Membebaskan Keterbatasan

3 Desember yang lalu diperingati sebagai International Day of People with Disabilities. Teringat beberapa tahun silam, saya pernah sempat mengasah pikiran dan perasaan untuk belajar lebih banyak mengenai isu disabilitas di Indonesia. Hal ini menjadi sebuah cambukan manis yang terus mendidik saya untuk menjadi pribadi yang bersyukur dan memanfaatkan kesempatan yang saya miliki saat ini. Banyak di antara kita yang melihat rekan-rekan penyandang disabilitas sebagai orang-orang yang memiliki keterbatassan. Cara pandang kebanyakan dari kita justru melihat keterbatasan ini menjadi sebuah hal iba yang menyusulkan keinginan untuk membantu mereka. Saya rasa kita perlu menguji kembali cara pandang keterbatasan tersebut πŸ™‚

pict: www.idpwd.com.au
pict: http://www.idpwd.com.au

Entah kebetulan atau bagaimana, pada tanggal 3 Januari malam saya membuka laptop dan mencari list film inspiratif yang direkomendasikan untuk ditonton. Film yang akhirnya saya pilih saat itu berjudul Forrest Gump. Film berdurasi 2 jam lebih itu menceritakan tentang keunikan hidup Forrest Gump sebagai anak yang IQ-nya di bawah standart dan butuh plat besi untuk memperkuat kakinya, namun Ibunya selalu percaya bahwa dia sama dengan yang lainnya. Ibunya pun menyekolahkan dia di sekolah publik bersama dengan anak-anak lain seusianya. Forrest Gump bertumbuh jadi pribadi yang unik dan menorehkan banyak prestasi bersejarah. Anda bisa mencari videonya untuk mendapatkan inspirasi secara pribadi dari film tersebut.

Saat saya menonton film tersebut, satu pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah Forrest melihat dirinya dalam kondisi keterbatasan? Atau kah karena IQ-nya tidak setinggi teman-temannya, ia melihat dirinya berbeda dari orang lain melihat diri mereka masing-masing, atau sama saja? Saya menemukan jawabannya di hampir akhir film, saat Forrest mengatakan kepada seorang perempuan yang ia kagumi, bahwa ia tahu dirinya tidak pintar, tapi tahu bagaimana mencintai. Ini menjadi poin penting bagi saya dalam proses mencerna film tersebut; saya diingatkan bahwa kita boleh saja terbatas, tapi cinta dan kasih selayaknya tidak terbatasi. Mereka yang melakukan perbuatan mulia di atas landasan kasih, akan menuai banyak hal yang mungkin tak dapat diuangkan.

Menyambung hal tersebut, saya teringat Kang @Motulz pernah mengisi kelas Leadership bertopik kreativitas di kantor saya beberapa waktu lalu. Beliau sampaikan banyak hal menarik yang saya terus ingat dan jadikan pegangan hingga sekarang. Salah satunya adalah bahwa kita harus terus aware kalau hidup kita terbagi menjadi 2 bagian, yakni area bebas dan area terbatas. Kita mungkin tidak bisa berkutik banyak dalam area terbatas yang kita dapat; semisal kaitannya dengan International Day of People with Dissabilites ini adalah keterbatasan kondisi fisik; tapi kita masih punya area bebas yang bisa kita eksplorasi lebih dalam. Sayangnya, kita sering terpaku hanya pada yang terbatas; dan tak melihat area bebas yang bisa kita kendalikan dengan lebih bermanfaat.

Belakangan hari saya kembali mencoba menggali diri lebih dalam untuk mencoba melihat area terbatas dan bebas yang saya miliki. Tanggal 3 Desember merupakan hari dimulainya tahun kedua saya di perusahaan di mana saya bekerja. Peralihan dari dunia kampus dan komunitas (NGO) ke dunia korporasi (bisnis) tentu mengubah pola pikir dan area-area hidup saya yang terbatas maupun yang bebas. Memang bukan hal yang mudah, tapi peringatan International Day of People with Dissabilities ini memberikan semangat tersendiri bagi saya untuk terus belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang berkualitas.

Ada banyak teman saya yang memiliki keterbatasan lebih besar, namun mereka melihat itu sebagai keunikan dan potensi. Ada banyak mereka yang punya kepekatan keterbatasan yang lebih rumit, namun mereka melihat itu sebagai anugerah dan terus berjuang. Mereka merupakan sosok inspiratif yang terus memberkati saya untuk melihat kembali hal-hal yang selama ini tampak sebagai keterbatasan dalam diri saya. Mungkin saya perlu waktu lebih banyak dan hati serta pikiran yang lebih jernih untuk mampu membebaskan keterbatasan-keterbatasan itu.

Kadang pikiran kitalah justru yang membatasi area bebas yang luas itu. Maka perlulah kita menguasai diri, terutama pikiran dan hati. Perlu pula kita terus belajar untuk menjadi seorang anak kecil yang bereksplorasi dan bertumbuh tanpa rasa takut dan khawatir akan keterbatasan yang sebenarnya mereka miliki.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s