Sebuah Nasihat: Do Mistakes and Learn From It!

Dalam tahun-tahun pertama masa kerja saya, beberapa kali saya meminta nasihat kepada orang-orang yang saya anggap berpengaruh dalam hidup saya. Pertanyaan yang saya ajukan relatif sama, ‘apa yang perlu saya lakukan di tahun-tahun pertama saya bekerja?’

Ada banyak jawaban yang menarik dan menginspirasi; satu di antaranya yang mungkin juga dapat dijadikan sebuah kesimpulan dan pembelajaran adalah ‘Do mistakes and Learn from it’. Terima kasih untuk para mentor keren saya yang telah menginspirasi hal ini.

Sir Ken Robinson, dalam sebuah speech yang cukup populer dari TED, menyampaikan sebuah rangkaian kata yang cukup menarik. Ia katakan bahwa, ‘apabila orang tidak melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, ia tidak akan pernah menemukan keaslian dirinya (authenticity)’. Saya sepakat dengan hal ini.

Nah, ada beberapa kondisi menarik yang saya kumpulkan dari rekan-rekan saya mengenai melakukan kesalahan dalam konteks dunia kerja. Beberapa di antaranya:

1. Beberapa orang tak punya kesempatan untuk berbuat kesalahan, apalagi belajar darinya.

Ada beberapa rekan yang bekerja dalam sebuah sistem perusahaan yang membuat dirinya tidak boleh melakukan kesalahan. Beberapa perusahaan memang cukup kaku sistemnya; beberapa yang lain sangat fokus terhadap target sehingga tak bisa mengeksplorasi potensi-potensi pembelajaran yang ia miliki, beberapa yang lain beranggapan bahwa kesalahan merupakan kerugian. Orang-orang yang berada dalam lingkaran ini akan selalu berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan benar, yang cenderung akhirnya mengulangi praktik-praktik sukses yang telah dilakukan (repetitive/rutin).

2. Beberapa leaders/pimpinan menganggap kesalahan merupakan sebuah kegagalan.

Menganggap sebuah kesalahan merupakan kegagalan mungkin dilakukan banyak sekali orang. Bagaimana pun juga, dalam dunia kerja, peran leaders dalam proses pembelajaran karyawannya sangat penting. Leaders yang menganggap karyawannya gagal karena melakukan kesalahan akan mungkin membuat karyawannya tidak percaya diri atau takut dalam menyampaikan ide/gagasan lain yang dapat membawa kebaikan pada perusahaan. Ini bukan hal yang salah, mungkin leaders berpikir untuk menjaga efisiensi waktu dan sumber daya. Tetapi setiap karyawan butuh belajar dari kesalahannya 🙂

3. Beberapa orang menganggap kesalahan merupakan portoflio yang buruk.

Banyak di antara kita takut melakukan kesalahan dan berusaha berjalan di jalur aman untuk tetap membuat rekam jejak kita dianggap baik. Ini juga bukan merupakan hal yang salah. Pilihan ada di setiap kita. Namun, menganggap kesalahan sebagai portfolio yang buruk mungkin perlu sedikit digeser. Kita perlu pastikan bahwa kesalahan yang kita lakukan membawa pembelajaran berharga yang dapat membangun hidup kita.

Saya yakin di antara kita tidak ada yang ingin dengan sengaja melakukan kesalahan, salah satunya mungkin karena beberapa kondisi di atas. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa kesalahan merupakan sebuah hal yang kontekstual. Maksudnya adalah, sesuatu yang dianggap sebagian orang benar, bisa saja dianggap sebagian orang lainnya salah. Demikian juga sebaliknya.

Sebuah Kesalahan? Pict: www.fastcompany.com

Sebuah Kesalahan?
Pict: http://www.fastcompany.com

Konteks-konteks inilah yang perlu kita pahami supaya kita dapat belajar lebih banyak dari setiap hal yang kita lakukan. Baik benar atau salah, berdasarkan konteks apapun, kita perlu belajar dari setiap proses yang ada.

Saya pribadi bersyukur berada dalam lingkungan dan sistem kerja yang menganggap setiap karyawan adalah pembelajar. Melakukan kesalahan dalam proses bekerja mungkin adalah sebuah keniscayaan sebagai manusia (dan karyawan baru); namun mengambil pelajaran berharga darinya adalah sebuah pilihan.

Jika pernah mendapat nasihat, pengalaman adalah guru yang berharga, bagi saya belum tentu. Yang menjadi guru yang berharga adalah kemauan kita untuk lakukan refleksi dan belajar dari setiap pengalaman yang telah kita lalui. Jadi, lakukan kesalahan dan milikilah kemauan untuk belajar darinya.

Seiring berjalannya waktu, kita akan terus melakukan kesalahan dalam konteks-konteks yang berbeda dan bergantian; kita juga perlu untuk terus belajar dari setiap rangkaian perjalanan tersebut. Bila kita berkesempatan menjadi leader (secara jabatan) mainkan juga paradigma dalam melihat kesalahan tim kita; buatlah itu menjadi sebuah kesempatan belajar bersama untuk terus membawa kebaikan.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s