Kalau Kamu (Masih) Seorang Pramuka di Abad Ini, …

Ini sudah telat beberapa hari, mohon maaf ya baru ucapkan ‘Dirgahayu Gerakan Pramuka’ yang ke-52! HEBAT! Gerakan pendidikan yang berusaha mencetak generasi muda yang santun dan berkualitas ini telah memberikan kontribusi yang luar biasa besar dalam pembangunan bangsa Indonesia. Memang gerakan ini telah banyak berkontribusi, tapi saya ingin mengajak kita urusi hal personal kita saja. Apakah kamu seorang Pramuka? Apakah kamu sudah terbilang ‘ikut serta’ dalam kontribusi pembangunan bangsa Indonesia?

Saya memiliki rekan yang sangat beragam, dari yang keluarganya (kakek-nenek, orang tua, paman-tante, dan anak-anaknya) Pramuka; dari yang ‘terpanggil’ sampai ‘terpaksa’ jadi Pramuka, hingga yang tidak pernah ikut kegiatan Pramuka dalam masa hidupnya. Tetapi kekaguman saya pada rekan-rekan saya adalah; mereka percaya bahwa Kepramukaan tidak terbatas pada seragam, teknik kepramukaan (morse, semaphore, tali temali yang diajarkan masa SD-SMP – yang banyak rekan saya mengaku sudah lupa), hubungan/interaksi dengan stakeholders Gerakan Pramuka, atau hal ‘tampak’ lainnya; tetapi lebih kepada semangat pembangunan dan kontribusi pada masyarakat yang tertanam dalam dirinya.

Image

Bantu jadi fasilitator di sebuah workshop terkait melayani masyarakat dari WOSM – Asia Pacific Region office

Saya pribadi sangat hormat pada Gerakan Pramuka karena sejak SD hingga SMA saya belajar banyak dari aktivitas Kepramukaan di Kwarcab 11.23 Temanggung. Aktivitas Kepramukaan-lah yang membuat saya berkegiatan keluar kota Temanggung, mendapat beberapa penghargaan lomba, dan yang terpenting, mampu menghargai keberagaman. Hingga saya kuliah di Jakarta, saya sempat belajar banyak dari Kwartir Nasional. Hanya saja, saya merasa kurang bertanggung jawab dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas dengan baik. Saya akui ini.

Image

Laporan ketua panitia lomba Pramuka tingkat Penggalang di Kwarcab Temanggung 😀

Image

Muka sedih karena cuma dapat juara 2 😀

Image

‘Ayo gemukin badan’ kata Pramuka Tertinggi ini 🙂

Hal yang ingin saya diskusikan saat ini adalah, sesuai judul tulisan ini, kalau kamu (masih) seorang Pramuka di abad ini … – hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan? Saya ingin berbagi beberapa hal, mengenai bagaimana menjadi seorang Pramuka yang berkembang. Bukan bermaksud menggurui atau merasa sok hebat atau pintar; saya hanya ingin berbagi hasil renungan atas pengalaman kepramukaan saya yang sangat sedikit ini. Below are some thoughts of mine in regards to become a 21st century Scouters:

A. Make a horizontal line!

Guys, berapa kali saya ketemu anggota Pramuka di banyak daerah dan mereka merasa ‘paling keren’. Well, ga ada salahnya merasa keren (penting juga punya self-esteem yang cukup) – tapi jangan terlalu sempit berpikir bahwa kalau sudah ikut Gerakan Pramuka, cukuplah berteman dengan orang-orang Pramuka saja. Atau bahasa yang sering dilontarkan rekan-rekan saya ‘Pramuka itu terlalu eksklusif’. So guys, abad ini menggarisbawahi pentingnya hubungan garis sejajar – bukan vertikal. Jadilah seorang Pramuka yang bersahabat dengan siapa saja.

B. Jadi Pelayan Masyarakat

Semenjak ikut aktivitas Kepramukaan di desa metropolitan Temanggung, dalam hidupku ditanamkan konsep bahwa Pramuka adalah unsur masyarakat yang penting karena bertindak sebagai motor pembangunan daerah, atau istilah kerennya sekarang ‘pelayan masyarakat’. Jadi, dalam pemahamanku, kegiatan Kepramukaan selayaknya memberikan kontribusi secara kontinyu. Sudah berapa lama saya latihan di Gudep/Ambalan/Racana ini? Sejauh mana hubungan saya dengan masyarakat di mana gudep/ambalan/racana saya berada? – Pertanyaan-pertanyaan seperti yang perlu kita refleksikan terus menerus.

