The Dangerous Mind: Seni Menguasai Pikiran

Sudah beberapa hari terakhir saya memikirkan dan ingin menuliskan hal ini, tapi selalu tertunda. Baru pagi ini akhirnya saya mulai menulis karena melihat cuitan dari The Minnions (@OfficialMinion) “Don’t live your life based on what other people think”. Perkataan tersebut memang sangat menarik, tetapi ada sisi lain dari kalimat tersebut yang menjadi pemikiran saya hari-hari ini; tentang berpikir.

@OfficialMinion
@OfficialMinion

Mungkin hal ini berawal ketika Ibu saya membersihkan bagian atas lemarinya dan sebuah buku berwarna orange terjatuh. Buku tua berjudul ‘You Can If You Think You Can’ karya Norman Vincent Peale itu menarik perhatian saya. Ibu saya memberi tahu bahwa ia dipinjami buku ini oleh seorang rekan gereja. Saya pun minta ijin untuk membacanya juga. Setiap pulang sekolah saya membaca buku tersebut. Saya mulai belajar kekuatan pikiran positif dan mulai mengaplikasikannya; hingga saya percaya bahwa saya bisa berkuliah; dan akhirnya saya dapat beasiswa dan bisa berkuliah. Kalau anda menerima email dari saya, pasti akan ada kalimat ‘You Can If You Think You Can’ dalam signature email di bagian bawah.

Semenjak hijrah ke Jakarta untuk kuliah, saya merasa lebih diajari oleh semesta bahwa memaksimalkan kemampuan berpikir akan membuat saya lebih memahami kehidupan. Beberapa kejadian yang tampak tak sengaja membawa saya untuk terus menyadari bahwa saya harus mengembangkan kemampuan berpikir saya.

Salah satunya, saat saya berada di perpustakaan kampus di awal masa kuliah, ada seorang profesor dari Australia yang menjadi salah satu dosen pengampu, mendatangi dan menunjukkan buku pada saya berjudul ‘Thinking to Thinking’. Sambil menunjukkan buku tersebut, beliau sampaikan pada saya bahwa saya perlu untuk terus melatih kemampuan berpikir dan terus berpikir, karena pikiran merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Namun, saat itu memang saya tidak begitu paham apa maksud dari profesor tersebut.

Perjalanan saya sebagai pembelajar yang jauh dari keluarga dan belum memiliki banyak teman saat itu, membuat saya sering merasa sendiri. Namun justru kesendirian saya saat itu menjadi sebuah titik lompatan dimana saya bisa mulai berkomunikasi dengan diri saya sendiri secara total dan mengenali pikiran. Saya menjadi lebih dapat menikmati hidup saya semenjak itu. Terdengar simple, tapi percayalah, ini tak sesimple kedengarannya. Saya perlu usaha keras untuk bermain dengan pikiran saya yang kadang-kadang justru membuat saya merasa kurang waras. Tetapi sangat menyenangkan 😀

Berbagai pengetahuan tentang berpikir dan menanggapi pemikiran orang lain saya dapatkan selama berkuliah. Istilah dan aktivitas semacam open minded, think aloud, critical thinking, thinking hats, dan banyak hal lainnya saya dapatkan dalam jurusan ilmu pendidikan yang saya ambil. Ini membawa saya percaya pada, paling tidak 2 hal mendasar ini:

  1. Saya percaya bahwa pikiran adalah sebuah aset kehidupan. Orang mungkin bisa saja pernah tak punya tangan, kaki, harta kecukupan, atau tempat tinggalnya belum layak. Namun saat ia mampu menjaga pikiran dan mengembangkannya, ia akan mampu mengelola dirinya. Contoh favorit saya adalah Nick Vuijic yang tak punya tangan dan kaki, namun hidupnya dapat menjadi berkat bagi banyak orang karena ia mampu menjaga pikirannya dan mengembangkannya.
  2. Kita seharusnya menguasai pikiran kita, bukan pikiran kita yang menguasai kita. Pikiran kita sangat mudah teralihkan. Terutama dengan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan; yang sebagian besar termasuk dalam koridor knowledge (pengetahuan). Menurut saya, ada bagian dari hidup kita yang mampu bersinergi untuk menguasai pikiran kita; yakni conciousness (kesadaran), understanding (pengertian), dan wisdom (hikmat). Perjalanan seorang muda semestinya mengejar juga 3 hal tersebut, bukan sekedar knowledge.

Namun demikian, saya masih sering merasa sebagai ‘loser’ atas pikiran saya sendiri. Kembali ke cuitan The Minnions tadi, “Don’t live your life based on what other people think”. Kita mungkin saja berusaha untuk tidak mengambil pusing pikiran atau perkataan orang lain saat menjalani hidup kita; dan menggunakan pemikiran sendiri. Saya merasa ini bukan hal yang mudah, apalagi dengan memori masa lalu dan lingkungan yang kadang membuat kita takut malu untuk berkembang. Sehingga, kita perlu terus belajar membangun diri bukan saja dari sisi berpikir tentang knowledge, namun juga conciousness, understanding, dan wisdom.

The Little Thinker (www.pinterest.com)
The Little Thinker (www.pinterest.com)

Sejauh ini, saya merasa bahwa ada baiknya mendengar apa yang orang lain pikiran dan katakan tentang diri kita langsung dari orangnya. Namun apabila itu tidak membangun, cukup jadikan itu sebagai bahan pembenahan diri. Ada baiknya pula menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang diri kita kepada orang lain; supaya kita juga punya konteks realita atas hidup kita sendiri. Mengenai ini, saya akan menuliskan pandangan saya soal realita dalam tulisan lainnya.

Jika pernah mendengar ‘lingkunganmu akan membentuk siapa dirimu’, saya menyepakatinya. Demikian juga cara berpikir orang-orang di sekitarmu akan mempengaruhi cara berpikirmu.

Dalam pergumulan saya tentang berpikir ini, saya mengambil 3 simpulan mengenai apa yang perlu kita terus lakukan untuk menguasai dan mengembangkan pikiran kita:

  1. Think – ya, terus berpikir dan sinergikan dengan conciousness, understanding, dan wisdom.
  2. Re-Think – pikir ulang hal-hal yang perlu kita pikirkan ulang
  3. Un-Think – tak perlu pikirkan hal-hal yang tak perlu kita pikirkan.

 

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s