Mimpi Seorang Ayah: Yuk Ke Pantai, Nak!

Pada sebuah kesempatan, saya mengajak para pembelajar dewasa dalam kelas saya untuk menuangkan apa yang ada dalam pikirannya beberapa jam terakhir dalam sebuah gambar. Gambar tersebut akan menjadi bahan untuk melatih kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Hasil gambarnya sangat menarik, begitu pula cerita di balik setiap cerita tersebut. Berikut ini merupakan salah satu cerita inspiratif dari seorang engineer berusia 40-an yang ada di kelas yang saya fasilitasi.

Bapak ini tampaknya sudah lama bekerja di tempat di mana saya ditugaskan. Rambutnya yang sudah mulai beruban menunjukkan usianya bukan lagi belasan. Memang posisinya belum pula supervisor atau asisten manager semacamnya. Namun dari semangat belajar dan perkembangan hasil belajar selama di kelas saya, Bapak ini tergolong memiliki semangat yang besar dan cepat menangkap serta tanggap dalam setiap diskusi di kelas. Benak saya berbisik, mungkin lagi-lagi karena kesempatan yang kecil membuat Bapak ini belum bisa ‘naik ke atas’.

Pukul 2 siang itu saya mengajak setiap anggota kelas untuk menuangkan apa yang mereka pikirkan dalam beberapa jam sebelum mereka masuk ke dalam kelas. Saya sediakan masing-masing kertas gambar dan selengkap alat pewarna. Mereka pun mulai menggambar sambil saling menertawakan gambar rekan-rekannya. Saya pun berkeliling ruangan sambil memperhatikan setiap tangan yang menggoreskan pensil dan pewarna itu.

Akhirnya saya meminta setiap anggota belajar untuk menceritakan apa yang digambarnya. Ada yang menggambar uang karena ia ingin punya uang banyak; ada yang menggambar sawah karena dia teringat kampungnya; ada yang menggambar lapangan bola karena ia baru saja melihat pertandingan bola dan merasa gemas karena pemain yang ia tonton tak sehebat dirinya; dan lain sebagainya.

Tiba saat Bapak ini berdiri dan mulai menceritakan maksud gambarnya. Gambarnya sangat sederhana, berupa kapal kayu dengan 2 layar warna merah dan biru (gambar tidak bisa saya tampilkan karena confidential – red). Ia melihat saya dengan seksama, menyadari dirinya masih terbata-bata dalam berkomunikasi dalam bahasa Inggris. ‘Please Pak, now is your turn’ kata saya kepadanya. ‘Yes Pak Yosea, this is my picture…..

Saya memperhatikan matanya, ia berkaca-kaca sambil menceritakan apa yang baru saja ada di kepalanya. Singkatnya, bapak ini bercerita bahwa anaknya masih merengek-rengek mengajaknya bermain ke pantai. Buat kamu yang baca ini mungking berpikir, ‘halah, so simple!’ tapi saya yakin tidak untuk Bapak ini.

Image
Ilustrasi (sumber: oh-gitu.blogspot.com)

‘I want to bring Nabila to see the beach Pak, she is now 7 years old but hasn’t see the sea’ katanya. Ada rekan pembelajar menyeletuk, ‘ajak aje ke Ancol pak, ribet banget!’. Ups, saya yakin dia pasti punya alasan. Tentu saja, dia merespon temannya, ‘no, I want to bring Nabila to the best beach. Ancol is not good.’ lanjutnya. ‘Which beach do you want Nabila to see pak?’ tanya saya. ‘I want to bring Nabila to Bali Pak’ jawabnya padaku.

Sampai di sini, mungkin kamu yang membaca ini masih melihat ini simple banget. Tapi saya pribadi merenungkan hal ini bahkan sampai tulisan ini saya buat. Seorang ayah yang pernah berjanji pada anaknya untuk membawanya ke pantai, terus menerus berpikir bagaimana supaya anaknya mendapatkan yang terbaik.

Image
Ilustrasi (sumber: penamotivasi.wordpress.com)

Mungkin kamu beruntung punya ayah yang berada dan ‘sempat’ membawamu kemana ayahmu ingin janjikan. Tapi pernahkah kamu berpikir atau bahkan bertanya langsung pada ayahmu; adakah mimpinya yang belum terwujud sampai saat ini?

Dalam sebuah perenungan, sebuah jawaban atas pertanyaan tadi muncul dalam kepala saya: jangan-jangan salah satu mimpi ayahku yang belum terwujud adalah tentang diriku. Atau bahkan aku tak pernah tahu apa mimpi ayahku? Ini menjadi refleksi yang mendalam buat saya.

Hingga pertanyaan ini muncul dalam benak saya: apakah saya juga punya mimpi untuk ayah saya? Serta: Jika kelak nanti saya jadi ayah, apakah saya juga akan punya energy untuk menenun mimpi tentang anak saya dan berjuang seperti Bapak ini? 🙂

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s