C. Miliki Semangat Inovasi

Seorang rekan saya bertanya dalam sebuah obrolan, ‘bro, kenapa anak-anak di sekolah itu latihan Pramuka masih belajar semaphore, morse, dan hal-hal jadul lainnya? Emangnya masih kepake ya gitu-gituan?’ – Kalau saya jelasin panjang lebar fungsinya, belum tentu beliau-beliau ini mau dengerin. Tapi kalau misal saya kasih contoh, ‘ah nggak juga, mereka juga belajar cara pake Skype dan jejaring dengan Pramuka dari negara lain; belajar bikin digital story telling untuk bantu teman-teman yang berkendala vision impairment untuk dengerin fabel, dan lainnya kok’ – mereka tentu akan terkesima dan salut dengan apa yang dilakukan teman-teman Pramuka di sekolah tersebut. Banyak fasilitas dan perubahan yang terjadi, kita musti ikuti perkembangan jaman. By the way, mau salut dulu sama Ketua Dewan Kerja Nasional saat ini yang telah menggelorakan komunikasi digital antar Dewan Kerja se-Indonesia. Termasuk meriahkan JOTI 2013 ini dengan twitter. Ayo follow beliau di @yudhady28 😉

D. Jadilah Pembelajar Seumur Hidup!

Kata petani apel Steve Jobs, kita perlu ‘stay hungry, stay foolish’, jangan pernah puas saat kamu misal jadi bagian dari Dewan Kerja, atau terdaftar sebagai Pramuka Garuda, atau mendapat penghargaan apapun dari mana pun. We all need to understand, kalau dari poin 1-3 itu benar-benar terjadi dalam masyarakat kita. Perubahan sosial, alam, ekonomi, dan kesejahteraan saling terkoneksi dan terjadi setiap waktu. Mungkin kita juga salah satu yang meneriakkan perubahan, tapi akhirnya tertinggal karena kita hanya berteriak, tak pelajari dan jadi bagian dari perubahan itu. Karena Pramuka adalah bagian dari masyarakat, ia perlu mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang terjadi dan bahkan diperlukan. Anggota Pramuka akan selalu melengkapi dirinya untuk setidaknya, jika tidak menginisiasi, ikut serta / berkonkontribusi pada proses perbaikan kondisi masyarakat itu. Proses melengkapi diri ini memerlukan semangat belajar yang tinggi. Seorang pembelajar akan memiliki pemikiran terbuka dan kesempatan berkembang yang luas.

E. Isi Sendiri Ya! 😀

——-

Well, guys, basically abad 21 ini, dalam www.p21.org, menekankan kepemilikan 4 skills utama untuk anak muda; yakni:

  1. Penguasaan tema-tema Global, seputar kesadaran/pemahaman global; pengetahuan keuangan, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan;  pengetahuan sipil dan/atau kemasyarakatan; pengetahuan kesehatan; serta pengetahuan lingkungan hidup.
  2. Kemampuan belajar dan berinovasi yang terdiri dari kreativitas dan inovasi, berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah, serta komunikasi dan kolaborasi.
  3. Kemampuan berkomunikasi dengan mengolah informasi, media, dan teknologi (ICT).
  4. Kemampuan hidup dan karir, yang terdiri dari kemampuan beradaptasi dan fleksibelitas; penguasaan diri dan inisiatif;  kemampuan sosial dan penghargaan atas keberagaman; produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab.

Nah, saya pribadi percaya aktivitas Kepramukaan sebenarnya punya 4 poin di atas. Hanya saja banyak dari kita yang, sebut saja, salah fokus. Kita berpusing pada kegiatan apa yang asyik, tetapi mulai menjauh dari esensi dan tujuan aktivitas Kepramukaan itu sendiri. Dan 4 thought points saya di atas (A-D) jika dicoba aplikasikan akan melibatkan pelatihan dan kepemilikan 4 skills ini. Tentu saja, ini hanya pendapat dan saran dari saya, saya percaya teman-teman anggota Pramuka lainnya juga punya strategi tersendiri.

Intinya, kalau kamu (masih) seorang Pramuka di abad ini, dari saya, jadilah Pramuka yang sesuai (dan dibutuhkan) di abad ini! Selamat Hari Pramuka ke-52! Semangat berkontribusi untuk masyarakat dan negeri, dalam bentuk apapun, sesuai kapasitas kita! 🙂

Image

Jangan ditiru, alay banget 😀

SAYA SEORANG PRAMUKA ;D
@yosea_kurnianto

Advertisements

2 thoughts on “Kalau Kamu (Masih) Seorang Pramuka di Abad Ini, …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s