Kata Mahasiswa: “Kami Ingin Work-life Balance” – Nyatanya?

Beberapa minggu yang lalu saya membaca sebuah artikel sebuah dari majalah bisnis mengenai hasil survei sebuah institusi survei swasta mengenai list perusahaan di Indonesia yang diminati oleh generasi Y. Bukan nama-nama perusahaan yang disebutkan di sana yang menarik perhatian saya, tetapi alasan di balik nama-nama tersebut. Beberapa di antara alasan yang disebutkan itu adalah work-life balance, economy/financial security, dan international exposure. Dalam rangkaian paragraf ini, saya ingin mendiskusikan tentang work-life balance. Kalau kamu juga concern dengan work-life balance, sila berikan pemikiranmu juga ya di kolom komentar J

Saya memang belum lama memulai perjalanan dalam dunia kerja. Awalnya saya sama dengan mahasiswa kebanyakan yang berpikir bahwa keseimbangan dunia kerja dan kehidupan (work-life balance) adalah sesuatu yang ideal dan patut diperjuangkan. Saat mulai bekerja hingga saat ini, saya menjumpai bahwa kepercayaan mengenai bentuk ideal untuk work-life balance / keseimbangan hidup dan dunia kerja tersebut perlu dipahami ulang. Di bawah ini beberapa pemikiran sederhana terkait work-life balance:

 

  1. Sebenarnya tidak ada Work-Life Balance; kita harus pilih – atau integrasikan.

Saya mulai menyadari bahwa hidup dan bekerja tidak bisa diseimbangkan begitu saja saat kita bekerja dalam sebuah sistem / perusahaan yang kita tidak dapat atur (karena kita bukan owner). Mungkin akan lebih mudah saat kita menjadi seorang pengusaha / entrepreneur yang memiliki sumber pendapatan yang stabil, sehingga kita bisa dengan leluasa atur sistemnya. Namun, menuju pada kestabilan tersebut, tentu  membutuhkan proses yang mana work-life balance tidak dapat diwujudkan dengan begitu mudahnya.

Kita harus memilih antara bekerja dan menikmati kehidupan sesuai prioritas dan situasi. Dalam cara pandang lain, kita perlu mendefinisi ulang keseimbangan yang ingin kita cari. Sehingga, kita mampu untuk membuat sebuah rencana kehidupan sesuai dengan definisi keseimbangan yang kita cari tersebut.

Cara lainnya adalah dengan mengintegrasikan kerja dan kehidupan. Artinya, jam hidup kamu adalah jam kerja kamu. Kamu tidak akan mendifinisikan jam kerja sebagai jam 8 pagi hingga 5 sore tiap Senin sampai Jumat. Ini akan sangat menyenangkan. Namun, kamu perlu memiliki pekerjaan yang kamu sangat nikmati.

Work-Life Balance? (pict:www.salary.com)
  1. Bekerja dalam suasana yang Menyenangkan

Bekerja dalam suasana yang menyenangkan atau dalam istilah #FunWork akan membantu kamu mengiris idealisme kamu mengenai work-life balance. Dalam point nomor 1, work-life balance sebenarnya tidak ada; sehingga kita perlu benar memilih tempat kita bekerja untuk mendapatkan suasana yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan dalam bekerja terkait sangat kuat dengan budaya perusahaan. Budaya perusahaan akan menentukan tipe-tipe orang di dalamnya, serta gaya perusahaan itu dalam mengelola manusianya. Jadi, pilihlah perusahaan yang memiliki budaya perusahaan yang sesuai dengan personality kamu.

 

  1. Sesuaikan Passion dengan Realita

Belakangan tahun kata ‘passion’ menjadi pegangan anak-anak muda untuk mencari pekerjaan. Alhasil, banyak yang mengeluh memiliki beban dalam bekerja karena tidak sesuai dengan passion-nya. Padahal beban dalam pekerjaan merupakan hal yang lumrah. Bukan saya tidak percaya bahwa passion adalah hal penting yang perlu dikejar, tetapi memang sebaiknya kita tidak mengagung-agungkan hal itu.

Konteks passion yang saya tegaskan di sini adalah saat kita perlu memahami garis batas antara kehidupan dan penghidupan. Apabila passion kamu saat ini belum bisa memberikan penghidupan yang menjadi tanggung jawabmu, maka prioritaskan untuk menempa diri untuk bertahan dalam kehidupan.

Bagi saya, passion bukanlah bentuk atau aktivitas dalam kehidupan yang perlu dilakukan untuk membuat hidup kita berbahagia. Namun ia adalah alasan mengapa kita terus berjuang untuk kehidupan ini. Sehingga, terkait passion, saya jarang sekali memperbincangkan tentang ‘apa yang ingin kamu kerjakan’. Saya lebih tertarik untuk menggali akar dari hal-hal yang ingin dikerjakan; sehingga menemukan alasan dari semua itu. Kita dapat memainkan level kebahagiaan hidup kita dengan alasan-alasan kehidupan itu.

Kita sering tak mampu membuat diri kita nyaman saat bekerja, karena kita mungkin terlalu berkiblat pada passion dan tidak menyeimbangkannya dengan tanggung jawab untuk penghidupan kita.

Jika kamu masih terus berpikir bahwa work-life balance adalah sesuatu yang sangat ideal dan mungkin kamu miliki (dalam konteks ‘seimbang’ sebenarnya’), mungkin kamu akan habiskan waktu tanpa menikmatinya. Kamu akan terus menggerutu karena dalam dunia kerja kamu tidak akan menemukan hal ini, apalagi dalam awal masa kerjamu.

Integrasikan kehidupanmu dan pekerjaanmu, jadilah bahagia dengan alasan-alasan hidupmu dalam mengerjakan apa yang kamu kerjakan. Definisikan keseimbangan yang kamu percaya dengan mempertimbangkan kapasitas dan kesempatan yang ada. Kebahagian hidup kita dalam bekerja, kita sendiri yang atur.

@yosea_kurnianto

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. Vera says:

    Waaahhhh, kamu lebih pantas jd penulis, Kak Yos… I really enjoy reading this! Great writing, and I agree with the content as well…

    1. Kak Vera 😀 aku perlu ceritakan bagaimana strugglenya aku menulis skripsi hingga aku menemukan Malaikat penyelamat yang memberiku nilai A :)) Wakaka.. Kisah itu membuatku tahu, aku tak pandai menulis. Hihihi…

  2. I cannot say any word more than THANK YOU VERYMUCH… Great Writing KAKA YOSEA

  3. arninta says:

    huaa bagus banget tulisan ini, masukin di blog nutrifood ya? 🙂

  4. vaniahosen says:

    Baca tulisanmu ini jadi inget komentar Bu Yanti di sesi NLIGHT November lalu ketika beliau ditanyai soal arti work life balance. Work sejatinya adalah bagian dari Life, jadi apa yang mau di-balance kan? hahaha pandangan mengenai work life balance dari perspektif yang berbeda yaaah 😉
    Anyways, nice writing Yos!

    1. Ahaha, iya. I do believe it too. Cuma karena pemikiran kebanyakan orang bilang kalau 2 hal itu terpisah, maka aku ambil perspektif itu 🙂 Thanks sudah mampir ya Kak 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s