Pak Jokowi Menampar Saya ….

Saya merangkai kata dalam suasana refleksi. Memang blog ini saya khususkan untuk hasil refleksi dan interaksi batin saya terhadap kejadian-kejadian di sekitar saya; termasuk proses pemilihan presiden kali ini. Saya tidak akan membandingkan calon-calon presiden dengan data atau visi misi terkait lainnya. Saya berusaha menelusuri dengan kejernihan hati, seperti layaknya sang Bima akhirnya menemukan Dewa Ruci.

Buat anak muda yang menyeru-nyerukan perubahan, mungkin juga merasa tertampar seperti saya. Kecuali mereka yang menyerukan perubahan tapi tak tahu perubahan seperti apa yang sebenarnya mereka usung. Atau mereka yang menyerukan perubahan tapi sudah tidak relevan dengan pergerakan jaman. Tidakkah kamu tahu bahwa hari ini ada hal normal yang baru: perubahan yang berubah-ubah; “the new normal: even the change is changing”.

Imagepict: ramaninosraditya.deviantart.com

Pak Jokowi menampar saya dengan ketulusan hatinya mengerjakan hal-hal yang pemimpin lain anggap pekerjaan hina dan tidak bonafit. Ia seorang pemimpin besar, tetapi rela ‘menanggalkan jubah kebesarannya’ untuk datang ke kawasan-kawasan dimana pemimpin lain bahkan tak mau lewati. Ia menggunakan sebagian besar waktunya yang berharga itu untuk mendengarkan keluhan-keluhan yang terjadi di masyarakat. Apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan, diolahnya menjadi kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran dan bermanfaat. Ketulusan itu mengetuk jiwa saya, seraya bertanya ‘apa yang telah kau lakukan untuk Nusantara?’.

Pak Jokowi menampar saya dengan hikmat dan kebijaksanaannya dalam membangun dan mengelola sistem yang baik. Ia memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa keteraturan dan sinergi antar komponen. Ia percaya bahwa sumber daya yang ada sebenarnya mumpuni, tapi belum dapat berjalan selaras untuk menciptakan keindahan tata kehidupan. Apa yang ia kerjakan membuat saya bertanya pada diri saya, apakah saya sebagai komponen masyarakat telah menjadi bagian yang baik? Hikmat dan kebijaksanaan itu mengetuk jiwa saya, seraya bertanya ‘bagaimana engkau menempatkan diri dan bertindak sebagai komponen dari sistem masyarakat?’

Pak Jokowi menampar saya dengan keteguhan hatinya menempatkan orang-orang baik di sekitarnya. Ia tahu bagaimana dan siapa yang ia harus ajak dan pilih untuk membangun sistem yang baik dan melakukan perbuatan baik dengan ketulusan. Ia tidak toleran terhadap kemalasan dan ke-seenakhati-an dalam melayani masyarakat. Keteguhan hati ini mengetuk jiwa saya, seraya bertanya ‘apakah kamu memiliki totalitas yang sama dalam bekerja?’.

Pak Jokowi menampar saya dengan banyak hal-hal sederhana yang ia sampaikan. Ia menunjukkan bahwa kesederhanaan memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mendalami diri dan menyentuh hati. Bahkan kesederhanaan menjadi senjata ampuh dari sikap arogan, tamak, dan sikap korup. Kesederhanaan itu mengetuk jiwa saya, seraya bertanya ‘apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidupmu?’.

Pak Jokowi menampar saya dengan banyak hal yang ia telah kerjakan. Ia tak banyak bicara. Ia mengingatkan saya bahwa perubahan terjadi karena aksi nyata, bukan sekedar wacana. Saya mengunjungi waduk pluit, pasar tanah abang, taman-taman di Jakarta, kelurahan, pintu air dan sungai-sungai; saya melihat perubahan dengan mata kepala dan mata hati saya. Sikapnya yang mau turun mendengar dan bekerja benar-benar meluluhlantahkan hati saya dan mendorong saya untuk BISA MERASA bukan hanya MERASA BISA dengan memunculkan wacana dan rencana tanpa cerita nyata.

Sahabatku yang usianya masih muda. Tidakkah kau juga merasa tertampar jika engkau masih meneriakkan perubahan dengan pengertian lama-mu; perubahan yang sekedar rencana dan wacana? Ambillah waktumu sejenak dan berdialog-lah dengan dirimu sendiri. Adakah hatimu tidak tergetar jika pemimpinmu kelak merupakan seorang yang dapat diteladani, bahkan oleh anak cucumu? Adakah hatimu tidak tergetar jika pemimpinmu mampu menggerakkan orang-orang baik untuk menciptakan perubahan yang baik?

Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Jika kita tidak mampu mendengarkan hati nurani kita sendiri, bukan saja masa mudamu, bahkan masa tuamu dan anak-cucumu akan mengalami penyesalan. Saya menuliskan kalimat-kalimat ini dengan kesadaran untuk mendengarkan kejernihan hati saya. Saya percaya, jika hati nurani anda jernih, maka anda akan punya pemikiran yang sama dengan saya.

Note: Tulisan ini mungkin tidak cocok dibaca oleh anak muda yang belum/tidak mampu menguasai dirinya sendiri.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s