Sebuah Cerpen: Maryati si Kembang Desa

Menyeringai dahiku ketika kembali mendengar suara tangis dari di saung sebelah rumah sore itu. Semenjak aku tinggal di rumah ini seringkali kudengar gadis berusia 16 tahun yang terkenal akan parasnya yang elok itu menangis. Aku memang pendatang baru di desa ini. Jika bukan karena tugas untuk mengatasi penyakit malaria yang sedang marak, aku tak mungkin ada di sini. Mungkin aku sedang memeriksa penyakit orang berkelas menengah ke atas di ibukota. Desa Bendo terletak di pinggir hutan yang dialiri sungai yang masih perawan.

Aku menikmati keberadaanku di desa Bendo ini. Selain rumah nyamanku yang dekat mata air utama bagi penduduk, warga desa sangat ramah dan baik hati. Tak jarang aku dikirimi makanan dan beberapa hasil cocok tanam oleh warga. Sering aku habiskan waktu luangku untuk duduk dan membaca buku di saung sebelah rumah. Saung ini dibangun oleh warga untuk mengawasi anak-anaknya yang bermain dan berenang di mata air desa itu. Sungguh terkesima aku dengan warga yang rukun dan ramah ini. Anak-anak berlaku sopan, pemuda-pemudi tak urakan, dan orang tua tak semena-mena. Apa bisa aku temui di ibukota?

Namun kekagumanku ini terhenyak pada saat aku menghampiri Maryati, gadis yang sedang menangis di saung. Paras eloknya dikenal di seluruh desa, bahkan hingga ke desa tetangga. Namun sependengaranku dari ketua RT setempat, Maryati juga dikenal dengan kesopanannya dan kecerdasannya. Meski ia hanya seorang anak pembantu rumah tangga dan ayahnya seorang petani, ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapat untuk mengenyam pendidikan dasar. Ia baru saja lulus SMA dan ingin melanjutkan belajar di pendidikan tinggi.

“Kamu Maryati kan? Kenapa kamu menangis?” tanyaku sambil duduk bersila di saung. Aku membawa kendi air minum dan beberapa potong singkong rebus. Dia tak menjawab pertanyaanku dan terus saja menunduk menangis dengan merangkul lututnya. Sudah cukup lama aku duduk dan menunggu suara tangis itu reda, namun tak kunjung berhenti. Aku pun mendekat dan mengangkat kepala Maryati. Kuseka air matanya dengan jemariku dan kupandang mata yang begitu memukau itu. “Kamu bisa ceritakan masalahmu kepadaku, Mar” sambil kusodorkan segelas air dari kendi untuk menenangkannya. “Terima kasih dok, tapi masalah saya ini mungkin masalah tidak penting. Nasib saya sebagai wanita memang tidak bisa dipungkiri.” jawabnya setelah meneguk air.

“Jangan kau bicara seperti itu, sekiranya aku bisa membantumu, aku akan lakukan sepenuh hati.” aku mencoba sedikit memaksanya untuk bercerita. “Ah, dokter sudah terlalu baik untuk desa ini. Sebelum dokter kemari banyak anak meninggal karena malaria, sekarang warga desa sehat semua. Saya dengar bahwa dokter kemari tak dibayar, itu yang membuat saya semakin kagum dengan dokter. Hanya akan menambah beban jika saya bercerita bahkan minta tolong kepada dokter.” Maryati kembali mengeluarkan sinyal menolak. “Hidupku ini penuh keberuntungan, aku bisa menjadi dokter bahkan sampai di sini juga karena bantuan orang lain. Hidupku tak akan berarti jika aku tidak melakukan kebaikan yang orang lain pernah lakukan untukku.” Kata – kata itu keluar dari mulutku karena mengingat masa laluku yang sangat luar biasa. Tentu saja, aku bisa menjadi dokter karena bantuan orang-orang baik. Ibuku yang seorang pemulung tidak pernah sekalipun tersentuh pendidikan, bahkan belum bisa membaca hingga sekarang. Ayahku seorang tukang becak setiap hari pulang membawa uang yang hanya cukup untuk makan sehari, bahkan kadang kurang. Kehidupanku terbilang rumit, namun ibuku adalah sosok yang paling menginspirasiku.

