Melahirkan kembali Indonesia Raya (Sebuah Litani Buat Guru Bangsa)

Jakarta, 30 Januari 2013 – Halo teman-teman pendidik bangsa, sore ini saya kembali melanjutkan asyiknya membaca buku 10 Windu Prof. Tilaar: Pendidikan Nasional: Arah ke Mana? (2012). Buku ini merupakan kumpulan tulisan rekan dan sahabat Prof. Tilaar tentang pendidikan Indonesia dari berbagai perspektif. Banyak sekali hal menarik yang saya temukan, salah satunya adalah yang ingin saya bagikan di bawah ini.

Saya membuka lembaran yang ditulis oleh Bapak Jakob Oetama, salah satu pendiri surat kabar Kompas. Dalam paragraf tiga sebelum akhir, beliau mengungkit sebuah judul sajak dari Prof. Winarno Surakhmad yang beliau tulis 27 November 2005. Menurut pak Jakob, bangsa ini punya penyakit amnesia akut. Perjuangan-perjuangan positif untuk pendidikan termasuk segera dilupakan oleh masyarakat, sehingga susah untuk kontinyu.Nah, ini saya catat di sini supaya ga cepat lupa 😀

Ini sajaknya Prof. Winarno Surakhmad yang berjudul “Melahirkan kembali Indonesia” (Sebuah Litani buat Guru) yang saya co-pas dari sebuah blog bernama abdulrahmansaleh.com (karena dalam buku hanya disebutkan judulnya saja, jadi saya cari di ‘google’).

Image

Melahirkan kembali Indonesia Raya (Sebuah Litani Buat Guru Bangsa)
Oleh Prof. Dr. H Winarno Surakhmad,M.Sc.Ed

(DI KELAHIRANNYA)
Sampai kemarin,
Ketika… semua babi rusa,
Komodo dan badak bercula,
hidup  terlindung petaka
dalam satu undang-undang
Guruku malang,

Sebagai malaikat yang tirakat
hidup penuh hampa:
tanpa perlindungan
sepenggal undang-undang

(DI DUNIANYA)
Tanpa sebuah kepalsuan
semua guru meyakini
guru artinya ibadah
Tanpa sebuah kemunafikan
semua guru berikrar
mengabdi kemanusiaan

Tapi dunianya… ternyata tuli
Setuli batu… tak berhati
Otonominya, kompetensinya, profesinya,
Hanya sepuhan pembungkus rasa getir.

Tatkala dunianya tidak bersahabat
tidak mungkin menjadi guru yang Guru,

hingga ketika guru syuhada,
tiada tempat di makam pahlawan!

(DI HATI KECILNYA)
Dengan sikap terbata-bata
Dengan suara tersendat-sendat
Dengan hati tersumbat darah
Guru bertanya dalam gumam
Mungkinkah berharap yang terbaik
dalam  kondisi yang terburuk?

Bolehkah kami bertanya
apa artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya tanpa disapa?

Kapan sekolah kami
lebih baik dari kandang ayam!
Kapan pengetahuan kami
Bukan ilmu kadaluwarsa!

Mungkinkah berharap yang terbaik
Dalam kondisi yang terburuk?
Kenapa… ketika orang menangis
kami harus tetap tertawa?

Kenapa… ketika orang kekenyangan
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi,
didengar ketika berbicara,
dihargai layaknya manusia,
tidak dihalau ketika bertanya?

Tidak mungkin berharap yang terbaik
dalam  kondisi yang terburuk!

(DI BATU NISANNYA)
Di Sejuta nisan guru tua
yang terlupakan oleh sejarah
terbaca orehan dahan kering:

“ Disini… berbaring seorang guru
semampu… membaca buku usang
sambil belajar.. menahan lapar
hidup sebulan… dengan gaji sehari”
Itulah nisan sejuta guru tua
yang terlupakan oleh sejarah
kematiannya tidak ditangisi,

tiada bunga, tiada meriam,
tiada doa, tiada… in memoriam!
Seorang guru tua
dari sejuta sejarah

(DI MATA BANGSANYA)
Bangkitlah, bangkitlah guruku
Kehadiranmu tidak tergantikan.
Biarlah dunia ini menjadi saksi :

Kau bukan guru negeri
Kau bukan guru swasta
Kau adalah GURU BANGSA!!!

Kalau engkau mulia, kalau saja engkau mau
Memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik

Kalau saja engkau mau
Memanusiakan manusia,
Membudayakan bangsa,
Mengindonesiakan nusantara:

Satu generasi di tanganmu
Seagung sebuah Maha Karya
Satu besok menunggumu
Indah dari seribu kemarin!

Maha Guru bangsa ini: Sekaranglah waktumu!

Silahkan untuk di-interpretasi-kan masing-masing 🙂
@Yosea_Kurnianto
This note is dedicated to the new generation of educators
in @SSE_Education @USBI_Indonesia (esp. intake 2009) and all over the world 🙂
Semoga semangat menjadi pendidik (guru atau apa pun) terus menyala meski sebentar lagi lulus 😀

Photo by: @radianekipur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s