Jangan Takut (Terlambat) Belajar!

Hampir dua bulan memfasilitasi pembelajaran orang dewasa, saya cukup banyak belajar dari mereka. Salah satu yang paling mengena di hati saya adalah semangat belajar mereka yang sangat tinggi. Semangat belajar ini muncul karena beberapa faktor yang tidak semua bisa saya ulas dalam tulisan ini. Faktor-faktor ini saya temukan dari hasil refleksi saya atas interaksi dengan ‘keluarga belajar’ yang saya fasilitasi saat ini.

Faktor yang pertama, menurut saya adalah PENYESALAN. Kalimat yang sering terdengar di dalam kelas adalah, ‘Ah, lu dulu sekolah ga bener sih, jadi ngomongnya ah uh ah uh doank bisanya’. Well, beberapa orang juga sampaikan pada saya secara personal, ‘Pak Yosea, saya ini dari dulu sekolah kalau pelajaran Bahasa Inggris selalu kabur. Sekarang rasanya itu pengen banget bisa lancar ngomongnya’. Waktu tidak bisa diulang, syukur buat kita yang tahu apa yang sebenarnya baik tapi terlewat, tapi akhirnya berusaha dapatkannya kembali.

Faktor yang kedua adalah KESEMPATAN. Banyak di antara anggota keluarga belajar saya memandang kehadiran saya di sana sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Menyadari bahwa program yang saya rancang tidak panjang, mereka selalu berusaha untuk datang lebih awal dari kelas dimulai dan banyak bertanya hal-hal yang terjadi dalam aktivitas mereka sehari-hari. Ini luar biasa.

Ada orang yang memandang sebuah proses pembelajaran justru sebagai beban. ‘Ah kerjaan udah banyak, masih disuruh datang kelas pula’ mungkin pikir beberapa orang yang terbeban dengan program belajar yang disediakan. Namun tidak dengan mereka. Ini tampak saat mereka mendapat tugas mendadak dari atasan (karena masalah tak terduga, dsb) sehingga mereka tidak dapat datang ke kelas, pertemuan berikutnya mereka meminta maaf kepada saya, Lho, siapa saya? Aneh ya. Tapi saya sangat menghargai ‘usaha’ mereka untuk investasi waktu dalam kesempatan belajar ini.

Faktor yang ketiga adalah MENGETAHUI KEBUTUHAN DAN TUJUAN. Ini bedanya pembelajar anak/muda dengan pembelajar dewasa. Pembelajar dewasa telah melalui beberapa waktu dengan cerita hidup yang silih berganti. Dari proses perjalanan itu, mereka akhirnya tahu apa-apa saja yang mereka butuhkan dan menimbang benar apa yang akan mereka lakukan untuk mencapai tujuan. Jika saja kita mendapatkan hikmat untuk mampu mengetahui kebutuhan dan tujuan, hidup kita akan lebih ‘terarah’. Tapi kadang banyak dari kita yang rasanya sudah tahu arah, tapi akhirnya harus berganti pula karena kondisi atau keadaan yang berbeda.

Nah, faktor ketiga ini yang ingin saya garisbawahi dalam tulisan kali ini. Mungkin dulu kita pernah merasa ‘tahu arah’ dan dengan penuh semangat kita menjalani tiap jengkal hidup. Tapi ternyata beberapa waktu kemudian berkata, ‘tampaknya arahnya bukan ke sini’ – dan akhirnya harus mulai dari 0.

Jangan khawatir Pak; selama kita masih bernafas, kita masih diijinkan untuk berjuang.

Begitu kalimat ‘tiba-tiba’ yang saya ucapkan ketika seorang pembelajar di kelas saya sampaikan kasus di atas.

Jangan pernah merasa terlambat belajar sehingga hanya berkutat pada penyesalan, yang akhirnya malah membuat kita semakin terpuruk. Orang merasa terlambat untuk belajar karena ia terlambat mengetahui ‘kebutuhan’ dan ‘tujuan’, mengapa ia harus belajar A, B, C, dan D saat itu. Tapi kehidupan tidak datar saja, selalu ada masa ketika kita menyadari bahwa seharusnya kita lakukan A. B. C atau D di masa lalu. Jangan khawatir, selama kita masih bernafas, kita masih diijinkan untuk berjuang.

Masih beberapa faktor lagi yang saya ambil dari proses belajar di kelas dimana saya dipercaya memfasilitasi. Namun ketiga faktor di atas yang menurut saya paling mengena dan penting untuk kita (yang masih punya lebih banyak kesempatan) perhatikan.

Mari terus belajar. Jadilah seperti bayi yang sedang belajar berjalan, berkali-kali ia jatuh, tapi ia selalu bangkit dan terus berusaha berjalan. Karena ia memang ditentukan untuk mampu berjalan.

Kita semua ditentukan untuk mencapai tujuan. Teruslah berusaha, belajar, dan berefleksi. Selama kita masih bernafas, kita masih diijinkan untuk berjuang.

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s