Meski tak mengenyam pendidikan formal di sekolah, kebijaksanaan beliau melebihi mereka yang duduk di Senayan. Kata – kata ibu bagaikan mutiara mahal yang selalu membuatku kaya, rasa syukurnya terhadap segala sesuatu yang dimiliki membuatku mengerti untuk apa hidup ini. “Engkau diciptakan bukan untuk bersenang-senang di dunia ini nak, tapi untuk bersyukur dan melakukan semua hal yang baik. Itu memang susah, tapi dengan kasih dan iman kita bisa.” kata ibuku. “Apa benar tak apa jika aku cerita masalahku ke pak dokter?” Maryati mulai memberanikan dirinya bertanya. “Tentu saja, daritadi aku menunggu ceritamu”. Warna jingga di ufuk barat menguatkan suasana sendu di desa ini. Aku menduga sesuatu cukup berat menimpa Maryati.

Kicau kumpulan burung di atas pohon dekat saung yang terdengar bersukacita nampak mengejek Maryati mengapa ia menangis. Namun burung – burung itu mengerti suasana dan segera pergi meninggalkan kami. “Aku ingin kuliah dok. Aku ingin menjadi orang yang berguna buat orang lain. Ayah dan ibu memang sudah berkali-kali bilang kalau mereka tak akan sanggup membiayaiku kuliah. Aku juga sadar akan keadaan ini, tapi entahlah, kuat sekali inginku kuliah. Tempo hari ada lelaki kaya dari desa tetangga desa untuk melamarku menjadi istrinya. Ayah dan Ibu memang belum memberi jawab kepada lelaki itu. Mereka masih menunggu keputusanku. Hanya saja, lelaki itu memberikan waktu kepada kami hingga besok pagi. Ayahku sudah berhutang banyak uang kepada lelaki itu, jika aku mau menikah dengannya, hutang ayahku lunas. Memang aku akan berguna buat keluargaku dalam hal pelunasan utang itu, namun aku tak mau dok. Aku mau kuliah dulu, bekerja, dan membantu ayah membayar hutang.” Dia mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata.

Alisku kembali menyeringai, hal yang biasa kulakukan ketika befikir sesuatu yang cukup serius. Aku mencoba memposisikan diriku menjadi seorang Maryati yang sedang menemui persoalan itu. “Kamu ingin kuliah jurusan apa? Ingin jadi apa kamu nantinya?” tanyaku padanya. “Inginku jadi guru dok, aku ingin mengajar para wanita desa biar mereka pintar.” jawabnya. Citanya menusuk dalam alam pikirku yang pernah pula kudengar dari seorang wanita lainnya. Sartinah, ya Sartinah namanya. Gadis yang pernah duduk sebangku saat SMP. Kabar terakhir yang kudengar ia kini menjadi relawan di desa – desa terpencil untuk mengajar. Kisahnya membuatku kagum.

“Maryati, aku akan coba pikirkan apa yang bisa aku lakukan untukmu. Namun aku belum bisa berjanji apa-apa.” ucapku untuk menenangkannya. “Dok, tapi aku tak mau menikah dengannya dok. Aku mau kuliah.” Maryati menyampaikan keinginannya kembali dengan tangisan. “Baik, baiklah Mar. Kamu jangan kuatir, besok pagi-pagi kamu datang kemari lagi. Malam ini aku akan pikirkan yang terbaik yang bisa kulakukan. Sekarang kamu pulang dan bersihkan dirimu. Istirahatlah dan jangan banyak berfikir.” “Tapi dok, besok..” potongnya. “Sudah, kamu menurut saja apa yang aku katakan. Pernah aku berbohong pada warga desa ini Mar? Kamu percaya kah sama aku?” aku coba yakinkan dia. “Iya dok, aku percaya. Besok pagi saya ke sini lagi ya dok.” Maryati mengusap air matanya dan berjalan pulang dengan menunduk. Mungkin ia masih sangat khawatir dan berfikir apa yang harus ia lakukan esok hari.

