Sebuah Perenungan: Membenci Diri Sendiri

Jakarta, 9 Mei 2013 – Hari ini bertepatan dengan hari yang dipercaya sebagai kenaikan Isa Almasih. Selamat merayakan untuk rekan-rekan Nasrani 😉

Sebelum Nabi Isa (saya biasa panggil dengan Yesus Kristus) disalib, mati, bangkit, dan naik ke Surga, banyak kisahnya dalam buku suci umat Nasrani (Alkitab) yang menginspirasi hidup saya. Salah satu yang ingin saya utarakan dalam tulisan ini adalah tentang hukum yang utama dan yang terutama.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Itulah petikan dari jawaban Nabi Isa untuk beberapa orang yang bertanya padanya mengenai hukum apa yang paling utama untuk mereka kerjakan dalam hidup. Hari ini menjadi perenungan buat saya, ketika saya menyadari bahwa sering sekali saya melanggar hukum ini; terutama yang lebih mudah dilakukan bagi saya, yaitu hukum yang kedua.

kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” – Bukankah ini menyiratkan sebuah proses? Yang mana untuk mencintai sesama, kita harus paham bagaimana mengasihi/mencintai diri sendiri. Jika kita tidak mengerti bagaimana mencintai diri kita sendiri, mungkin kita akan kehilangan konsep untuk mencintai orang lain.

Bagaimana kita mencintai diri sendiri? Mungkin kalimat ini klise: ‘Tak kenal maka tak sayang’ – jadi kunci awalnya adalah mengenal diri sendiri. Observasi saya sejauh ini, perlu usaha dan waktu untuk seseorang mengenal dirinya. Bukan saja hal-hal yang administratif seperti nama, tempat tanggal lahir, daftar keturunan, dan lainnya, tetapi lebih kepada mengenali keadaan 3 unsur dalam dirinya: tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh bicara soal bagaimana anda tampak keluar, jiwa terkait dengan sisi dalam anda yang memacu pikir, rasa, dan karsa, roh adalah tentang hubungan anda dengan Oknum yang anda percaya sebagai Pencipta.

I hate my self

Pict source: favim.com

Baru saja seorang sahabat memberikan informasi kepada saya bahwa ia baru saja dari rumah sakit kanker. Dokter memberitahu bahwa ada sebuah tumor dalam bagian tubuhnya dan ia harus segera operasi. Pertanyaan saya paling awal adalah: ‘Apakah orang tuamu tahu hal ini?’ – Ia bilang bahwa ia tidak ingin orang tuanya tahu, bahkan ia hanya memberikan informasi ini kepada beberapa orang saja. Alasannya terdengar sederhana, ‘Sampai umurku 22 tahun ini, aku cuma jadi beban untuk orang-orang di sekitarku, dan aku ga mau menambah beban mereka dengan menceritakan hal ini’.

Ia menambahkan ‘Beberapa tahun terakhir aku justru berdoa supaya aku dikasih sakit parah, sehingga orang-orang yang mulai melupakanku akan teringat padaku lagi. Tapi sekarang saat aku dikasih sakit ini, aku malah ga tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu ini adalah hukuman Tuhan untukku, apa yang aku lakukan memang selalu salah’ – Kalau anda jadi saya, apa yang akan anda katakan pada rekan saya ini?

Saya belajar banyak dari perkataan rekan ini. Terkait dengan paragraph-paragraf awal ini, yakni mengenal diri untuk mengasihi diri sendiri dan kemudian mengasihi orang lain. Saya melihat bagaimana sahabat saya ini mulai tidak mencintai dirinya sendiri dan bahkan memberikan pengenalan terhadap diri dari sisi yang kurang membangun. Ia melihat dirinya menjadi beban, bukan sebuah harapan yang dapat diandalkan orang tua atau orang-orang di sekitarnya.

Saat seseorang mulai membenci dirinya sendiri, ia sedang menutup pintu-pintu berkat untuk dirinya dan kemampuan untuk memberkati orang lain. Ia akan menemukan dirinya tidak berguna, tidak berdampak, hanya menjadi beban, atau bahkan bagian dari masyarakat yang tidak perlu diperhitungkan. Ini adalah sebuah kesalahan besar dari seorang manusia, terutama anak muda.

Namun, saya pribadi tidak memiliki obat khusus untuk menaklukkan penyakit membenci diri sendiri ini. Saya akui, dalam beberapa fase hidup, saya menjumpai masa dimana saya berpikiran negative tentang diri saya dan mulai membenci diri; sehingga menutup pintu berkat yang membuat saya tidak produktif. Tapi sejauh ini, belajar bersyukur mungkin menjadi obat yang berkhasiat.

Pernahkah teman-teman memiliki masa dimana anda membenci diri sendiri? Apa yang kemudian terjadi atau apa yang anda lakukan untuk menghadapi ini? 🙂

@yosea_kurnianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s