menjadi hal yang esensi. Saya bekerja bukan sekedar untuk kemajuan perusahaan saya, tapi juga untuk kemajuan pribadi saya. Saya bekerja bukan sekedar untuk masa ini, tapi juga untuk masa yang akan datang. Dalam kesibukanmu bekerja, pastikan juga dirimu belajar. Apalagi kamu yang merasa masih muda 🙂

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s