Aku kembali ke rumah, mengambil handuk dan mengguyur tubuhku dengan air segar dari gentong di kamar mandi. Ringan kembali rasanya pikir ini. Otakku terus berfikir apa yang bisa aku lakukan untuk Maryati. Aku ingin cerita ke ayah dan ibuku, namun mereka masih belum melek teknologi, sehingga tak bisa aku tinggalkan telepon genggam dirumah. Aku kemudian menelepon rekan-rekan seprofesiku yang bekerja di kota – kota. Kami memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Aku ceritakan segala hal dan kusampaikan rencanaku. Pengalaman organisasi semasaku sekolah membuatku cepat berfikir dan menimbang untuk mengambil keputusan yang terbaik. Rekan-rekanku akhirnya menyatakan dukungan mereka terhadap rencanaku. Aku tutup telepon genggamku setelah kubercakap dengan rekan terakhir yang kuhubungi.

Biasanya jam 22.00 aku sudah menuju dipan dan membaringkan badanku. Namun kali ini aku duduk di teras dan memandang bintang yang tersebar di langit yang pekat. Bintang-bintang itu nampak tebarkan senyum mereka padaku seraya memuji keputusan yang sudah aku ambil. Atau itu hanya perasaanku yang terlalu berangan? Suara jangkrik menemaniku berfikir mengenai langkah-langkah yang harus aku ambil agar esok pagi tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Di teras tersebut juga aku berdoa memohon kepada Tuhan supaya aku diberi hikmat dalam berkata-kata.

Kokok ayam membangunkan aku dari tidurku. Aneh, pintu rumah terdengar diketuk oleh seseorang. Dengan keadaan badan yang masih cukup lemah, aku membuka pintu dan terkaget oleh sosok Maryati di depan pintu. “Dok, bagaimana dok?” tanya dia. “Masih terlalu pagi Mar, maksudku kamu datang ke saung pukul tujuh atau delapanan.” “Tapi lelaki itu akan datang pukul setengah tujuh dok.” balas Maryati. “Hmm, baiklah. Masuk dan duduklah Mar.” kataku sambil mempersilakan dia duduk. “Dengarkan aku Mar, mau kamu berkuliah di kota? Menjadi guru?” Iya dok.” Aku melanjutkan percakapan,”Aku akan bilang ke ayah dan ibumu bahwa aku akan membiayai kuliahmu. Ups, bukan aku, tapi teman-teman seprofesiku di kota akan membiayaimu kuliah. Aku tak bisa membiayai kuliahmu, karena aku bertugas di sini tanpa bayaran. Ayah dan ibuku bukan orang berada. Teman-temanku yang akan membiayaimu.” Maryati berseri, namun kembali menciut, “Bagaimana dengan hutang ayahku dok, itu yang membuatku sangat takut untuk harus menikah dengan lelaki yang tak kukenal.” “Baiklah, aku akan langsung jelaskan pada ayahmu. Aku berganti pakaian dan mencuci mukaku dahulu. Setelah itu antar aku bertemu ayah dan ibumu.” kataku setelah melihat jam yang mendekati waktu kedatangan lelaki itu.

