Mengapa Takut Masuk Sekolah Pendidikan?

Wah, puji Tuhan saya sudah lulus kuliah! (telat banget nulisnya :D)

Sidang skripsi yang saya jalani tanggal 26 juni 2013 lalu mengantarkan saya pada sebuah sukacita mendalam. Bagaimana tidak? Saya bikin skripsi sambil ngesot-ngesot hingga ‘dipungut’ seorang Ibu cantik dan baik yang membimbing saya dengan sabarnya. Bantu ucapkan terima kasih untuk Ibu Vera Syamsi yang luar biasa menguatkan dan menginspirasi ini yuk! Kabar-kabarnya Ibu Vera ini dulu menyandang gelar eh cukup sampai di sini 😀

Sejak 15 Juli yang lalu saya lepas labuh dari institusi pendidikan tercinta dan mendayung perahu di dunia kerja. Puji Tuhan juga, belum wisuda sudah diterima kerja; pula bukan contract, tapi ditawari posisi permanent employee. Jadi sudah kerja 1 bulan baru kemudian wisuda.

Image

Senangnya Ibu dan Bapak datang saat Wisuda :’)

Saat ini saya dipercaya sebagai officer di Training and Development Department di sebuah perusahaan Retail & Commerce di bilangan bunderan HI. Perusahaan di mana saya bekerja ini mengelola office tower, hotel, apartemen, dan mall dalam satu kompleks.

Tugas saya antara lain membuat laporan bulanan dan administrasi training lainnya; juga bantu buat analisa kebutuhan training, mengasistensi manajer saya dalam training kepemimpinan dan topik lainnya, mengelola internship program (termasuk sorting CV, interview mahasiswa/I yang mau magang), dan juga menjadi fasilitator pembelajaran Bahasa Inggris (English for Specific Purpose untuk Operational (Engineer – Security dll) dan juga Business English (untuk office staff)). Jadi kebayang dikit lah ya anak umur 22 tahun dipercaya untuk memfasilitasi pembelajaran mas, mbak, bapak, ibu sampai umur 40 tahunan. Bersyukur banget buat kesempatan belajar hal barunya :’)

Ada rekan yang tanya, ‘Kan kamu sekolah keguruan, kok ga jadi guru sih?’

Nah, itu dia teman-teman yang ingin saya sampaikan di sini. Saya sekolah di STKIP Kebangkitan Nasional (Sampoerna school of Education) sekarang jadi Fakultas Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI). STKIP itu singkatan dari Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan; nah diulang lagi ya belakangnya –dan Ilmu Pendidikan 😀

Sejak dari awal saya percaya bahwa pendidikan itu tidak terjadi hanya di sekolah. Sehingga, menurut saya pendidik itu bukan hanya guru saja. Cuplikan indah yang selalu saya ingat adalah ‘Education is not a preparation of life, Education is life itself’ dari Kang John Dewey. Jadi, kita juga harus memahami bahwa lulusan sekolah Keguruan dan Ilmu Pendidikan / Fakultas Pendidikan punya lapangan kerja yang luas; bukan hanya di sekolah. Contohnya adalah seperti saya, bisa juga jadi fasilitator belajar untuk karyawan di perusahaan-perusahaan, atau rekan saya juga bekerja di NGO pendidikan, sebagai peneliti pendidikan dan lainnya 🙂

Sangat bersyukur bahwa kampus di mana saya belajar memberikan bekal yang luar biasa banyak untuk mendayung perahu di dunia kerja. Dimulai dengan berpikir kritis yang disampaikan Ibu Nisa Farids, multiple intelligences hingga effective learning dari pak Iwan Syahril, resources management dari Ibu Stien Matakupan, hingga pengembangan budaya kekinian dari Ibu Vera Syamsi. Itu semua sangat berguna di dunia kerja guys!

Sedikit cerita tentang pengalaman 2 bulan menjadi fasilitator pembelajaran Bahasa Inggris untuk karyawan apartemen di bunderan HI itu; dalam sebuah sesi seorang Bapak menyampaikan ‘Pak Yosea, saya sekarang semakin percaya diri untuk ngomong sama tenant (customer) walau kadang masih bingung ngomong apa; juga saya jadi semangatin anak saya biar belajar Bahasa Inggris’. Waaah, terharu jadinya. This is what John Dewey said, education is life itself; it changes people to be better one :’)

Image

Dari ruang kelas; kalau lihat lahan tetangga 😀

Masa-masa ini banyak dengar kekhawatiran rekan-rekan, ‘kalau masuk Sekolah Pendidikan ya cuma bisa jadi guru’. Padahal profesi kependidikan itu banyak sekali. Apalagi kalau sekolahnya di Fakultas Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) yang kurikulumnya kaya banget. Kamu bisa aplikasikan materi pembelajaran yang kamu dapat di kelas ke banyak aspek kehidupan lho 😉

Jadi jangan takut masuk Sekolah Pendidikan. Sudah dengar kan kalau Indonesia diprediksikan oleh banyak institusi, utamanya Mckinsey and Company, bahwa tahun 2030 Indonesia akan dalam kondisi kuat ekonominya (7 besar). Tapi pertanyaan yang muncul, siap kah generasi Indonesia jadi pemimpin di negara sendiri? Bukankah pemimpin juga dibentuk oleh pendidikan yang berkualitas? Dan pendidikan berkualitas cuma ada kalau pendidiknya berkualitas. Dengan masuk Sekolah Pendidikan dan bergabung jadi pendidik berkualitas, kamu bantu Indonesia capai mimpi para pendiri bangsa!

Namun demikian, meskipun saya banyak beraktivitas di perusahaan saat ini (menyelami dunia pendidikan di sektor korporasi); melalui Youth Educators Sharing Network (@Youth_ESN) saya terus mencoba berkontribusi untuk pendidikan dalam konteks sekolah. Harapannya saya tetap memiliki keseimbangan pemahaman antara dunia pendidikan di sekolah dan juga di korporasi 🙂

Ayo gabung Sekolah Pendidikan, jangan takut jadi pendidik 😉

@yosea_kurnianto

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa Takut Masuk Sekolah Pendidikan?

  1. Gue suka tulisan ini. Smoga bisa menyamai bahkan melebihi kesuksesanmu, itu harapanku.

  2. Congraduation yaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s