“Lho, pak dokter tumben sekali kemari. Ada masalah apa dok? Loh, kok sama Maryati? Ngopo kowe nak? Eh, mari mari, monggo masuk dok.” sambut pak Tarno, ayah Maryati. Aku duduk di kursi ruang tamu yang sudah sobek di beberapa titik. Rumahnya sangat sederhana, mengingatkanku akan rumah tempat aku bertumbuh dahulu. Aku duduk di samping Maryati, berseberangan dengan pak Tarno yang duduk di sebelah istrinya. “Begini pak, bapak pernah dengar Maryati ingin kuliah?” tanyaku. “Sering dok, lha tapi saya sudah bilang kalau ga ada biaya dok. Lagipula saya ada hutang sama orang yang mu nikahin Maryati. Kalau saya sih ya mending Maryati nikah sama orang itu, jadi hutang saya lunas dok.” jawab pak Tarno. Maryati terlihat menunduk dan mengisak kembali. Aku memegang tangan Maryati untuk menenangkannya. “Boleh saya tahu hutang Bapak ke orang itu?” tanyaku kembali. “Ah dokter, mmm.. Saya bisikin saja ya dok, dua juta dok.” katanya sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Baik jika begitu pak, saya ingin meminta ijin beberapa hal pak. Semoga pak Tarno mengabulkannya.” ucapku dengan hati-hati. “Ah, dokter kan sudah sangat baik buat keluarga kami, juga buat desa ini. Apa saja yang dokter minta dan saya bisa lakukan ya saya lakukan dok.” Pak Tarno menjawab. “Pak Tarno, saya meminta ijin untuk menyekolahkan Maryati di kota, biar ia mencapai cita-citanya menjadi guru. Yang kedua, saya akan membayar hutang pak Tarno kepada lelaki itu. Jangan bapak ijinkan lelaki itu menikahi Maryati. Apa bapak sanggup?” tanyaku serius. Pak Tarno memandang istrinya dan terlihat berfikir. Istrinya membisikkan sesuatu ke telinga beliau. Mereka kini berunding dalam bisikan. Belum mereka usai berunding, lelaki yang ditakutkan Marina datang bersama beberapa orang. Tanpa sopan santun ia masuk ke rumah dan bertanya kepada pak Tarno. “Gimana no, anak ente nikah aja sama ane. Hutang ente lunas! Hahaha..” Sambil ia tending kursi kosong yang ada di depannya.

Pak Tarno nampak bingung, begitu pula istrinya. Maryati makin menunduk dengan isakan tangisnya. Aku geram. Orang itu makin menjadi tertawanya. Akhirnya aku bangkit dan mengeluarkan dompetku. Aku ambil uang dua juta simpananku yang seharusnya aku kirim untuk ayah dan ibuku, serta untuk bertahan hidup di desa itu. Aku berikan pada orang itu sambil berkata, “Bung, ini hutang pak Tarno. Silahkan ambil dan tinggalkan rumah ini. Maryati adalah calon istri saya. Anda tidak berhak mendapatkannya.” Orang itu melotot menatap mataku. Aku balas melotot tanpa takut. “Hahaha, dasar orang bodoh! Menikah kok sama gadis miskin! Ah, yasudahlah, mana uangnya. Ayo kita pergi dari sini. Cari gadis lain untuk dinikahi, gampang! Ahahaha…” Ia pun pergi dari rumah itu sambil terus tertawa terbahak-bahak.

Aku duduk kembali dan merasa rikuh dengan pak Tarno. “Dokter benar mau menikahi Maryati?” tanya istri pak Tarno. “Tidak bu, tadi saya hanya menggertak supaya ia pergi. Saya hanya ingin Maryati bisa berkuliah hingga sukses. Bapak dan Ibu tak perlu khawatir tentang kehidupannya nanti. Rekan – rekan sayan yang akan mendukung. Maryati layak menerimanya.” jelasku. “Maryati, mau kamu kuliah?” tanya pak Tarno. “Mau pak..” Maryati menjawab sambil mengangkat kepalanya.

Seperti itulah kisahku bertemu istriku yang kini mendirikan dan mengelola panti asuhan khusus perempuan. Ia mengajar dan membimbing anak-anak itu dengan penuh kasih saying dan memang benar, semua perempuan asuhan istriku berprestasi. Wanita kadang disepelekan, tapi bom prestasi selalu siap meledak dalam diri mereka.

Jakarta, April 2011
Ditulis untuk Kartini Dewantara CelebrationSampoerna School of Education

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s